Prihatin juga ya melihat Pak Jokowi tampil live buat disuntik vaksin kemarin. Apalagi, itu tersiarkan serentak melalui beberapa stasiun TV secara kompak dan nyaris serentak. Seolah semua orang harus tahu, harus melihat.

Oh ya, jangan lupa, dalam acara suntik vaksin perdana itu terjajar juga beberapa petinggi negara, kepala lembaga, tokoh masyarakat, dan bahkan Aa Raffi sang influencer ngetop yang juga turut serta disuntik setelah Pak Jokowi selesai di-cubles.

Fine, kita sama-sama tahu lah acara ini dihelat karena memang ada persepsi kolektif yang ingin dibentuk. Dengannya, pemerintah seolah ingin berkata, “Ini loh, vaksin aman. Presiden, pimpinan IDI, jenderal TNI, sampai artis kesukaanmu aja mau kok. Mosok kamu nggak?”. Pesan moral begini mudah saja ditangkap oleh sebagian besar kita.

Jika demikian, lantas apa yang salah dengan siaran langsung itu? Kenapa pula harus gelisah dan prihatin? Lagian memang soal vaksin ini kan simpang siur, beritanya belepotan disana-sini tanpa kejelasan kebenaran. Kegelisahan masyarakat butuh jawaban, rakyat perlu diyakinkan, dan Pak Jokowi beserta jajaran pemerintahannya, melalui acara ini, ingin membongkar semua persoalan tadi.

Lho, memang sama sekali tak ada soal menyangkut vaksinasi para pejabat. Saya setuju dan sudah semestinya merekalah yang pertama-tama mendapatkan jatah vaksin mengingat posisi dan peran mereka buat negara.

Terlepas dari itu semua, dalam keadaan simpang siur mengenai vaksin ini, keberanian para pemimpn untuk menjadi yang pertama disuntik, memanglah sudah semestinya sebagai bagian dari pelaksanaan kaidah kepemimpinan “ing ngarso sung tulodho” secara paripurna.

Ya jadi normal-normal saja. Yang benar-benar ngganjel buat saya dan menjadi kegelisahan adalah acara yang disiarkan langsung itu lho. Apa sih urgensinya harus pakai siaran langsung? Harus di-zoom-in saat petugas mengambil botol vaksin, diperlihatkan dari dekat lengan Presiden saat di-cus itu, hingga kita sadari dan viral-viralkan gemetarannya dokter kepresidenan yang menyuntik beliau? Kenapa?

Saya kok melihat, berangkatnya Pak Jokowi untuk menjadi orang Indonesia perdana yang divaksinasi Sinovac, ditambah disiarkan secara live agar dilihat khalayak, menunjukkan betapa sulitnya menggerakkan masyarakat yang dipimpinnya agar patuh dan taat pada arahan dan kebijakan pemerintah.

Seorang ketua kelas, yang sudah mengatur jadwal piket harian anggota kelasnya agar tertib dan terstruktur tanggung jawab bersih-bersihnya, tak semestinya harus hadir setiap hari pada semua jadwal hanya untuk memastikan agar pengaturannya berjalan. Apalagi masih harus mencontohkan bagaimana cara menyapu, mengepel lantai, atau mengelap jendela kelas.

Seorang Direktur perusahaan, tak perlu repot-repot ikut mengetik pekerjaan admin yang menagihkan harga pada pelanggan. Cukup arahan dan kebijakan yang dikemukakan di depan, maka tugas selanjutnya dari Pak Direktur adalah mengontrol dan memastikan pekerjaan anak buahnya berjalan dengan baik dan barokah.

Apa iya, sesudah jadi Presiden begini Pak Jokowi harus terus menerus kita paksa memberi contoh sampai sangat teknis dan bahkan harus kita buktikan asli tanpa rekayasa. Hari ini kita paksa beliau menyiarkan langsung vaksinasi yang dilakukannya, jangan-jangan besok njenengan tega juga menyuruh Presiden menampilkan langsung kegiatan beliau saat turun ke got mengecek langsung penyumbatan gorong-gorong? Sudahlahhh… cukup..cukup.. jangan Lur, jangan..

Kembali pada soal vaksinasi tadi, berarti ada subteks yang bisa kita baca dari acara live tersebut, bahwa sebenarnya pemerintah sedang mengalami krisis kepercayaan. Atau, bahkan mungkin sedang mengidap penyakit yang lebih kronis, yakni krisis kepemimpinan yang dialami oleh Presiden Jokowi.

Ringkasnya, bisa kita simpulkan, acara live vaksinasi Presiden adalah pertunjukan yang tak hanya ditujukan untuk menjawab ketakutan masyarakat pada keamanan vaksin, melainkan untuk urusan yang lebih berat lagi, yakni dalam rangka mendongkel ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah, atau pemimpinnya. Dalam hal ini, pangapunten, Pak Jokowi sendiri.

Sayangnya, ada pemetaan persoalan yang sepertinya tak dilihat oleh beliau. Bahwa ketidakpercayaan hanyalah akibat yang tumbuh dan berkembang karena ada sebab dibaliknya. Persoalan ketidakpercayaan bukan untuk dijawab dan ditangkis-tangkis dengan siaran langsung, melainkan harus disembuhkan borok dan penyakit yang menjadi sebabnya.

Manusia-manusia Indonesia adalah orang-orang yang sudah wareg akan hoax dan jungkirbaliknya arahan pemerintahnya yang berubah-ubah dan jarang jadi kenyataan, sehingga apapun yang disodorkan pada mereka, mereka kira sebagai menu hoax atau omong kosong lainnya.

Barangkali Pak Jokowi perlu tahu, ketidakpercayaan mereka akan tunai jika lapar dan dahaganya rakyat disembuhkan dengan menu kejujuran yang dihidangkan oleh pemerintah.