Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata bahwa mencintai ilmu agama atau mencintai orang yang berilmu merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Dan orang-orang yang berilmu adalah ahli waris para Nabi. Dikatakan ‘perwaris para Nabi’ menunjukkan dekatnya kedudukan mereka dari para Nabi dan Rasul. Dalam artian tingkatan setelah para Nabi dan para Rasul adalah orang-orang yang  mengambil ilmu mereka dan menyebarkannya di kalangan manusia.

Karena ilmu adalah warisan para Nabi, maka mencintai ilmu dan orang-orang yang berilmu berarti mencintai warisan para Nabi dan ahli waris mereka. Sebagaimana membenci ilmu dan membenci orang-orang yang berilmu berarti membenci warisan para Nabi dan ahli waris mereka.

Makanya kita mengetahui bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang paling afdhal. Bahkan sudah pernah kita nukilkan penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullahu Ta’ala yang menyebutkan bahwa kebanyakan dari para ulama Salaf menegaskan hal ini:

طلب العلم أفضل من نوافل العبادات

“Menuntut ilmu keutamaannya/pahalanya lebih utama dibandingkan amalan-amalan ibadah yang sunnah.”

Makanya ilmu ini berhubungan dengan ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita ingat di dalam Islam bahwa mencintai hal-hal yang berhubungan dengan agama adalah ibadah dan keutamaan yang besar. Sebagaimana juga membenci atau memperolok-olok/melecehkan/meremehkan hal-hal yang berhubungan dengan agama bukan hanya dosa besar, tapi bisa membawa kepada kekufuran. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ‎﴿٦٥﴾‏ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ…

“Katakanlah, ‘Apakah terhadap Allah, terhadap ayat-ayatNya dan terhadap RasulNya kalian berani memperolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kufur setelah beriman…” (QS. At-Taubah[9]: 65)

Maka sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa termasuk didalamnya adalah membenci orang yang berilmu atau seorang ulama ‘Ahlus Sunnah karena ilmu yang dibawanya dan karena sikap berpegang teguhnya yang kuat terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Membenci seorang ulama karena ilmu yang dibawanya atau karena sunnah yang dipegang teguhnya bisa menjadi sebab kekufuran.

MENCINTAI ILMU ADALAH TANDA KEBAIKAN

Kata Ibnul Qayyim selanjutnya bahwa mencintai ilmu merupakan tanda-tanda kebaikan. Karena mencintai ilmu berarti kita mencintai petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, menjelaskan tentang cara beriman yang benar, mengenal aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in. Kalau tujuannya mulia, berarti mencintai sarana untuk yang membawa kepada kemuliaan tersebut termasuk bagian dari mencintai kemuliaan tersebut dan termasuk bagian dari ibadah yang agung.

Maka seyogyanya seseorang tertuju pada ilmu yang dibawa oleh para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam yang mereka wariskan kepada umatnya. Bukan tertuju kepada semua yang dinamakan ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Allah jadikan dia faham dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berarti maksudnya yang dipuji adalah ilmu agama yang diwariskan oleh para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam.Maka ini kabar gembira bagi orang-orang yang semangat mempelajari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ibnul Qayyim selanjutnya mengatakan bahwa mencintai ilmu akan membawa kita untuk semangat mempelajarinya dan mengikutinya, dan inilah ibadah/ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara yang namanya membenci ilmu akan mencegah kita dari mempelajari dan mengikutinya, dan inilah yang merupakan kecelakaan, kebinasaan dan kesesatan.

ALLAH MENCINTAI ORANG BERILMU

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai semua orang yang berilmu. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pemahaman ilmu agama kepada orang yang dicintaiNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا…

“Allah memberikan ilmu/hikmah/pemahaman agama terhadap orang yang dikehendakiNya, dan barangsiapa yang diberikan padanya pemahaman agama berarti telah diberikan kepadanya kebaikan yang berlimpah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 269)

Ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya karena memberikan baginya keistimewaan dari hamba-hamba yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka barangsiapa yang mencintai ilmu dan orang-orang yang berilmu berarti sungguh dia mencintai apa yang dicintai oleh Allah, dan ini merupakan bagian dari agama/ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

sumber: https://www.radiorodja.com/51037-mencintai-ilmu-agama/