Pertanyaan:

Terkadang ketika masuk masjid untuk shalat fardhu berjama’ah, kita mendapati shaf pertama masih ada yang kosong. Namun tidak ada benda yang bisa dijadikan sutrah shalat untuk melakukan shalat sunnah. Bagaimana sikap yang terbaik? Tetap berusaha di shaf pertama ataukah mencari sutrah walaupun tidak di shaf pertama?

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Kita ketahui mencari sutrah itu memang utama. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إذا صلَّى أحدُكم فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ ولْيدنُ منها

“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no.698, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abi Daud).

Juga dalam hadits dari Sabrah bin Ma’bad al-Juhani radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ ، فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ

“Sutrah seseorang ketika shalat adalah anak panah. Jika seseorang di antara kalian shalat, hendaknya menjadikan anak panah sebagai sutrah” (HR. Ahmad no.15042, dalam Majma az-Zawaid, al-Haitsami berkata: “semua perawi Ahmad dalam hadits ini adalah perawi Shahihain”).

Dan menghadap sutrah ketika shalat hukumnya mustahab, tidak sampai wajib menurut jumhur ulama. Namun berusaha mendapatkan shaf pertama lebih ditekankan keutamaannya, karena lebih banyak dan lebih besar keutamaannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’ahu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan mengundinya” (HR. Bukhari no.615, 652, 2689, Muslim no.437)

Dalam riwayat lain:

لَوْ تَعْلَمُونَ أَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَكَانَتْ قُرْعَةً

“Seandainya kalian atau mereka mengetahui keutamaan yang terdapat pada shaf yang terdepan, niscaya itu sudah jadi bahan undian” (HR. Muslim no.439).

Dari al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْمُتَقَدِّمَةِ

“Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf-shaf terdepan” (HR. an-Nasa-i no. 810. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih an-Nasa-i).

Dalam riwayat lain:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الأَوَّلِ

“Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf pertama” (HR. Ahmad no.18152, Ibnu Majah 825, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها

“Shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang pertama, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang terakhir, yang terburuk adalah yang pertama” (HR. Muslim no.440).

Maka meninggalkan kesempatan mendapatkan shaf pertama atau shaf-shaf awal demi mencari sutrah untuk shalat sunnah, ini adalah sikap yang kurang tepat. Bahkan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizahullahu ta’ala menyebut sikap ini sebagai tasyaddud (berlebihan). Beliau mengatakan:

وتشددهم في شأن السترة، حتى إن بعضهم يترك القيام في الصف لأداء النافلة، ويذهب إلى مكان آخر، يبحث فيه عن سترة

“Dan juga sikap tasyaddud (berlebihan) mereka, sampai-sampai sebagian mereka meninggalkan kesempatan mendapatkan shaf demi untuk menunaikan shalat sunnah. Mereka malah pergi ke tempat lain untuk mencari sutrah“.

Maka keutamaan shaf-shaf awal lebih ditekankan daripada keutamaan mencari sutrah. Hendaknya berusaha mendapatkan shaf pertama atau shaf-shaf awal walaupun harus shalat sunnah tanpa sutrah. Namun andaikan bisa mendapatkan keduanya, itu lebih utama. Wallahu a’lam.

Wallahu a’lam. Walhamdulillahi rabbil ‘alain, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wal ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

REKENING DONASI:

BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451)

🔍 Tanda Tanda Kematian Menurut Al Quran Dan Hadist, Manfaat Mengirim Al Fatihah Untuk Orang Yang Masih Hidup, Doa Kafaroh, Surat Maryam Untuk Ibu Hamil, Alam Gaib Dalam Islam, Mimpi Bertemu Mantan

 

Flashdisk Video Cara Shalat dan Bacaan Shalat

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO CARA SHOLAT, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28