Pada sebuah siang, seorang kawan mengirimkan kutipan panjang dari Edward Said:

None of the Arab countries I know has proper state archives, public record offices or official libraries any more than any of them has decent control over their monuments or antiquities, the history of their cities or individual works of architecture – mosques, palaces, schools. What I have is a sense of a sprawling, teeming history off the page, out of sight and hearing, beyond reach, largely unrecoverable. Our history is mostly written by foreigners – visiting scholars, intelligence agents – while we rely on personal and disorganized collective memory, gossip almost, and the embrace of a family or knowable community to carry us forward in time.” (Edward Said in London Review of Books, 20 September 1999)

(Yang saya tahu, tak satu pun dari negara-negara Arab memiliki arsip negara yang layak. Tidak juga kantor catatan publik atau perpustakaan resmi yang memiliki kontrol atas monumen atau barang antik dan  sejarah kota mereka atau karya arsitektur individu seperti masjid, istana, sekolah. Apa yang saya miliki adalah perasaan tentang sejarah yang luas dan penuh dari halaman, tidak terlihat dan terdengar, di luar jangkauan, sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sejarah kita sebagian besar ditulis oleh orang asing – sarjana tamu, agen intelijen – sementara kita mengandalkan ingatan kolektif pribadi dan tidak teratur, hampir bergosip, dan pelukan keluarga atau komunitas yang dikenal untuk membawa kita maju tepat waktu.”)

Dia mengirim kutipan ini dengan maksud ingin mengatakan betapa situasi di Indonesia tak jauh berbeda dengan apa yang Said deskripsikan tentang Timur Tengah.

Saya memahami kegelisahannya. Jangankan dia, saya pun memiliki kegelisahan yang sama. Bayangan kita tentang masa lalu kita sendiri masih buram, karena satu dan lain hal. Beruntung, kerja-kerja intelektual maupun kebudayaan yang mengarah ke rekonstruksi kesejarahan kita terasa bergeliat dewasa ini.

Meski begitu, tetap saja ada yang membuat saya tidak nyaman dari kesan yang ditimbulkan dari ungkapan itu. Seolah-olah kutipan itu menegaskan bahwa “Eropa dan anak turunnya begitu keren dan luar biasa karena mampu merawat sejarah. Sebaliknya, betapa kita terbelakang dan memalukan karena berpikir historis saja tak mampu. Kita masih hidup di alam purba yang dalam transmisi pengetahuan masih saja mencampuradukkan fakta dan gosip, mengikuti istilah Said di atas.”

Saya lalu membalas kutipan dari kawan saya di atas dengan sepenggal kutipan lain dari Walid Saleh, yang kebetulan artikelnya baru saya baca kemarin:

Whereas Aristotle considered poetry to be finer and more philosophical than history, we heirs of modernity believe the opposite: the academic discipline of history is a more trustworthy act of remembrance for us than poetry— post-modernism notwithstanding. Historians stand suspicious of poets when they act as historians, and the practitioners of any genre but history are in our eyes the equivalent of poets now.” (Walid Saleh, “Marginalia and Peripheries: A Tunisian Historian and the History of Quranic Exegesis”).

(Sementara Aristoteles menganggap puisi lebih halus dan lebih filosofis daripada sejarah, kami, para pewaris modernitas, justru percaya sebaliknya: disiplin akademik kesejarahan adalah tindakan mengingat yang lebih dapat dipercaya ketimbang puisi. Sejarawan curiga terhadap penyair ketika mereka bertindak sebagai sejarawan dan praktisi dari genre apa pun, tetapi sejarah di mata kita setara dengan penyair sekarang.”

Ya, cara berpikir historis yang ketat seperti kita kenal dalam buku-buku sejarah babon saat ini adalah warisan modernitas. Demikian halnya jika kita membaca literatur sejarah Islam di era kiwari. Praktis, ini bukan tanpa alasan. Lahirnya metode yang sedemikian ketat itu senyatanya memang berasal dari kolonialisasi pengetahuan ala Barat.

Mari kita absen nama-nama seperti Ira M. Lapidus, Philip K. Hitti, atau yang lebih megah lagi, Marshall Hodgson. Nyaris bisa dipastikan jika nama mereka cukup familiar bagi para pegiat studi Islam atau al-Qur’an di Indonesia. Bahkan bukan hanya itu. Yang pertama kali menulis sejarah al-Qur’an dalam pengertian sejarah ketat adalah seorang ilmuwan Jerman, Theodor Noldeke, yang bukunya Geschichte des Qorans telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk Arab. Baru setelah Noldeke-lah, ilmuwan di kalangan Muslim tergugah menulis sejarah al-Qur’an.

Tentu saja, dalam tradisi Islam sendiri ada karya-karya seperti Ta’rīkh, Ṭabaqāt, Fihrist atau yang lain. Karya-karya tersebut menjadi sumber untuk mengulik sejarah pemikiran Islam, tetapi karya-karya itu sendiri tidak ditulis dalam kerangka metode sejarah di atas. Yang paling dekat dengan model ini bisa jadi adalah Muqaddimah-nya Ibn Khaldun. Tetapi saya sendiri baru membaca sepintas dan belum bisa memberikan penilaian tegas tentangnya.

