Hagia Sophia bukan simbol agama apapun, ia hanyalah symbol kelas. Megahnya bangunan ini karena menjadi tempat ibadah para raja dan sultan, itu lah fungsi yang sebenarnya. Bangunan ini pernah dihancurkan dua kali setelah terjadi pemberontakan rakyat besar-besaran. Ada keringat, darah, air mata rakyat jelata dan kaum tertindas di setiap sudut pondasinya. Tak ada seorang Nabi pun yang menginjakkan kaki di sana. (Ihsan Eliacik, teolog Muslim dan aktivis Gerakan Muslim Anti-Kapitalis di Turki)

Keputusan Presiden Turki dan Dewan Negara Turki untuk mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid memantik perdebatan dari banyak kalangan di penjuru dunia. Bagi kelompok yang setuju dengan kebijakan pemerintah Turki tersebut, baik dari warga Turki maupun luar negeri, keputusan ini sudah selayaknya diambil demi kedaulatan Negara. Ada juga yang menyebut bahwa momentum ini sebagai salah satu usaha Negara untuk mengoreksi kesalahan sejarah yang pernah dilakukan eks pemimpin sekuler Turki, Kemal Attaturk. Mereka menyebut bahwa Kemal telah melakukan kesalahan besar saat mengubah Hagia Sophia menjadi museum.

Di sisi lain, banyak juga yang menyebut bahwa motivasi pengubahan ini adalah agenda politik populisme partai Erdogan dalam melawan gagasan sekuler-liberal modern tentang pluralisme agama dan etnis. Hagia Sophia telah menjadi simbol yang selalu diperebutkan selama lebih dari satu milenium, serta memiliki peran simbolis sebagai citra sejarah kekaisaran Bizantium dan peradaban Ottoman saat ini.

Ketika perdebatan antara dua kelompok ini berlangsung, sebenarnya ada ketegangan lain yang lebih fundamental dan jarang mendapat sorotan, yaitu ketegangan antara kelompok Muslim dan Kristen yang cenderung radikal dalam memahami teks keagamaan mereka, terutama yang kurang kritis terhadap materialisme dan kekuasaan.

Mengingat banyak sekali kekacauan yang telah dihasilkan dari adanya supremasi liberalisme moderen dan sekularisme di dunia Islam, kita perlu kembali menegaskan hak dan tanggung jawab umat Islam dan Kristen dalam membangun kekuasaan melalui ‘kaca mata’ dan kerangka kerja yang sesuai nilai-nilai agama. Kita pasti akan bertanya-tanya, ‘kaca mata’ dan kerangka kerja siapa yang akan kita gunakan? Apakah ala Kekaisaran Kristen Constantine, atau ala Jesus dan sahabat ‘radikal’-nya?

Ali Syariati (1958-1977) pernah mengatakan, “Sudah bukan waktunya untuk “kembali ke Islam”, sekarang saatnya memilih, mengikuti Islam yang mana, Islam ala Marwan, sang puasa atau ala Abu Dzar. Yang pertama adalah Islam ala kekhilafahan, elit, dan berkaitan erat dengan kekuasaan, sedangkan yang kedua adalah Islam ala rakyat biasa, miskin dan sering dieksploitasi.”

Pendapat Ihsan Eliacik yang dikutip pada bagian awal tulisan ini menunjukkan bahwa Hagia Sophia saat ini bukanlah simbol kenabian, juga bukan simbol kekuasaan agama manapun, baik Islam atau Kristen. Muslim atau Kristen tak selayaknya berdoa di dalam bangunan semegah Hagia Sophia. Eliacik juga menyarankan agar umat Muslim atau Kristen terlebih dahulu berfikir secara bijak bahwa ada tetesan darah, keringat, dan air mata di setiap sudut dindingnya sebelum mengira bahwa para nabi mau menerima undangan kita dan menginjakkan kaki di tempat ini.

