Setiap manusia pasti bertemu kematian. Setiap manusia juga pasti pernah melakukan kesalahan, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Terkadangan kesalahan yang dilakukan orang itu suka diperbincangkan. Ada banyak alasan kenapa harus diperbincangkan, bisa untuk renungan, bisa juga untuk melampiaskan ketidaksukaan, dan lain-lain. Makanya, dalam Islam, pada asalnya dilarang untuk membicarakan kesalahan dan keburukan orang lain. Apalagi kalau orang itu sudah meninggal.

Dalam hadis riwayat Muslim dikatakan:

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis yang lain disebutkan:

اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم

“Sebutlah kebaikan orang yang meninggal dan tahanlah dirimu untuk tidak membicarakan keburukan mereka” (HR: Abu Daud dan Al-Tirmidzi)

Kalau ada saudara, teman, atau tetangga kita yang sudah meninggal, alangkah baiknya kita sebagai manusia yang masih hidup untuk tidak membicarakan keburukan dan kesalahan mereka. Toh, mereka juga sudah meninggal, dan apa yang sudah mereka lakukan sudah tidak bisa diperbaharui lagi, dan mereka sudah mendapatkan balasan dari Allah terhadap apa yang sudah mereka lakukan selama hidup manusia.

Pada hadis yang kedua diingatkan, agar kita mengingat kebaikan mereka, dan menahan diri untuk tidak membicarakan keburukan dan kesalahan mereka. Kebaikan boleh dibicarakan agar menjadi pelajaran dan bisa ditiru banyak orang. Dengan mengingat kebaikan dan jasa orang yang meninggal, mungkin juga memotivasi orang lain untuk mendoakan mereka. Tapi kalau keburukannya yang diingat, mungkin ada banyak orang juga keberatan untuk mendoakan mereka.