Pada saat kondisi umat Islam sedang mengalami kemunduran, akibat persaingan antar sesama dinasti Islam dan adanya serangan dari luar yang bermaksud menghancurkan Islam. Di Tilmisan, Maroko lahirlah seorang bayi yang kelak akan menjadi ulama Kalam terkemuka. Beliau adalah Imam al-Sanusy yang lahir kira-kira satu setengah abad setelah wafatnya sejarawan Muslim terkemuka yang berasal dari benua Afrika, Ibnu Khaldun. (w. 1282 M).

Nama lengkapnya Imam al-Sanusy adalah Abu ‘Abdillah bin Yusuf bin Umar bin Syu’aib al-Sanusy al-Hasany. Nama al-Hasany di akhir namanya menunjukkan bahwa dari ibunya tersambung nasab yang tertaut kepada Hasan putra ‘Ali bin Abu Thalib, khalifah keempat sepeninggal Nabi Muhammad. Beliau lahir pada tahun 1428 M dan wafat pada tahun 1490 M dalam usia lebih kurang 63 tahun. Masa kecil dan remajanya banyak dihabiskan untuk belajar membaca al-Qur’an dan menghafalnya di bawah bimbingan orang tuanya, yaitu Abu Yusuf Ya’cub. (Atjeh, 1970)

Al-Sanusy membangun dan membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan, Beliau berguru kepada ayahnya sendiri, Abu Yusuf Ya’cub, neneknya al-Thalaty, Abu Abdillah al-Rabbak, Abu Hasan al-Kalasady (yang mashur dengan nama Ibnu  Marzuq), Qasim al-‘Uqbany, dan Abd. Al-Rahman al-Thaliby. Adapun dari guru-gurunya ini, Ia menerima pelajaran tauhid, fikih, hadis, tasawuf, dan nahwu. (Kramers, 1961)

Kemudian, al-Sanusy tidak ingin ilmu pengetahuan yang dimiliki dan diterimanya dari guru-gurunya itu menjadi miliknya sendiri. Ia ingin mewariskannya kepada orang lain. Adapun yang pernah menjadi muridnya adalah Ibnal al-Hajjaj al-Tabdany, Ibn Abbas al-Shagir, Ibn Sa’ad, Qasim al-Uqbany dan al-Zawawy.

Al-Sanusy dikenal sebagai ulama yang teguh pendirian dan sangat taat menjalankan ajaran agama serta sangat wara’ dan zuhud. Dalam bidang teologi, Imam al-Sanusy disebut-sebut sebagia penganut aliran Asy’ariyah (karena beliau menetapkan Tuhan memiliki banyak sifat). Sedangkan dalam bidang fiqih, Ia adalah penganut Syafi’iyah (karena Ia berpendapat bahwa sumber hukum Islam sebagiamana pendapat as-Syafi’i meliputi ­nash:qur’an dan hadis, qiyas, fatwa sahabat dan ijma’ sahabat. (al-Sanusy, 1986)

Adapun Imam al-Sanusy sejak berusia 16 tahun sudah menekuni bidang karya tulis, Ia banyak menulis berbagai kitab, baik kitab tauhid, fiqih, maupun kitab tasawuf. Bahkan guru-gurunya menilai al-Sanusy adalah seorang murid yang tidak ada tandingannya dalam karya tulis. Namun karya-karyanya baru dipublikasikan ketika umurnya menginjak 30 tahun (ini merupakan saran dari gurunya yaitu, ‘Abdullah al-Syarqawy al-Hudhudy). (al-Hudhudy, Mesir)

Karyanya dalam bidang tauhid diantaranya Syarh Umm al-Barahin, Syarh al-Sanusy al-Kubra. Dalam bidang Hadis, Ia menulis Syarh Shahih al-Bukhari dan Syarh Sahih Muslim.dalam bidang Mantiq, Ia mneulis Ikhtisar Ilm Mantiq, dalam bidang Tafsir, beliau menulis tafsir surat Shad, dalam bidang Tasawuf, Ia menulis washiyat al-Suluk dan kitab al-Haqai, sedang dalam bidang Kedokteran, Ia menulis al-Mujarrabat, al-Thib al-Nabwy, dan masih banyak lagi.

Adapun di antara gagasan atau pemikiran Imam al-Sanusy yang pengaruhnya tampak sangat menonjol di kalangan umat Islam sepeninggalannya ialah dalam bidang akidah atau tauhid. Pengaruh pemikiran itu mendapat sambutan besar umat Islam di Indonesia, melalaui karya monumentalnya yaitu, Umm al-Barahin. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ada orang yang berkata bahwa teologi Islam yang ada dan berkembang di Indonesia adalah teologi yang bercorak “Sanusiyah”, sebab kitab Umm al-Barahin dijadikan acuan oleh kitab-kitab lain dalam mengajarkan ilmu Tauhid. Secara tidak langsung, pemikiran teologi al-Sanusy telah mendominasi dan mewarnai pemikiran teologi sebagian besar umat Islam di Indonesia.

Bahkan, di Indonesia buku-buku tauhid yang di dalamnya menguraikan tentang sifat wajib 20 mengacu kepada kitab karya  Imam al-Sanusy. Sebagaimana diakui oleh Musthafa Abd al-Raziq bahwa sampai sekarang ini teologi Asy’ariyah masih mendominasi dunia Islam (al-Raziq, 1959) Wallahu’alamu bissawab.