Sebagaimana Yogya, yang mempromosikan dirinya sebagai kota pelajar cum kota wisata, demikian pula hal itu juga bisa disematkan di Malang Raya – mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Sebagai kota pelajar, kampus skala besar sampai kecil tersedia dengan mahasiswa dari seluruh Nusantara, plus sekolah-sekolah dengan banyak siswa. Sebagai kota wisata, hal itu juga bisa ditengok dari ragam lokasi wisatanya mulai pegunungan, kampung dan wahana tematik, juga pantai selatan.

Orang yang pelesir atau menetap sementara di Malang tidak akan melewatkan Batu sebagai tujuan wisata. Sejak zaman kolonial Belanda, Batu adalah destinasi yang menarik, sampai-sampai dulu ia dijuluki “Swiss kecil”. Beberapa orang menyangka bahwa Batu adalah bagian dari Malang. Sejak 2001, Batu adalah kota tersendiri yang otonom, terpisah dari Kabupaten Malang.

Yogyakarta boleh saja dibilang kota sejuta coffeeshop, warung burjo, maupun angkringan, sampai-sampai penyair Joko Pinurbo mengabadikannya dalam sajak-sajak. Tapi pernyataan serupa mungkin juga bisa diajukan untuk daerah Malang Raya. Kafe, warung kopi, sudah seperti jejamuran di musim hujan – bertumbuh sak arat-arat.

Di Malang Raya, apalagi di Batu, restoran, hotel, villa, kafe sudah menjadi sarana wajib persinggahan para pelancong. Wa bil khusus kafe, tiap tempat beradu konsep dan tema demi menggaet pelanggan dari pangsa pasar terbesar ini: anak-anak muda pelajar dan pekerja, dari generasi milenial sampai generasi Z. Mulai dari konsep alam seperti tepi persawahan, view pegunungan dan bukit, atau kombinasi perkebunan beragam buah dan bunga. Ada juga yang menyajikan konsep resort, nuansa vintage, klasik, industrial, maupun joglo. Instagrammable, lingkungannya asyik, plus menunya ramah di lidah – apalagi ramah di kantong, biasanya orang langsung suka dan tertarik. Tapi, bagaimana jika ada konsep dan tema yang melampaui hanya sekadar lingkungan dan pernak-pernik yang cocok dipos di media sosial?

Demikianlah, pada satu sore yang agak mendung, saya berangkat ke Kota Batu, tepatnya di Desa Bumiaji, menuju salah satu kafe bernuansa eco-friendly, rekomendasi dari seorang kawan. Ibad, kawan saya yang menyarankan saya mengunjungi kafe tersebut, membagikan akun instagram sebuah kafe bernama “Retrorika Cafe”. Dari akunnya, kafe ini cukup aktif memposting informasi di Instagram, yang bisa menjadi referensi dan katalog bagi pelanggan yang belum pernah berkunjung sebelumnya.

Saya cek sekalian di Google Maps. Penilaiannya cenderung positif, dan banyak ulasan kesan pengunjung soal lingkungan, konsep, serta bagaimana menu disajikan. Saya pun memutuskan untuk mencicipi suasananya sendiri. Lokasi kafe ini berada di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kira-kira 45 menit dari Stasiun Malang kalau tidak macet di jalur utama ke Batu. Menghindari kemacetan, saya berangkat via daerah Karangploso.

Sesampainya di Retrorika, ternyata hujan mulai turun rintik-rintik. Kafe ini agak masuk ke dalam desa. Jika takut kesasar, ancer-ancer yang paling mudah ditanyakan pada orang di jalan raya adalah Gelora Arjuno atau Pusat Informasi Wisata Bumiaji. Di sekeliling kafe ini ada sawah, perkebunan jeruk, pembibitan bunga, serta agak berjalan ke utara sedikit, tampak juga ada kebun strawberry.

