Sebelum meneruskan catatan, baiknya membaca dulu tulisan bagian pertama ini tentang sejarah hijrah dan perkembangan sejarah Islam di Indonesia, baca Menelusuri Peta Aktor dan Jaringan Ustadz-Artis Hijrah (2).

Ustadz Aktan Kelas Menengah

Peristilahan yang seringkali dipakai untuk menganalisa perubahan referensi identitas kelas menengah muslim Indonesia adalah kata ‘Islamisasi atau Islamisme.’ Abdurahman Wahid dalam Tanter & Young menyebut ‘proses islamisasi’ merupakan dua strategi utama yang dilakukan berbagai kelompok Islam. Namun ia mengantisipasi jangan sampai salah satu strategi yang mengidealisasi Islam dianggap sebagai satu-satunya sistem sosial (Tanter & Young, 1993:21). Pada lain kesempatan, Bayat dalam Heryanto menyebut:

‘Islamisme muncul sebagai bahasa guna mengungkapkan rasa percaya diri sendiri, untuk memobilisasi kelompok kelas menengah yang berambisi, yang merasa dipinggirkan oleh proses proses-proses dominan ekonomi, politik, dan budaya dalam masyarakat mereka, dan bagi mereka kegagalan modernitas kapitalisme dan utopia sosialisme membuka peluang wacana moralitas (agama) sebagai pengganti kendaraan politik (Heryanto, 2016: 61).’

Menggunakan kata ‘budaya kelas menengah (Middle Class Culture)’, Aswab Mahasin justru mengantisipasi ‘kelompok radikal memperluaskan pengaruhnya pada kelas menengah-tengah yang memerlukan spiritualitas dan alternatif, untuk menerima panggilan kembali pada ajaran dasar keagamaan dan memberikan ‘perasaan kepastian’ di tengah-tengah perubahan-perubahan sosial yang membingungkan.’ Ia melanjutkan, ‘kelompok ini tidak mendukung cita-cita Negara Islam tetapi mereka mengaspirasikan ketaatan terhadap doktrin-doktrin Islam di masyarakat (Tanter & Young, 1993:157-8)’.

Disini terlihat hubungan antara fenomena perkembangan hijrah ketiga dan keempat yang disampaikan Mas’ud. Antara mereka yang menjalani kesalehan ‘Doktrin Hijrah’ dan kelas menengah Muslim yang mengenyam pendidikan Barat untuk kembali pada teks Al-Qur’an dan Hadits demi menghindari kerumitan tradisi keilmuan Islam yang sudah berjalan lebih dari 1500 tahun. Di Indonesia, representasi keilmuan yang rumit ini (bagi kelompok kelas menengah Muslim Indonesia) diwarisi melalui lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang notabennya dimiliki banyak para ulama dari Organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU). Basis massa organisasi ini kebanyakan berada di desa-desa. Berbeda dengan Kelas Menengah Muslim yang kebanyakan hidup dikota-kota besar atau lingkungan urban. Kehidupan muslim urban lebih konsumtif sehingga kelas sosial ini membutuhkan daya spiritualitas yang lebih maju, pasti, mudah dihitung dan bisa dibeli. Singkat kata mereka sangat konsumtif bahkan dalam dimensi religius.

Jean Baudrillard menyatakan bahwa proses konsumsi dapat dianalisis dalam dua aspek, pertama sebagai proses signifikasi dan komunikasi. Kemudian kedua, sebagai proses klasifikasi dan diferensiasi sosial. Dalam proses konsumsi, diferensiasi sosial berkaitan dengan upaya individu untuk membedakan diri dan selalu menjadi benturan yang sebenarnya guna mendirikan kelompok yang berbeda secara total. ia melanjutkan, setiap individu, yang menandai tingkatan-tingkatan dalam golongan perbedaan membetulkannya melalui golongannya sendiri, dan karena itu bisa dikatakan menghukum dirinya sendiri … (2018:60-61).

Penjelasan Baudrillard menunjukan bagaimana konsumsi berpengaruh terhadap kelas sosial kelas menengah tidak terkecuali kelas menengah muslim. Sifat ‘membetulkan golongannya sendiri’ sangat terkait dengan fenomena aktor hijrah yang seringkali merasa lebih islami dari individu muslim lainnya. Fenomena inilah yang menyebabkan pertukaran identitas menjadi semacam ‘pengentalan identitas dalam diri dan mempengaruhi diferensiasi sosial dalam proses konsumsi pada setiap aktor Hijrah. Pada proses konsumsi, kebenaran konsumsi dikarenakan ia bukanlah fungsi kesenangan, tetapi fungsi produksi dan semuanya sebagai produksi material sebagai fungsi yang bukan individual, tetapi secara langsung dan semuanya bersifat kolektif (Baudrillard, 2018:87).

Dalam masyarakat Konsumsi, para ustadz televisi memiliki peran penting untuk memberikan ketenangan hati pekerja kelas menengah Muslim yang menghadapi kehidupan yang buruk. Pasar religi (Religious Marketing) juga dapat menjelaskan produksi dan konsumsi pengetahuan dalam otoritas agama. Seperti Ustad Abdul Somad (UAS) yang menjadi Branding utama White Coffee dan UAS Miki Hat (Penutup kepala), Ust Yusuf Mansur dengan Paytren, dan Hanan Attaki dengan Shiftmedia. Sebagai contoh para ustadz tersebut memiliki Chanel Youtube sendiri seiring dengan perpindahan pasar modal dari televisi jaringan ke chanel berbasiskan internet. Sebagian besar Ustadz tersebut, kecuali Ustadz Yusuf Mansyur, adalah Ustadz yang memiliki kedekatan sosial dengan aktor Artis Hijrah.

Latour mengungkapkan dalam ANT bahwa ‘segala hal yang mengubah keadaan dengan perbedaan adalah aktor. Namun apabila belum ada konfigurasinya maka ia adalah Aktan (Latour, 2005:71).’ Terlepas dari konfigurasi ‘Ustadz’ menunjukan bahwa profesi tersebut adalah aktor jaringan, namun keberadaannya yang mengubah keadaan dengan perbedaan membuat tokoh Ustadz yang disebut adalah Aktan. Ustadz aktan memiliki jaringan yang cukup luas di sosial media. Perbincangan mengenai mereka selalu tertinggi. Beberapa Ustadz dan Ustadzah televisi tidak dibahas mengingat jaringan penonton televisi tidak bersirkulasi dalam jaringan artis hijrah seperti Ustadz Arifin Ilham dan Mamah dedeh.

Popularitas para Ustadz aktan Hijrah tidak selalu sama dalam setiap sosial media seperti Instagram, Facebook, Youtube dan Twitter. Karena pengaruh para Ustadz tersebut terhadap para artis Hijrah dan wacana keagamaan di dunia digital (berpengaruh-mempengaruhi) maka bisa dikatakan bahwa mereka adalah Ustadz aktan.

Ketujuh Ustadz aktan memiliki peran aktan yang dibagi menjadi beberapa indikator yakni 1) popularitas di sosial media, 2) peran dalam jaringan Artis Hijrah, 3) pengaruhnya dalam Gerakan politik yang berkembang di Indonesia. [Bersambung]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here