Gerakan hijrah di dunia selebritis di tanah air sekarang menjadi trend. Apa faktornya? Tulisan ini coba mengulik berdasarkan riset dan data mendalam terkait Islamisme di Indonesia

Ketika disebut gerakan hijrah, sebagian orang melihatnya bersifat monolitik sebagai liyan (the other). Pandangan ini pada akhirnya melihat gerakan yang sedang berkembang ini sebagai kompetitor dan sepertinya perlu ditolak. Penolakan terhadap pertumbuhan gerakan hijrah dapat berupa sikap, atau dalam era sosial media hari ini dengan membuat narasi kontra, alternatif, nyinyir dan labeling. Pada umumnya, disertai tuduhan negatif.

Di sinilah kita melihat mengapa gerakan hijrah dilabeli dengan sebutan yang mengarah pada liyanisasi (peng-liyan-an) seperti Wahabi, HTI atau Kadrun. Seakan mereka bukan bagian dari bangsa Indonesia atau bagian dari umat Islam Indonesia. Agaknya, pertumbuhan gerakan hijrah ‘salah waktu lahir’ karena harus hadir di tengah konstelasi politik nasional yang panas.

Menelaah kelompok ini perlu hati-hati karena sejatinya situasi sosial kita sedang dipenuhi dengan kecurigaan. Polarisasi akibat pemilihan umum yang mengangkat isu identitas masih sangat kuat menjadi semacam trauma bagi publik, atau setidaknya selalu dirawat oleh aktor-aktor yang berkepentingan. Situasi ini kurang memungkinkan jika kita ingin mendapatkan gambaran yang lebih objektif tentang suatu subyek penelitian, lebih-lebih jika kita menginkan hasil yang secara cepat. Alih-alih, laporan ala intel lah yang kita dapatkan yang kecenderungan sekuritasnya lebih kuat.

Dalam mengamati pertumbuhan gerakan hijrah, kita perlu melihat konteks lebih luas, lalu berangkat dari kasus yang individu. Dalam konteks yang lebih luas, tumbuhnya gerakan hijrah tak dapat dilepaskan dari tumbuhnya religiusitas di tingkat global. Jacques Derrida menyebutnya sebagai religious turn (belokan religius). Di mana masyarakat (Barat) yang tersekulerasiasi mulai menilai penting kembalinya peran agama dalam kehidupan. Kelompok supremasi kulit putih yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen di Amerika mencerminkan fenomena ini.

Sarjana lain melihat bahwa fenomena ini adalah bentuk konservative turn (belokan menuju konservatisme). Perspektif ini berangkat dari asumsi posisi politis demokratis-liberal yang diandaikan akan terus berkembang dan dianut banyak negara, tetapi, dalam kenyataannya dalam lingkungan yang demokratis-liberal tersebut juga tumbuh gerakan konservatif yang kuat. Kelompok agama yang tumbuh dan dianggap menentang nilai-nilai demokratis-liberal menjadi semacam bentuk belokan yang akan mengembalikan kehidupan masyarakat dari liberal-inklusif menuju konservatif-ekseklusif.

Di antara dua perspektif ini, ada pula perspektif yang bersifat psikologi-sosial. Dimana dengan meminjam teori kelahiran kembali (“born again”) dalam kekristenan, perspektif ini melihat bahwa fenomena tumbuhnya simbol keagamaan di ruang publik merupakan fenomena psikologi massa yang tumbuh dan bergerak sesuai trend budaya populer. Melalui kampanye populis oleh kelompok religius, generasi muda mulai merasa bahwa religiusitas adalah persoalan penting.

Dua unsur utama yang dimainkan dalam kampanye ini yang mampu menarik perhatian anak muda adalah unsur aktivisme dan solidaritas.  Bagi mereka yang hidup di alam sosio-intelektual yang demokratis-liberal, kecenderungan ini tentu berlawanan dengan tersebut. Fundamentalisme, radikalisme, dan ekstremisme menjadi kode sosio-akademik yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena tumbuhnya simbol keagamaan di ruang publik.

Di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, simbol keagamaan di ruang publik tumbuh dengan berbagai cara. Dimulai terutama sejak 1979 melalui kesuksesan Revolusi Islam Iran, dan menimbulkan efek domino. Terkoneksinya berbagai jaringan kelompok politik Islam yang memanfaatkan ketegangan Perang Dingin pada akhir 80-an di Afganistan.

Dalam amatan Asef Bayat, kelompok islamis tersebut pada akhirnya harus bertransformasi dan mengadopsi nilai-nilai liberal yang dikembangkan Barat, dan tidak selalu menggunakan nomenklatur religius untuk menjelaskan agendanya. Fenomena perubahan narasi islamis ini disebut post-islamism. Tetapi, satu hal yang mencerminkan karakteristik kelompok religius baru ini adalah munculnya fenomena kesalehan aktif. Spirit kesalehan aktif yang digemakan mendorong munculnya berbagai gerakan sosial kemanusiaan yang dijadikan strategi untuk mengkampanyekan agama.

