Pada bulan Juli tahun 2013, Uni Eropa menyatakan Wahabisme sebagai sumber utama terorisme global. (Karen Amstrong, 2018).

Karen Amstrong benar. Munculnya Islamofobia di dunia memang tidak bisa lepas dari tindak-tanduk pengaruh Wahabisme. Wahabi sebagai sebuah ideologi, memiliki peranan penting dalam penyebaran ekslusifisme Islam ke seluruh dunia. Sempitnya visi Wahabi menjadi lahan subur bagi perkembangan terorisme dan ekstremisme.

Membincang tentang ideologi merupakan wacana yang menarik dalam ranah intelektual, dalam hal ini Wahabisme. Perjalanan panjang ekspansi Wahabi ke seluruh dunia, menjadi polemik sekaligus perhatian para pengamat Islam di banyak negara.

Terma tentang Wahabi meskipun sudah cukup banyak riset yang mengkajinya, tetapi masih saja belum bisa secara komprehensif mewakili dan memotret wajah Wahabi yang sebenarnya. Nur Khalik Ridwan melalui karya monumentalnya ini memberikan terobosan historis dalam melihat Wahabi sebagai sebuah ideologi Islamisme, paham keagamaan, dan lainnya.

Secara genealogis, munculnya Islamofobia di dunia tidak lepas dari tindak-tanduk pengaruh Wahabi. Wahabisme sebagai sebuah ideologi, memainkan peranan penting dalam penyebaran ekslusivisme Islam ke seluruh dunia. Sempitnya visi Wahabisme, pada perkembangannya menyediakan lahan subur bagi perkembangan ekstremisme.

Wahabi sebagai gerakan keagamaan konservatif menarik untuk ditelaah secara akademis maupun sosial-historis. Aliran yang dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahhab ini telah mengkampanyekan paham keagamaan Islam yang rigid dan tekstual.

Atas nama purifikasi Islam, Muhammad bin Abdul Wahhab berupaya mengganyang segala kekuatan yang berseberangan dengannya. Hal-hal yang dia nilai bertentangan dengan Islam seperti filsafat atau sufisme, harus dimurnikan sesuai dengan preseden yang ada pada masa nabi Muhammad (Abou el-Fadl, 2005)

Sejarah mencatat, Muhammad bin Abdul Wahhab dengan sokongan politik Muhammad bin al-Saud pernah berupaya untuk meratakan makam nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, karena seringkali diziarahi oleh para jamaah Haji dan Umroh. Bagi mereka, ziarah kubur merupakan kegiatan yang bertentangan dengan Sunnah sehingga mengancam keemurnian agama Islam.

Belum banyak cendekiawan yang menulis sejarah Wahabi secara menyeluruh. Yudian Wahyudi, dalam artikelnya berjudul The Waves of Wahabism menjelaskan tentang gerakan Wahabi di Indonesia. Yudian membaginya dalam empat gelombang. Pertama, pada perang Paderi di Sumatera Barat (1821-1837). Kedua, pemberontakan di Banten (1888), akibat pengaruh Pan Islamisme. Ketiga, berdirinya Sarekat Islam (1905) sebagai wujud “nasionalisasi” Pan-Islamisme, yang kemudian didukung oleh Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1994), dan Persatuan Islam (1923), khususnya dalam aspek Aqidah dan Fikih. Terakhir, yakni gerakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (1949-1963).

Di Indonesia, Wahabi dikenal sebagai pendobrak TBC “Tahayul, Bid’ah dan Churafat“. Masuknya Wahabi telah banyak mempengaruhi beberapa ormas Islam di Indonesia. Meskipun demikian, saat ini ormas tersebut telah banyak mengalami pergeseran, misalnya Muhammadiyah yang lahir sebagai penggaung TBC dan pendobrak tradisi, sudah tidak bergairah lagi dalam membela pemurnian Wahabisme (hlm. 23). Tetapi di tubuh Muhammadiyah sendiri masih terdapat oknum yang memegang teguh ajaran Wahabisme, meminjam bahasa Abdul Munir Mulkhan, mereka yang disebut sebagai Muhammadiyah rasa Salafi-Wahabi.

Hadirnya buku tebal yang ditulis oleh salah satu cendekiawan Muslim ini mampu memberikan pencerahan akademis-historis bagi kita untuk membongkar dan meninjau sisi lain dari wajah Wahabi itu sendiri. Wahabi sebagai sebuah paham memiliki pengaruh yang cukup kuat dan luas, terutama dalam eskpansi terorisme global. Sedangkan sebagai media propaganda, mereka mendirikan lembaga pendidikan dan pesantren-pesantren, yang identik dengan tradisi NU, serta menerbitkan majalah-majalah.

