oleh Ustadz. Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary hafidzahullah

Belakangan ini, musibah demi mudibah semakin kerap melanda negeri ini. Dan sebentar lagi, terkait dengan ritual tahunan yang termasuk puncak kesyirikan dan kekufuran, yaitu Hari Natal “Hari Kelahiran Tuhan”, wallâhi (demi Allâh) nyaris langit itu pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh dengan sebab ucapan dan perbuatan mereka.

Sesungguhnya apa yang mereka ucapkan tersebut termasuk deretan perkataan yang paling kotor yang pernah diucakan lisan-lisan anak manusia. Maha Suci Allâh -‘Azza wa Jalla- dari apa yang dituduhkan lisan-lisan mereka.

Allâh -‘Azza wa Jalla- berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا _ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا _ تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا _ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا _ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا.

Mereka berkata : ‘Ar-Rahmân (Tuhan Yang Maha Pemurah) mempunyai anak.’ Sesungguhnya (dengan sebabnya) Kalian telah melakukan suatu perbuatan yang sangat mungkar. Hampir-hampir saja langit itu pecah karena ucapan tersebut, dan bumi terbelah, kemudian gunung-gunung runtuh, disebabkan mereka mengatakan Allâh Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Allâh Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. [ QS Maryam : 88-92 ]

Ka’ab Ibnu Mâlik -Radhiyallâhu ‘Anhu- berkata :

غضبت الملائكة، واستعرت جهنم، حين قالوا ما قالوا. _ تفسير الطباري : ٢٥٨/١٨.

Para Malaikat murka, dan neraka bergejolak ketika mereka mengatakan apa yang mereka katakan (bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- memiliki anak). [ Tafsir Ath-Thabâry : 18/258 ]

‘Abdullâh Ibnu ‘Abbâs -Radhiyallâhu ‘Anhumâ- berkata :

إن الشرك فزعت منه السماوات والأرض والجبال ، وجميع الخلائق إلا الثقلين ، فكادت أن تزول منه لعظمة الله ، وكما لا ينفع مع الشرك إحسان المشرك ، كذلك نرجو أن يغفر الله ذنوب الموحدين. __ تفسير الطباري : ٢٥٨/١٨.

Sesungguhnya kesyirikan itu membuat langit, bumi, gunung-gunung dan seluruh makhluk kecuali (sebagian) jin dan manusia benar-benar merasa sangat takut; dan nyaris hacur-lebur karenanya disebabkan mereka mengetahui keagungan Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan, sebagaimana kebaikan orang-orang musyrik itu tidak bermanfaat disebabkan kesyirikan mereka, maka Kita berharap Allâh -‘Azza wa Jalla- mengampuni dosa-dosa Muwahhidiin (orang-orang yang mentauhidkan-Nya.).[ Tafsir Ath-Thabâry : 18/258 ]

Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- bersabda :

لَيْسَ أَحَدٌ – أَوْ لَيْسَ شَىْءٌ – أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا ، وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

Tidak ada yang lebih sabar ketika disakiti, melebihi Allâh -‘Azza wa Jalla-. Mereka menyatakan bahwa Allâh memiliki anak. Meski demikian, Allâh masih memaafkan mereka dan tetap memberikan rezeki kepada mereka. [ HR Bukhari : 6099 dan Muslim : 2804 ]

Maksud dari “memaafkan” adalah Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak menyegerakan adzab bagi mereka dan memberi kesempatan bagi mereka agar bertaubat dari kesyirikannya. Jika tidak, maka bagi mereka adzab Allâh -‘Azza wa Jalla-.