Dunia Islam sempat dihebohkan dengan munculnya pernyataan dari seorang imam masjid di Australia bernama Nur Warsame. Seperti dilansir oleh banyak situs berita, Nur pertama kali memutuskan untuk blak-blakan tentang orientasi seksualnya di tahun 2010, dia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang gay.

Nur Warsame adalah seorang imigran asal Somalia. Dia dan keluarganya pertama kali menginjakkan kaki di Australia di tahun 1997. Selain seorang imam, Nur juga dikenal sebagai seorang hafiz Al-Qur`an. Dalam sebuah wawancara, dia menceritakan bahwa saat datang ke Australia, dia telah memiliki hafalan sebanyak 20 juz, sebelum akhirnya berhasil mengkhatamkan hafalannya saat dia mendapat beasiswa pendidikan di Afrika Selatan.

Setelah menyelesaikan studinya, Nur kembali ke Australia di tahun 2001. Sejak saat itulah dia diminta untuk menjadi imam. Saat itu, masjid di Australia belum memiliki kepengurusan yang terorganisir. Setelah dibentuk sebuah kepengurusan, Nur ikut tergabung di dalamnya. Namun, setelah ia menyatakan diri sebagai seorang gay, ia dikeluarkan dari kepengurusan.

Sejak pernyataan itu, Nur mengaku sering mendapat ancaman pembunuhan, dan ia yakin bahwa di luar sana banyak orang yang bernasib sama dengan dirinya. Berbagai ancaman dan tekanan yang diterima seringkali berpengaruh buruk pada kondisi mental, dia pun mengaku bahwa dirinya pernah melakukan percobaan pembunuhan, meski tidak berhasil.

Dilatarbelakangi cerita menyedihkan yang ia dengar dari banyak muslim yang menjadi gay, Nur mendirikan sebuah komunitas yang bernama “Merhaba” pada November tahun 2013. Tujuannya adalah membantu mereka yang ditentang dan dikucilkan dari kelompoknya karena mengaku menjadi seorang gay, mengalami masalah kejiwaan, dan sebagainya. Tidak hanya dari Australia, melainkan juga dari berbagai negara.

Usahanya tidak berhenti di situ. Di tahun 2018, ia berencana mendirikan masjid yang ramah bagi kaum LGBT yang muslim. Selain sebagai rumah ibadah, Nur mengatakan bahwa masjid tersebut nantinya juga difungsikan sebagai “rumah aman” dan pusat konseling. Namun, belum ada kabar terbaru terkait perkembangan rencana tersebut.

Dalam perjalanan hidup menjadi seorang gay, Nur sempat menikahi seorang wanita. Sayangnya, pernikahan yang dijalaninya hanya bertahan selama setahun. Baginya, menjadi seorang gay yang memaksakan diri untuk menikahi wanita sangatlah berat, dan pada akhirnya ia menyerah dan memutuskan mengakhiri pernikahannya.

Sikapnya yang blak-blakan tentang orientasi seksualnya jarang ditiru oleh banyak muslim lainnya. Menurut Nur, hal tersebut begitu beresiko lantaran bagi kelompok Islam konservatif, kaum homoseksual boleh dibunuh. Sehingga banyak muslim lainnya yang memilih untuk menyembunyikan orientasi seksual mereka.