Di Indonesia, apa yang disebut Azyumardi Azra sebagai fenomena santrinisasi birokrasi tumbuh pasca rezim Orde Baru mulai dekat dengan kelompok Muslim modernis. Jika era Orde Baru islamisasi ruang publik menyasar kalangan birokrat, maka pasca tumbangnya Orde Baru, penyebaran simbol religius dilakukan oleh aktor yang non-birokrat. Kekuatan Muslim –yang diwakili oleh kader NU dan Muhammadiyah memang berhasil memapankan panggung politik. Tetapi, ada yang terlupakan di luar panggung resmi. Semangat religiusitas juga tumbuh di lingkungan Muslim urban; yang bahkan tidak memiliki koneksitas kultural dengan kedua Ormas tersebut.

Muslim urban, khususnya kelas menengah, rupanya tengah mengalami kegelisahan religius. Hal ini tidak terbaca oleh kedua entitas kultural tersebut, mungkin karena keduanya lebih fokus untuk berebut ruang di jalur birokrasi, terutama karena tarikan politik praktis yang kuat, dan agaknya melupakan basis sosial yang belum mendapat perhatian seperti Muslim urban kelas menengah. Lalu apa yang terjadi kelompok sosial ini?

Kelas menengah Muslim kota agaknya mengalami persoalan tersendiri. Mereka adalah generasi yang tengah mendapatkan bonus kesejahteraan materi, tetapi mereka tak punya orientasi mau kemana ketika mereka telah berada di tengah-tengah kesuksesan materi tersebut. Di tengah kehidupan industrialisasi yang telah mulai mapan di kawasan perkotaan, mereka mengalami alienasi diri. Keterasingan yang membuat mereka gelisah dan mencari cara menyelesaikan problem psikologisnya.

Internet memberikan jawaban dengan hadirnya jutaan konten keagamaan yang disajikan secara menarik mengikuti pola komunikasi digital mutakhir yang menyenangkan. Di sinilah krisis diri itu mendapatkan jalan keluar. Kelompok-kelompok keagamaan, bahkan individu dengan kualifikasi keagamaan tertentu muncul. Baik dari pihak yang mewakili pandangan maenstream maupun non-maenstream. Individu dan komunitas religiusnya telah memainkan peran penting dalam memenuhi ruang digital.

Di sinilah kelas menengah Muslim kota mendapatkan jawaban, wawasan, dan tuntunan menjadi Muslim; identitas yang selama ini mereka lupakan. Kembali belajar agama di usia yang telah matang bukan perkara mudah. Belum lagi jika harus menghadapi dunia sosial yang tidak selalu bersahabat. Di sinilah, para aktor menggalang dan membentuk komunitas-komunitas.

Selebriti hijrah adalah salah satu komunitas yang terbentuk dalam konteks semacam ini. Kelas menengah Muslim kota yang telah mendapatkan kemapanan finansial tetapi gelisah karena suatu hal. Inisiatif individu dan jaringan pertemanan telah mendorong munculnya komunitas selebriti hijrah. Tetapi, yang perlu ditekankan, komunitas selebriti hijrah tidak bersifat tunggal. Mereka tergabung dalam komunitas yang berbeda-beda, baik dari segi afiliasi pemikiran keagamaan, pilihan politik, hingga bentuk-bentuk ekspresi keagamaanya. Kita bisa melihat beberapa di antaranya.

baca juga: sejarah salafisme

Kelompok Musawarah. Komunitas ini diinisiasi oleh Dude Herlino, Tengku Wisnu dan kawan-kawan. Dude Herlino sendiri dikenal sebagai selebriti yang saleh sejak awal. Tidak mengalami gejolak dan transformasi diri seperti selebriti hijrah pada umumnya. Tetapi, bersama dengan kawan-kawan selebriti yang ingin menjalani kehidupan lebih religius, mereka membentuk komunitas untuk mempelajari Islam lebih dalam. Ustadz yang diundang sebagai narasumber berasal dari berbagai afiliasi kultural (NU dan Muhammadiyah), tetapi memiliki prasyaratnya harus populer dalam skup nasional. Pada Pemilu Presiden 2019, mereka pada umumnya condong kepada pasangan Prabowo-Sandiaga. Sebelumnya, mereka mendukung dan turut serta dalam demonstrasi anti-penistaan agama selama 2016-2019. Sekalipun demikian, sebenarnya individu dalam kelompok ini cenderung beragam. Komunitas ini berhasil menggaet banyak pekerja industri hiburan tanah bergabung dalam komunitas.