Dinding-dinding yang dipenuhi lukisan, kaligrafi yang besar dan berlebihan, tiang-tiang yang tinggi menjulang, kubah, marmer dan menara lebih banyak menunjukkan bahwa bangunan megah ini lebih tepat menjadi simbol aristokrat — sebagai simbol akumulasi kekayaan dan imperialisme agama-etnis — daripada menjadi simbol keadilan dan belas kasih Tuhan.

Jika kita amati, gereja Yesus hanyalah bangunan tanah di jalanan Palestina, masjid Nabi Muhammad malah hanya terbuat dari tanah liat yang dipadukan dengan rangkaian pohon kurma. Bayangkan, bagaimana kagetnya Yesus dan Nabi Muhammad SAW jika melihat umatnya malah sibuk bertikai dan adu dalil demi bangunan yang lebih cocok menjadi imaji dari harta dan kekayaan.

Muslim dan Kristen malah terjebak dalam permainan yang sama dengan saling menghancurkan satu sama lain atas nama dalil ajaran Tuhan dan nabi. Drama (perebutan) Hagia Sophia ini membuat kita seolah mulia karena membela agama masing-masing. Padahal justru kita membela ‘agama’ untuk melawan ‘agama lain’ atas nama agama.

Islam maupun Kristen akhirnya tidak bisa lepas dari potensi radikal mereka ketika para sultan, khalifah, paus, dan raja mereka menjadi terobsesi untuk membangun istana, monumen, dan simbol-simbol kekuatan yang tidak etis dengan mengatasnamakan agama. Seolah-olah bangunan megah itu untuk Kemuliaan Tuhan, padahal sebenarnya untuk nafsu para pemimpin agama itu sendiri, demi citra dan kemuliaan diri mereka sendiri.

Dalam sejarah, pembajakan agama untuk memenuhi citra dan kemuliaan seseorang dalam skala besar pertama kali terjadi pada abad ke-4 Kekristenan di Konstantinopel dan pada abad pertama Islam di Damaskus. Bahkan beberapa Muslim berpendapat bahwa kasus semacam ini telah ada jauh pada masa awal Islam, ketika beberapa sahabat Nabi memperkaya diri mereka dengan rampasan perang dan mulai mempraktikkan nepotisme. Dua hal ini kemudian menjadi sebab perlawanan yang dilakukan oleh Sahabat Abu Dharr al-Ghiffari [wafat 652] atas akumulasi kekayaan dan kesombongan para elit saat itu.

Hal seperti ini justru bertentangan dengan diskursus Islam damai yang dimiliki Muslim moderat untuk melawan dan menghancurkan tirani, sebagaimana yang telah penulis suarakan dalam hal melawan apharteid di Afrika Selatan. Sekaligus bertentangan dengan usaha mencari keadilan bagi orang-orang yang dimarjinalkan dan perjuangan membangun tatanan politik berkeadilan yang terinspirasi dari kitab-kitab suci.

Seorang penguasa tidak selayaknya hidup bergelimang harta dan kemewahan. Simbol kedaulatan mereka juga tidak boleh mewakili akumulasi kotor kekayaan dan kekuasaan. Mereka harus selalu melakukan yang terbaik dalam menjaga dunia, termasuk memperhatikan keramahan ekologi, juga tempat tinggal sederhana yang selalu mengikuti garis panduan agama yang benar.

Oleh karena itu, kita perlu terus menerus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita selama ini mengikuti Yesus, atau Kekaisaran Constantine? Apakah kita mengikuti nilai-nilai ajaran Nabi Muhammad, atau malah menghancurkan ajaran-ajarannya?

Apakah kita lebih memilih untuk tinggal di istana Damaskus dan Konstantinopel? atau tempat tinggal sederhana yang hanya sedikit menyebabkan kerusakan, lalu mendapatkan gantinya sebagai balasan amal di Akhirat, saat istana dan kuil-kuil megah duniawi itu hancur dalam reruntuhan,?

