Pada awalnya, media sosial dibuat dengan tujuan yang amat luhur: untuk menghubungkan orang-orang dengan teman-temannya. Aplikasi setamsil My Space, Friendster, dan Facebook didirikan pada tahun 2002 dan 2004 untuk misi mulia ini. Namun, semakin lama niat baik menjadi memudar atau dilupakan, apalagi godaan potensi bisnis dari teknologi ini amatlah besar.

Seiring dengan mudahnya akses internet di berbagai penjuru dunia, pengguna media sosial tumbuh secara eksponensial. Kini, Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, TikTok, Youtube, Pinrest, Reddit dan platform media sosial lainnya memiliki pengguna mencapai miliaran pengguna.

Survei Hootsuite pada awal tahun 2021 merilis jumlah pengguna internet dunia mencapai 4,66 miliar, dengan pengguna media sosial sejumlah 4,22 miliar (Merdeka.com, 2021). Jumlah besar tersebut lebih dari setengah jumlah penduduk dunia saat ini yang menurut Bank Dunia mencapai 7,647 miliar penduduk.

Media sosial saat ini ibarat sudah menjadi sebuah negara tersendiri yang jumlah penduduknya amat besar. Kekuatan perusahaan teknologi ini bahkan lebih digdaya dibandingkan negara adi daya seperti Amerika Serikat maupun negara-negara besar lainnya sekalipun.

Demokrasi Amerika Serikat sempat diporak-porandakan Facebook pada tahun 2016 melalui serangan kampanye berita palsu dari hacker Rusia dan kampanye dengan jenis yang serupa juga memporak-porandakan Uni Eropa dengan keluarnya Inggris melalui Brexit pada tahun yang sama.

Sistem algoritma media sosial saat ini membuat orang yang sering mengakses informasi tertentu akan terus diberikan rekomendasi informasi serupa yang juga diakses banyak pengguna lain yang memiliki preferensi yang sama. Misalnya, jika pengguna mengakses satu atau dua informasi palsu, maka dia akan terus menerus mendapatkan rekomendasi informasi yang serupa.

Sistem algoritma yang seperti ini menjadikan pengguna bergerombol kedalam kelompok interaksinya masing-masing. Sampai akhirnya media sosial dipenuhi oleh banyak kelompok interaksi yang menyebabkan antar kelompok interaksi saling bertentangan dan penuh kebencian.

Setiap pengguna mendapat gelembung informasi di kelompoknya masing-masing. Mereka hanya mendapat supplay informasi yang sama sesuai preferensinya dan hanya berfungsi untuk membenarkan keyakinannya saja. Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari bukti pembenaran atas apa yang diyakini. Bukan mencari bukti yang paling mendekati kebenaran seperti upaya yang sains lakukan.

Kecenderungan untuk mencari pembenaran ini adalah Efek Dunning-Kruger, yang ditemukan oleh dua ahli Psikologi bernama David Dunning dan Justin Kruger dari Universitas Chicago. Secara sederhana, Efek Dunning-Kruger ini mengatakan bahwa “semakin bodoh Anda, semakin Anda yakin kalau Anda sebenarnya tidak bodoh.”

Kebanyakan orang cenderung ngeyel meski tidak tahu persoalan sebenarnya. Dan kecenderungan umum ini menjadi lebih berbahaya dengan sistem algoritma media sosial yang perputaran informasinya hanya pada kelompok masing-masing. Kecenderungan sifat bawaan yang rawan ini, mudah disulut oleh informasi dari media sosial yang memperkukuh fanatisme kelompoknya dan sekaligus menstimulasi kebencian terhadap kelompok lain.

Algoritma media sosial hanya memberikan kecenderungan informasi yang sesuai dengan yang pengguna sukai. Efek Dunning-Kruger ini akan bekerja dengan maksimal, dimana semua keyakinan yang ada dalam benak pengguna terus-menerus dibenarkan oleh algoritma media sosial.

Bahkan, pada awal tahun 2021 ini, Twitter kehilangan kendali dengan sistem algoritma yang mereka buat. Pada waktu itu, Amerika Serikat rusuh pasca Pemilihan Presiden pada November 2020 lalu. Donald Trump memprovokasi followersnya di Twitter dengan mengatakan bahwa Pilpres telah dicurangi. Trump kemudian meminta para pendukungnya untuk menyerang Capitol Hill untuk menggagalkan penetapan keterpilhan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.

Twit Donald Trump menyebar dengan cepat kepada pengguna yang mengikuti dan sering berinteraksi dengan postingan Trump. Capitol Hill benar-benar diserang oleh pendukung Trump hingga sidang penetapannya harus ditangguhkan sementara. Melihat situasi darurat ini Twitter akhirnya memblokir sementara akun Twitter Donald Trump.

Sistem algoritma yang seperti ini memang benar-benar berbahaya bagi interaksi sosial kita. Ilmuwan data Sinan Aral melalui buku barunya The Hype Machine: How Social Media Disrupt Our Election, Our Economy, and Out Health (2020)  melaporkan penelitiannya bahwa berita palsu menyebar dengan lebih cepat daripada berita yang benar.

Informasi palsu yang menyulut kebencian mudah menyebar di masyarakat kita. Dan kini kita sudah melihat dampaknya, masyarakat kita sudah terpecah belah kedalam kubu aliran agama dan politiknya masing-masing. Dan sayangnya kita tak cukup berdaya menghadapi ini. Twitter saja selaku pembuatnya juga tak bisa mengendalikan sistem algoritmanya.

Sampai akhirnya, solusi yang tampaknya paling efektif untuk mengatasi ini adalah perusahaan media sosial mengembalikan sistem algoritmanya kepada model yang dulu. Namun, kebijakan seperti ini sepertinya tak mungkin mereka lakukan sebab alasan pertimbangan bisnis di belakangnya. Iklan di media sosial bekerja dengan sistem algoritma tersebut.

Barangkali alternatif lainya adalah dengan cara kita menghapus akun media sosial kita. Sesuatu yang barangkai paling mustahil kita lakukan untuk saat ini. Karena kita sudah terlalu kecanduan dengannya hingga tak mampu lagi meninggalkannya. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here