Dalam sebuah rekaman pengajiannya di channel Santri Gayeng, KH. Bahaudin Nursalim menceritakan sebuah kisah. Ada seorang Sayyid yang alim allamah. Akan tetapi beliau secara fisik tidak meyakinkan sehingga banyak orang yang sangsi terhadap beliau dan meragukan apakah nasab sayyid tersebut bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Sayyid yang alim tersebut kemudian menantang semua orang yang meragukan nasab beliau. Beliau mengajak orang yang meragukan nasabnya untuk bersama-sama ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Singkat cerita, mereka semua berziarah ke Madinah. Setelah berziarah ke makam Rasulullah, rombongan tersebut mengalami kejadian bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.

Dalam mimpi, mereka bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Apakah betul sayyid ini adalah cucu engkau, wahai Nabi?”

Nabi Muhammad SAW dalam mimpi tersebut lantas menjawab, “Sekarang anak cucu sudah bertemu dengan asal-usulnya.” Jawaban tersebut dalam bahasa Arab berbunyi:

اجْتَمَعَ الفَرْعُ وَالاُصُوْلُ

Penggalan jawaban Rasulullah ini persis sebagaimana tercantum dalam shalawat yang dipopulerkan oleh Habib Syech Abdul Qadir Assegaf. Syair ini dikenal dengan sebutan shalawat In Qila Zurtum yang menceritakan dialog peziarah Nabi Muhammad SAW dengan beliau.

Dalam qasidah shalawat tersebut, terdapat syair yang menunjukkan dialog peziarah tersebut dengan Nabi Muhammad SAW:

اِنْ قِيْلَ زُرْتُم بِمَارَجَعْتُمْ يَااَكْرَمَ الخَلْقِ مَانَقُوْل

قُوْلُوْا رَجَعْنَا بِكُلِّ خَيْرٍَاجْتَمَعَ الفَرْعُ وَالاُصُوْلُ

Ketika orang-orang bertanya pada kami: “Apa yang kamu bawa pulang setelah menziarahi makam Nabi SAW?” Wahai hamba yang paling mulia dari semua umat manusia, apa yang akan kami jawab?

Katakanlah: “Kami datang kembali dengan membawa segala kebaikan, Dan telah bertemu dari generasi yang lalu dan yang sekarang.”

Lebih jauh, Gus Baha memberi keterangan, bahwa asal-usul itu ada dua macam: ada yang asal-usul dari dzat yang berupa gen atau nasab, yang mewarisi kemuliaan gen dari nabi Muhammad SAW. Itulah yang kemudian kita kenal dengan Habaib.

Di sisi lain, terdapat asal-usul atau nasab yang karena sebab, melalui ilmu atau mewarisi teladan dan sunnah Rasulullah SAW. Nasab yang karena sebab ini, terang Gus Baha, tentu jumlahnya lebih banyak dan lebih besar dibandingkan dengan jalur nasab gen atau dzat karena kebanyakan orang tidak mewarisi gen habaib. Akan tetapi, orang-orang non-habaib ini bisa menyambung “nasab” kepada Rasulullah dengan perantara atau sebab ilmu dan perilaku.

Oleh karenanya terdapat sebuah riwayat Nabi Muhammad menyebut Salman (Salman al-Farisi) yang notabene orang Persia sebagai bagian dari ahlul bait. Sahabat Salman jelas bukan anak cucu atau bersambung darah kepada Rasulullah, tapi diakui menjadi bagian dari ahlul bait.

Gus Baha mengutip sebuah hadis, yang berbunyi “Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari Kiamat kecuali sebabku dan nasabku.” Maka dari sini bisa disimpulkan bahwasanya untuk menyambung kepada Nabi Muhammad SAW, bisa melalui dua jalur, yakni perantara nasab (gen) dan sabab atau lewat meneladani keilmuan dan perilaku nabi Muhammad SAW.

Tak ketinggalan, Gus Baha menyelipkan guyonan kepada para santrinya, “Makanya kalian ini meniru Nabi… Meniru Nabi yang paling gampang ya fakir (miskin) dan sabar. Itu paling pantas. Shalat qabliyah sama ba’diyah saja tidak pernah, tahajud juga tidak pernah.. ya sudah, pilih meniru fakirnya saja sudah!” Demikian ucap Gus Baha disambut tawa para santri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here