Jakob Oetama telah memberi banyak pengaruh dalam jurnalisme Indonesia, termasuk menyelamatkan media-media yang tengah dalam badai

Surat yang saya tulis betul-betul dibalas Pak Jakob Oetama. Aneh bin ajaib. Tak disangka-sangka. Membaca surat balasan itu, terang saja perasaan saya seperti melihat tulisan saya nongol di Kompas untuk kali pertama setelah babak belur berpuluh-puluh kali.

Di Indonesia, Kompas ini bukan media sembarangan. Jangankan menjangkau manusia di pucuk jabatan tertinggi, menembus redaktur opininya saja saya butuh kesabaran. Setiap kali mengirim artikel ke Kompas, hanya berbalas surat beramplop warna coklat berisi penolakan dengan cara yang halus: khas Kompas!

Entah bagaimana ceritanya Pak Jakob Oetama tersentuh hati dan tuhan menggerakkan tangannya menulis surat balasan. Kata orang, apa yang kita dapatkan biasanya sesuai amal perbuatan kita sendiri.

Kami diterima di gedung Kompas miliknya. Dari cara satpam hingga penerima tamu menerima kami, saya yakin ini tak terjadi begitu saja. Inilah yang disebut budaya organisasi yang dipatok dan ditradisikan secara konsiten dan mula-mula dari pucuk pimpinannya.

Di Kompas dan grup usaha di bawahnya, Pak Jakob Oetama adalah “dewa”. Ia dihormati dan dikagumi bukan hanya karena atasan mereka, melainkan nilai-nilai kepemimpinan yang dibawanya. Ia dikenal sederhana, ramah dan perhatian pada stafnya, termasuk pekerja kelas bawah di perusahaannya.

Surat saya kepada Pak Jakob sebetulnya ringkas. Yang agak panjang hanya bunga-bunga surat. Kalau tak salah ingat surat itu saya buka dengan harapan agar Pak Jakob sehat dan selalu dalam lindungan tuhan. Segera setelah itu, saya susul dengan tantangan meningkatnya gejala fundamentalisme agama yang seringkali disumbang oleh media-media garis keras.

Sebelum Pak Jakob betul-betul istirahat mencerna pesan surat, saya susul lagi dengan informasi mengapa majalah Syirah didirikan dan apa yang diperjuangkan. Tidak lain, tidak bukan, dan hanya memang hanya untuk itu: agar umat Islam, terutama kaum muda berpikiran terbuka dan kritis.

Pelan-pelan saya mulai masuk pokok masalah: mohon bantuan dana. Saya lalu menulis dengan cara agar bagaimana Pak Jakob menaruh iba sekaligus bangga pada anak-anak muda yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan agama dan bangsa.

Saat itu modal Majalah Syirah yang kami kelola memang mulai menipis. Hasil penjualan dan iklan tak mampu menutupi operasional kantor dan gaji redaksi. Jika tak dapat dana segar, majalah itu bakal almarhum setelah terbit pertama kali pada 2001. Karena itu kami berusaha mencari sokongan dana.

“Saat saya seusia Anda semua, saya juga bekerja keras dan sangat bersemangat untuk maju. Tidak mudah memang,” kata Pak Jakob Oetama menimpali obrolan kami di salah satu ruangan di gedung Kompas Palmerah.

Suaranya berwibawa dan halus dengan logat Jawa. Lalu kami bicara mengenai isu-isu aktual, terutama menguatnya konservatisme.

Selain Pak Jakob, pertemuan pada tahun 2005 itu dihadiri Pak Soelarto dan Suryapratomo. Kalau tak salah, Pak Soelarto menjabat Wakil Pemimpin Umum, sedang Pak Suryapratomo yang kini pindah ke Metro TV menjadi Pemimpin Redaksi. Beberapa minggu setelah pertemuan, bagian keuangan mengabari mereka mengirim uang untuk Syirah. Saya lalu menulis kembali surat ucapan terima kasih.

Pada Rabu, 9 September 2020, saya lihat berita meninggalnya Pak Jakob Oetama di berbagai stasiun televisi. Napasnya betul-betul putus saat usianya 88 tahun. Saya setuju sekali dengan kepala berita Kompas halaman pertama sebagai penghormatan pada pimpinan mereka: Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Membaca kepala berita itu saya ingat lagi pengalaman pertemuan kami itu.

Keindonesiaan dan Kemanusiaan memang menggambarkan bagaimana mimpi dan kiprahnya selama ini. Tapi di tangan Pak Jakob dan Kompas, cara menyuarakan dan menyampaikan menjadi begitu khas: Khas Kompas.

Saking khasnya, saya mungkin bakal dapat menebak dengan gampang saja berita yang dibacakan tanpa sekalipun melihat korannya. Dari susunan kalimat, pilihan diksi, cara menyuguhkan data, saya akan tahu ia datang dari Kompas. Bukan dari Koran Tempo, Media Indonesia, atau lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here