Selain itu, mereka banyak memberikan beasiswa kepada para pemuda khususnya di Indonesia untuk belajar ke Universitas-universitas di Arab Saudi dan negara lain yang terafiliasi dengan ideologi Wahabi. Gerakan Wahabi ini cepat menjadi besar karena memiliki basis di kerajaan penghasil minyak terbesar dunia, yakni Arab Saudi. Dengan doktrinnya, Wahabi mampu mengakomodir massa untuk melakukan aksi-aksi ekstremisme yang kemudian berlanjut menjadi terorisme.

Dalam buku ini juga dipaparkan dengan cukup komprehensif bahwa kemunculan aliran Wahabi ini tidak bisa lepas dari konspirasi yang digagas oleh Inggris (sebagai penjajah). Dalam memoar Hempher berjudul Confesseions of a British Spy to the Middle East, disebutkan bahwa kerajaan Inggris telah merekayasa Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai pendiri Wahabi. Hal ini sebagai upaya untuk menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyah yang berpusat di Turki (hlm. 230).

Dalam memoarnya, Hempher menggambarkan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang yang berjiwa “sangat tidak stabil”, sangat kasar, selalu gelisah, congkak serta dungu. Tetapi, tentu saja gambaran ini banyak ditolak oleh para pengikutnya, tidak bisa diterima dan narasi yang bohong ‘majhul‘ (hlm. 232). Hal ini menjelaskan bahwa secara karakter pendiri Wahabi ini tidak mengedepankan moralitas dan akhlaqul karimah dalam mendakwahkan ajarannya.

Untuk memuluskan tujuannya, kelompok Wahabi beberapa kali melakukan upaya mendistorsi terhadap karya-karya ulama. Syaikh Idahram mengatakan, mereka telah banyak menthahrif (menghilangkan kalimat) dalam karya Ulama-ulama, seperti dalam Kitab Riyadus Sholihin, Al-Adzkar, Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dan lain sebagainya. Bahkan mereka banyak memalsukan karya-karya ulama, kemudian menggantinya dengan karya dari paham mereka sendiri yang justru sangat jauh dari substansi karya sebelumnya.

DATA BUKU

Judul : Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliyah dan Pergulatannya;  

Penulis : Nur Kholik Ridwan ;

Penerbit : iRcisod, 2020 ; 

Tebal : 833 halaman

Dalam membaca dan melihat wajah Wahabi yang sebenarnya, kita perlu melihat teks dan konteks sejarah yang melatarinya. Pada tahun 2019 yang lalu, saya pernah menulis tentang genealogi lembaga Islamic Centre bin Baz Yogyakarta, yang dipimpin oleh Ustadz Abu Nida. Ia merupakan pentolan dari Salafi-Wahabi, meskipun secara pribadi ia mengaku sebagai pengikut Muhammadiyah, karena istilah Wahabi telah cenderung terstigma di masyarakat. Tetapi secara historis, Abu Nida jelas terafiliasi dengan Wahabi yakni LIPIA di Jakarta sebagai basis Wahabi di Indonesia.

Wajah Wahabi di Indonesia saat ini mengalami banyak transformasi. Wajah Wahabi yang sebenarnya cenderung kaku, dan tunggal dalam menafsirkan pesan keagamaan, sudah menjelma menjadi neo-Wahabisme. Tetapi kita tidak bisa membohongi sejarah masa kelam, bahwa lahirnya Wahabi menjadi oase pertumpahan darah di berbagai kawasan di dunia. Wahabisme kedepan akan menjadi tantangan keberagamaan dan keberagaman pemahaman Islam di Indonesia, untuk itu kita perlu mengetahui secara detail secara akademis-historis tentang penyebaran dakwahnya di Indonesia.

Wahabi dan terorisme menjadi suatu tantangan bagi wajah keberagamaan Islam di Indonesia. Untuk itu, mengkajinya merupakan suatu ikhtiar dalam merawat keragaman sebagai cita-cita bersama masyarakat islam di Indonesia. Dengan demikian, buku ini bisa menjadi kamus lengkap bagi kita untuk menelaah lebih jauh sejarah tentang gerakan Wahabi, khususnya di Indonesia.

Wahabisme merupakan embrio dan corong terorisme global. Dengan segala propagandanya, Wahabi mampu memobilisasi massa untuk dikaderisasi melalui jalan-jalan pendidikan dan dakwah sehingga secara persuasif dapat diterima di masyarakat. Untuk itu, memahami Wahabi merupakan suatu usaha yang baik agar dapat mengajarkan kepada generasi bangsa untuk beragama dengan toleran dan inklusif serta menolak aksi-aksi ekstrem yang mengatasnamakan agama.

Naskah ini merupakan sepuluh besar terbaik Lomba Resensi Buku Wahhabi, kerjasama islami.co, Penerbit Diva Press, dan Jaringan Gusdurian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here