Belajar memang selalu membutuhkan perjuangan dan masa-masa sulit, dari mulai mengeluarkan materi, meluangkan waktu, hingga memfokuskan pikiran. Faktanya, bersusah payah dalam belajar telah dialami para sahabat dan ulama-ulama terdahulu, termasuk Imam Syafi’i, sang imam mazhab yang namanya tersohor di berbagai penjuru dunia.

Imam Syafi’i atau Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ as-Syafi’i dikenal sebagai laki-laki cerdas. Ia sudah hafal Al-Qur’an saat berusia tujuh tahun. Di usianya yang ke-13, ia sudah hapal al-Muwatha karya Imam Malik. Bahkan saat berusia 15 tahun, Imam Syafi’i sudah diperbolehkan berfatwa.

Baca juga: Ahmad Wahib: Jejak Gelisah Pembaharu Islam yang Mati Muda

Di balik kecemerlangan otaknya, sejatinya Imam Syafi’i juga pernah mengalami masa-masa sulit. Sejak bayi, Imam Syafi’i telah ditinggal wafat ayahnya, sehingga ia hidup yatim dalam kondisi miskin. Meskipun demikian, ibu Imam Syafi’i terus memperjuangkan pendidikan putranya ini.

Imam Syafi’i bercerita, ibunya berusaha mendaftarkannya ke sebuah madrasah. Namun sayang, ibunya tak punya sepeser uang pun untuk membayar guru di sana. Sehingga ada kalanya sang guru tak mengajarkan pelajaran dengan sepenuh hati kepada Imam Syafi’i. Meskipun demikian, Imam Syafi’i tak berputus asa, ia tetap belajar dengan sungguh-sungguh. Setiap kali gurunya mengajarkan sesuatu kepada murid-murid, ia langsung bisa menghafalnya.

Ketika sang guru beranjak pergi, Imam Syafi’i lalu mengajarkan ulang materi tersebut kepada teman-temannya. Begitu guru itu mengetahui perbuatan Syafi’i kecil, ia merasa sangat lega karena muridnya ini justru bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga ketimbang uang bayaran sekolah yang diharapkannya. Maka dari itu, sang guru akhirnya membebaskan putra Idris ini dari biaya sekolah. Keadaan ini terus berlanjut hingga Imam Syafi’i mampu menghafal seluruh isi Al-Qur’an dalam usia tujuh tahun.

Dalam Manaqib al-Imam as-Syafi’i disebutkan, saking miskinnya, Imam Syafi’i tak bisa membeli selembar kertas pun. Ia akhirnya menulis pelajaran di atas tulang. Setelah banyak, tulang-tulang itu ia masukkan ke dalam bejana besar. Saking banyaknya catatan Imam Syafi’i, bejana ibunya akhirnya dipenuhi tulang belulang. Kadang kala Imam Syafi’i juga datang ke kantor-kantor untuk memunguti kertas-kertas yang tak terpakai.

Saat mempelajari al-Muwatha, Imam Syafi’i juga tak memiliki kitab tersebut, melainkan hanya meminjamnya dari seorang kawannya di Makkah. Namun lelaki keturunan Bani Muthalib ini mampu memahaminya dengan sangat baik, bahkan juga menghapalnya.

Usai sang guru, Imam Malik bin Anas wafat, Imam Syafi’i mengalami masa sulit. Ia kemudian memutuskan merantau ke Yaman untuk bekerja demi kelangsungan hidupnya. Karena tak memiliki uang, Ibu Imam Syafi’i lalu menggadaikan rumahnya untuk biaya perjalanan putranya ke Yaman.

Baca juga: Makna dan Kandungan Surah At-Taubah

Di Yaman, selain bekerja, Imam Syafi’i juga tetap menyempatkan diri untuk belajar dan berguru. Beberapa gurunya di Yaman di antaranya Abu Ayub Mutharrif bin Mazan, Hisyam bin Yusuf, Amr bin Abu Salamah dan Yahya bin Hassan.

Demikianlah perjuangan Imam Syafi’i dalam menempuh pendidikan. Imam Syafi’i membuktikan, uang dan harta bukanlah halangan untuk tetap belajar dan menimba ilmu.

Selain motivasi pribadi, dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat juga sangat lah berpengaruh. Dengan dukungan dan keridaan sang ibu, Imam Syafi’i mampu menjadi orang yang berpengaruh, tak hanya pada zamannya, melainkan hingga detik ini. (AN)