Kelompok Salafi. Selebriti hijrah yang berafiliasi dengan Salafi punya beberapa forum yang berbeda. Beberapa pendakwah Salafi dikenal memiliki kedekatan dan punya forum pengajian di kalangan selebriti hijrah adalah Khalid Basalamah, Omar Mitha dan Subhan Bawazir. Contoh selebriti yang mengikuti trend Salafi adalah Tengku Wisnu, sebagaimana dapat disimak dalam penuturannya dalam forum pengajian ustadz Khalid Basalamah. Salafi di kalangan selebriti pada umumnya adalah Salafi Ilmi atau quetist. Kecenderungan umumnya adalah gerakan ini bersifat non-politis, atau apolitis. Lebih banyak mengarah kepada pembentukan kepribadian sebagai Muslim yang murni. Pada umumnya, ustadz Salafi mengajarkan untuk tidak terlibat dalam proses demokrasi. Tetapi, beberapa selebriti masih cukup aktif dalam dunia politik menjadi anggota DPR. Sebagian selebriti Salafi juga turut meramaikan demonstrasi anti-penistaan agama selama 2016-2018, dan pada 2019 aktif mendukung salah satu calon presiden. Selebriti Salafi bisa dibilang masih cukup dapat terhadap ide-ide kebangsaan.

Kelompok FAST. Fast merupakan akronim dari Fastabiqul Khairat yang berarti berlomba dalam kebaikan. FAST juga memiliki pengertian dalam bahasa Inggris yang berarti cepat. Hal ini karena materi yang disampaikan dalam komunitas ini berlangsung cepat, efektif dan menarik. FAST sebenarnya bukan forum pengajian. Pendiri FAST, Weemar Aditya, menyebut bahwa forum ini adalah forum belajar dan motivasi. Pematerinya disebut motivator. Hal ini karena Weemar menyadari bahwa dirinya tidak punya kapasitas keulamaan seperti Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Abdul Somad. Tetapi, ia banyak belajar dari Felix Siaw yang tidak pernah belajar agama secara formal tetapi punya keberanian menyampaikan agama; melalui motivasi dan sejarah. Weemar adalah orang multimedia yang gelisah melihat para ustadz menyampaikan agama dengan cara yang membosankan. Setelah bertemu dengan Irfan Hakim, FAST semakin dikenal kalangan selebriti. FAST menjadi forum pengembangan diri yang memiliki orientasi glorifikasi sejarah Islam dan punya nuansa politik pan-Islam. Materi-materi tentang hijrah diberikan secara sistematis.

Kelompok Jamaah Tabligh. Selain Salafi dan Islam politik, Jamaah Tabligh juga masuk ke kalangan selebriti. Di antara tokohnya yang populer adalah Derry Sulaiman, Sakti Seila On Seven dan Fadli Padi. Mereka mendakwahkan Islam Jamaah Tabligh kepada kawan-kawannya di lingkaran selebriti melalui metode khuruj fi sabilillah (keluar untuk bertabligh). Orientasi pendakwah Jamaah Tabligh adalah perbaikan diri melalui khuruj. Sekalipun umumnya aktivis Jamaah Tabligh cenderung apolitis seperti Salafi Quetist, tetapi dalam kasus Derry Sulaiman berbeda. Derry aktif dalam aktivitas dukung-mendukung calon gubernur dan presiden selama 2016-2019. Aktivitas politis Derry sendiri mendapat sorotan dari sesama selebriti Jamaah Tabligh.

Kelompok Komuji. Komuji merupakan akronim Komunitas Musisi Mengaji. Seperti namanya, komunitas ini berisi para musisi. Mereka gelisah dengan banyaknya selebriti dan musisi yang berhijrah, tetapi kemudian bersikap ekseklusif dan meninggalkan dunia musik. Komuji menjadi wadah bagi para musisi yang ingin mendalami agama tetapi masih ingin berada di dunia musik. Komuji berdiri dan berpusat di Bandung. Tetapi belakangan membuat cabang di Jakarta, dengan Kikan Coklat sebagai leadernya. Komuji lebih dekat dengan tradisi keberagamaan NU atau Muhammadiyah yang bercorak nasionalis dan inklusif. Narasi kebangsaan masih mendapatkan tempat didiskusikan dalam forum-forum pengajian Komuji.

Sampai di sini, dapat dipahami bahwa sebenarnya selebriti hijrah punya beberapa afiliasi kultural. Keragaman ini harus dimaknai sebagai keragaman orientasi sosial-politik para individu dan komunitas selebriti hijrah. Karenanya, tidak bijak terjadi generalisir bahwa selebriti hijrah selalu mendukung agenda Islam transnasional yang radikal dan permisif terhadap kekerasan.

Pada umumnya, selebriti hijrah menolak aksi kekerasan. Ini perlu mendapatkan perhatian sehingga tidak menempatkan mereka dalam posisi sebagai ancaman, tetapi mengabaikan kebutuhan spiritualitas individu selebriti hijrah.

Dan bagaimana pun, selebriti hijrah adalah sekumpulan orang yang masih dalam proses belajar yang tiada henti sebagaimana dalam filosofi Islam; belajar sepanjang zaman. Dengan demikian, jika hari ini mereka ada yang menampakkan sebentuk ekseklusifitas, masih sangat terbuka kemungkinan sikap tersebut akan segera mencair di kemudian hari. Komunitas selebriti hijrah merupakan komunitas yang beragam, cukup cair dan segera akan menunjukkan kedinamisannya.

 

*Analisis ini kerja sama antara Islami.co dan Maarif Institute*