Kembali ke kutipan di atas. Sebagaimana yang dikatakan Saleh, ada cara mengingat masa lalu selain melalui disiplin keilmuan sejarah, yakni puisi. Kita mengenal istilah “Babad”, yang penulisannya tentu berbeda dengan gaya penulisan sejarah masa kini. Fokus penulisan memori masa lalu ala puisi ini bukanlah menyajikan masa lalu itu secara obyektif. Namun, masa lalu itu disajikan dalam kerangka dan retorika bahasa sehingga ia bermakna untuk saat ini. Presisi fakta bukan target yang dituju.

Contoh yang mudah adalah kitab suci. Ulama sudah mengingatkan makna penyajian kisah dalam al-Qur’an adalah pesannya untuk audien al-Qur’an saat itu (atau untuk saat ini), bukan akurasinya secara historis. Dalam titik ekstrim, tidaklah penting apakah kisah pengazaban (Nuh, Salih, Luth, Shu’ayb dan kaum mereka) itu historis atau tidak.

Poinnya adalah kisah itu dihadirkan sebagai perumpamaan bagi audien al-Qur’an saat itu, kendati bagi pengiman kitab suci hari ini, kisah-kisah yang tertuang di dalam al-Qur’an bisa saja memiliki makna baru lagi tergantung situasi mental pembacanya. Dalam bahasa yang agak ngegas, al-Qur’an seolah ingin menegaskan begini: “Hei manusia, kalau kalian mengingkari Rasul (Muhammad) yang dikirim Allah dan tidak mendengar nasihatnya, nasib kalian bakal kaya umat-umat terdahulu yang ingkar, loh!”

Saya butuh data lebih akurat lagi, tetapi kalau tidak keliru, justru di dunia modern inilah muncul ambisi untuk mengatakan bahwa kisah dalam Alkitab, misalnya, adalah historis. Mereka ini biasa disebut dengan kalangan fundamentalis. Yang menarik, kaum fundamentalis ini bisa jadi tidak sadar bahwa kerangka pikirnya dalam melihat kisah dalam Alkitab sebenarnya sangatlah modern.

Pertanyaannya, apakah menggunakan puisi sebagai moda menyimpan dan mentransmisikan ingatan masa lalu musti dianggap terbelakang? Untuk menjawab ini, saya ingat kisah lain lagi.

Pada suatu ketika, teman saya berujar, “Lalu buat apa?” Dalam bahasa Surabayan, “Njuk ngopo?” Pertanyaan itu adalah respon dari cerita panjang saya tentang “sejarah” sesuatu hal. Saya lupa persisnya. Yang pasti, kami sedang berbincang tentang tasawuf falsafi jalur Ibn ‘Arabi.

Dalam hematnya, mengetahui sejarah sesuatu ternyata tidaklah begitu bermakna. Yang sejatinya bermakna adalah menghidupi atau menubuhkan sesuatu itu. Pengetahuan untuk pengetahuan an sich terasa asing dalam konsepnya. Untuk apa pengetahuan kalau akhirnya hanya sebagai duwen-duwen (kepunyaan) semata? Itu muspro—istilah Jawa untuk menunjuk kepada sesuatu yang sia-sia; kalau di telinga dekat dengan kata dalam bahasa Arab, isrāf, yang maknanya senada.

Saya dan beberapa kawan lain yang bersusah payah belajar sejarah atau sejarah pemikiran Islam, jauh-jauh ke Amerika pula, bisa jadi bahan tertawaan yang mudah untuk kawan saya ini, “Buat apa kamu tahu ndakik-ndakik begitu banyak, sementara hidupmu masih gelisah, semata karena kamu lupa bahwa sejatinya belajar adalah menubuhkan apa yang kamu tahu?”

Dari obrolan dengan kawan ini saya jadi ingat, bahwa di dunia ini, rupanya, ada pluralitas epistemologi. Ada beragam konsep tentang mengetahui, juga mengada. Problemnya memang begini: di sebuah dunia di mana alam pikir warisan modernitas sudah seperti nafas yang kita hirup, baik kita sadari atau tidak, bagaimana kita seharusnya bersikap? Apakah kita tinggalkan saja moda puisi ini dan kita peluk sepenuhnya moda sejarah? Ataukah sebaliknya, apakah kita lawan saja arus zaman? Kira-kira formula seperti apa yang bisa menguntungkan kita?

Urusan ini tentu cukup pelik. Belum sampai berpikir bagaimana menyikapinya, kita saja bisa jadi sudah lupa dengan adanya pluralitas epistemologi ini, atau bahwa orang di masa lalu, termasuk nenek moyang kita, punya kerangka pikir terhadap ilmu dan kehidupan yang bisa jadi berbeda dengan kita saat ini.

Terkait ini, saya jadi ingat cerita kawan tentang Khaled Abou El Fadl yang pernah mengritik Mohamed Arkoun. Arkoun menawarkan untuk melakukan dekonstruksi atas tradisi Islam, entah lewat pemutusan epistemologi atau dengan melampaui tradisi. Khaled sama sekali tidak sepakat dengan proposal Arkoun ini. Menurutnya, justru yang sangat mendesak adalah memugar kembali memori umat Islam atas tradisi Islam itu sendiri, alih-alih memutus atau melampauinya.

Tentu saja, Anda bisa jadi merespon dengan cepat-cepat, bukankah untuk memugar memori kita butuh kerja sejarah? Jika demikian, apakah tulisan saya ini sudah cukup menghadirkan ironi?