Kembali saya mendengarkan ceramah Ustadz Khalid Basalamah di youtube dan kali ini terkait hijab. Video itu kurang dari 1 menit tersebut berjudul “Hijab Akan Melindungi Kalian”. Dalam ceramah tersebut, tidak dijelaskan hadis atau ayat al-qur’an yang menjelaskan bahwa hijab akan melindungi perempuan dari pelecehan. Semuanya hanya asumsi dan logika saja, sama seperti ceramahnya yang lain. Namun, benarkan hijab jadi satu-satunya yang melindungi wanita?

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA). Dalam survei tersebut, terdapat komponen mengenai pakaian yang dikenakan perempuan saat mengalami pelecehan seksual. Dari keseluruhan responden yang mengalami pelecehan seksual, 17,47 persen mengenakan rok panjang dan celana panjang, di peringkat bawahnya ada perempuan berbaju lengan panjang (15,82 persen), baju seragam sekolah (14,23 persen), serta pakaian lainnya hingga 19 jenis. Perempuan berhijab pendek/sedang (13,20 persen), berhijab panjang (3,68 persen), serta berhijab dan bercadar (0,17 persen) juga kena pelecehan. Bila dijumlahkan, sekitar 17 persen mengenakan hijab.

Dari data tersebut memperlihatkan jika perempuan yang berjilbab pun tidak luput dari kekerasan seksual. Dalam konteks islam, mengenakan jilbab seringkali ditafsirkan sebagai sebuah kewajiban agama yaitu menutup aurat. Kata aurat bisa diatikan sebagai sesuatu yang buruk akan tetapi, semua hal yang buruk adalah aurat dan tidak semua aurat pasti buruk. Jilbab, saat ini dipandang sebagai ruang sosial untuk bercerita tentang identitas, status, kekeluargaan, rangking dan kelas serta sebagai simbol kekuasaan atau dengan kata laian bersifat maskulin.

Pada zaman dahulu, jilbab digunakan oleh wanita- wanita yang sudah sudah merdeka. Dengan kata lain jilbab digunakan sebagai pembeda antara wanita yang sudah merdeka atau belum. Di india, jilbab digunakan untuk memukul suaminya. Sementara di Bahrain, perempuan desa menempelkan anak kunci rumahnya pada jilabab di kepala atau rambutnya. Di Indonesia, jilbab dikenal pada tahun 1980-an. Hal ini adalah salah satu penolakan penggunaan pakaian- pakaian tradisional.

Menurut Ellizabeth Raleigh dari Universitas Muhammadiyah Malang, jilbab saat ini sudah menjadi bagian dari kebudayaan populer. Ketika menggunakan jilbab, wanita terlihat modis dan tidak mengurangi makna jilbab. Menurut Miftah K Nurwati dalam buku Psychology of Fashion bagi perempuan modestinik adalah proses peneguhan eksistensi yang khusus dan yang dicari. Jika seperti itu, jilbab bukan sekedar fashion saja tapi ada makna dibalik jilbab tersebut.

Baca juga: saya gusar terkait ceramah Ustadz Khalid Basalamah terkait hijab, perempuan dan pemimpin

Menurut Karen W Washburn dalam buku Jilbab, Kesadaran Identitas Post-Kolonial dan Aksi Tiga Perempuan (Jawa),  mengkategorikan jilbab sebagai personal simbol yang membawa makna baik di tingkat personal maupun kebudayaan, kerena tidak semua orang memakai jilbab.

Terbukti di Nangro Aceh Darusalam, para pelacur menyembunyikan Identitasnya dengan menggunakan Jilbab. Lalu, ada banyak fenomena lainnya, yaitu wanita yang melepas jilbabnya. Saat ini fashion dan jilbab adalah satu kesatuan yang padu khususnya di Indonesia.

Jilbab bukan hal yang dikenal sebagai yang monoton lagi. Wanita berbodong- bondong menggunakan jilbab dalam berfashion. Mengumpakan jilbab sebagai rambut. Jilbab saat ini dipandang sesuatu yang pandang luas. Dengan jilbab banyak manfaat yang petik, yaitu secara teologis baik dan benar sudah mengikuti perintah Al-qur’an.  Secara sosiologis jilbab merupakan identitas dan melindungi diri.

baca juga: terkait pelecehan seksual, harusnya lelaki yang dapat edukasi bukan menyalahkan perempuan

Kembali pada ceramah Ustadz Khalid Basalamah terkait hijab, beliau memperlihatkan relasi antara konsumsi tanda sebagai hulu dan body image sebagai hilir tersebut dimediasi oleh berbagai konstrukis media. Ketika tubuh masuk ke dalam perangkap berbagai konstruksi makna yang diproduksi oleh media, maka sesungguhnya tubuh telah kehilangan kemerdekaannya.

Tubuh tidak lagi dimiliki oleh ‘aku’ sebagai subjek otonom pemilik tubuh. Tubuh yang seharusnya merdeka atas kehendak ‘aku’ sebagai subjek diambil alih oleh berbagai konstruksi makna yang diproduksi oleh media. Relasi antara konsumsi tanda melalui media untuk mendapatkan body image yang diinginkan menjadi sangat penting untuk diungkap.

Jadi begitu, Ustadz Khalid terkait hijab dan perempuan ini. Tampaknya saya perlu menonton lagi belajar lagi terkait ceramah-ceramah lain terkait hijab ini. Begitu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here