Itulah beberapa pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri masing-masing secara jujur dan kritis, ketika nama dan simbol agama kita dibajak oleh kelompok “penyembah berhala”. Mengapa saya menyebutnya sebagai ‘penyembah berhala’? Karena para nabi dan kitab suci sudah sejak lama mengkritik kesalehan yang sebatas tampilan zahir dan supremasi etnis-agama sebagai bentuk penyembahan berhala secara tidak langsung. Banyak Muslim dan Kristen yang lebih sering terjebak dalam hal ini dari pada berkomitmen secara tulus untuk memahami hal-hal yang harus ia lakukan sebagai penghuni bumi sebelum kelak kembali menghadap Tuhan.

Tempat ibadah dalam Islam disebut masjid, yang berarti tempat sujud. Di tempat ini kita diharapkan untuk khidmat dan larut dalam ibadah kita kepada Allah, tidak bersuka cita dalam chauvinisme sempit yang menyamar sebagai ajaran Islam, atau untuk memberi penghormatan kepada sultan yang sedang berkuasa saat itu. Walaupun orang lain — orang Yunani, orang Armenia, orang Spanyol atau siapa pun —mungkin telah melakukan hal yang sama kepada kita, dengan melawan dan menghancurkan simbol-simbol keislaman sebelumnya, bukan berarti kita sah untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Usulan Sahak Maşalyan, Patriarkh Gereja Armenia di Turki agar Hagia Sophia dibuka untuk semua agama adalah hal menarik yang muncul di luar wacana menyedihkan yang disuarakan orang-orang fanatik.

“Mengapa tidak menjadikannya sebagai museum untuk sebagian hari Minggu, untuk ritual Alevi Semah Kamis malam, untuk muslim pada hari Jumat, untuk komunitas Yahudi pada hari Sabtu, dan untuk jemaat Kristen pada hari Minggu?” Tanya Sahak Maslyan. “Transformasi seperti itu,” kata Baki Tezcan, dalam esai lain, “akan membuat Hagia Sophia tetap hidup dan lebih mudah untuk melakukan pelestarian jangka panjangnya sebagai situs warisan budaya, menawarkan alternatif bagi hegemoni politik Islamis, mengakui keragaman Turki, dan memberi contoh internasional bagi untuk situs lain yang serupa secara global.”

Mungkin kita perlu melakukan hal yang melampaui saran Patriark Maşalyan yang kelihatannya mulia. Namun tampaknya, usulan ini hanya terobsesi dengan dewa kesukuan yang diciptakan dalam imajinasi mereka sendiri.

Saya ingin memberikan saran yang nampaknya sulit dilakukan.

Dalam konteks ketidakadilan sosial-ekonomi besar-besaran, kerusakan ekologis yang sedang terjadi, dan gelombang pasang ideologi supremasi etnis-religius di Turki dan di seluruh dunia, respons teologis dan sosial dari kepemimpinan tokoh agama atau pemerintah tidak boleh dibimbing oleh kesadaran palsu sempit dan hanya sekedar simbolisme. Mengapa tidak mengubah Hagia Sophia menjadi sesuatu seperti tempat tinggal bagi tunawisma, rumah sakit untuk orang sakit dan yang membutuhkan, pusat pendidikan atau seni radikal untuk meningkatkan kesadaran, atau taman dalam ruangan?

Terlepas dari kemungkinan usulan tersebut bisa dilaksanakan atau terlalu mengada-ngada, saya yakin bahwa Muhammad dan Yesus akan jauh lebih nyaman melangkah ke dalamnya daripada jika mereka ingin menjadi katedral, museum, kuil, atau masjid. (AN)

 

Tulisan ini diterjemahkan oleh redaksi dari artikel berbahasa Inggris “The Hagia Sophia Debate: A Muslim-Christian Liberation Theology Approach“.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here