Saya menuju lokasi parkir, dan bercakap-cakap sejenak bersama tukang parkir seputar kafe Retrorika ini. Parkiran kafe saya kira juga bagian dari geliat ekonomi lokal. Sang tukang parkir mengaku warga desa setempat, bergantian jaga parkiran dengan teman-temannya. Lanjutnya, kafe ini sudah berjalan sekitar tiga tahun, dan pemiliknya, adalah warga kota Batu sendiri yang juga punya perhatian pada lingkungan.

“Ya bagus, mas, lek menurut saya orang sini ya. Unik ndak kayak kafe lain, sama ndak banyak sampah.”

Dari tampak depan, kesan retro dan penggunaan barang-barang bekasnya terasa betul. Ornamen dindingnya menggunakan batu bata yang tidak diplamir, ditambah kusen-kusen pintu dan jendela yang banyak sudah lapuk dan berkarat sana-sini. Nuansa alamnya juga kental, di depan bangunan kafe saja sudah ada purwarupa tanaman hias mulai aglonema, beragam kembang, kaktus, gelombang cinta, termasuk yang lagi hits seperti janda bolong. Lebih unik lagi, pot tanaman yang digunakan adalah kaleng kerupuk, bekas kaleng Khong Guan, rantang nasi, cangkir loreng hijau legendaris, jirigen minyak, serta barang-barang plastik lainnya.

Di pintu masuk, terpampang papan informasi berbahasa Inggris. Kira-kira isinya begini: tidak pakai sedotan plastik, tidak pakai tisu, dan cegah adanya sisa makanan. “Sebar Semangat Merawat Ibu Bumi”. Demikian pesannya.

Saya segera menuju tempat pesan menu. Harganya standar kafe-kafe kekinian. Mulai dengan uang 15-20 ribuan, Anda bisa mendapatkan beragam minuman termasuk kopi susu, atau menu camilan termasuk makanan berat. Agar bisa dapat kesan njawani dan klasik, menu wedang-wedangan bisa jadi opsi. Tersedia wedang jahe, wedang uwuh, atau teh poci gula batu yang disajikan dalam teko loreng hijau legendaris. Saya memesan kopi susu, dan sebagaimana banyak kafe sudah beradaptasi dengan metode cashless, saya bisa menggunakan salah satu aplikasi dompet digital.

Banyak sekali barang-barang bekas yang menjadi ornamen hiasan di kafe ini. Rantai, mesin tik, radio transistor, papan plang petunjuk Dinas Perhubungan, plat nomor kendaraan, sepatu bolong-bolong, velg sepeda mulai mobil, sepeda motor, sampai onthel, ditata sedemikian rupa, berpadu dengan tetumbuhan dan kembang yang juga ditata rapi sehingga tentu saja, instagrammable.

Meskipun dari barang-barang bekas, kafe ini tetep instagramable (Doc. Iqbal Syauqi)

Saya duduk di salah satu sudut kafe. Di bangku yang saya duduki ini ada tambalan-tambalan dari plat nomor motor, atau pernak-pernik lain seperti spanduk bekas, rantai, dan lampu-lampu neon yang memberi suasana sendu dan hangat. Asbak rokok diganti kaleng-kaleng susu bekas. Di hadapan saya ada sekelompok anak-anak muda sedang berbincang dengan logat a la anak muda Jakarta. Tidak ada gelas plastik dan sedotan plastik di kudapan mereka di atas meja, yang ada adalah sedotan stainless steel.

Tak jauh dari tempat saya duduk, ada kolam kecil. Di atas kolam ada kran air untuk wudhu. Rupanya air bekas wudhu dari kran tadi disalurkan ke kolam di bawahnya yang berisi ikan mas. Di dinding ditata wadah bekas kaset tape recorder bertumpuk-tumpuk, yang dari sampulnya, sepertinya sampul-sampul album lawasan. Sangat menambah kesan retro.

Kopi susu pesanan saya datang dalam cangkir kecil stainless lawas. Hujan mulai deras, udara Batu yang sejuk semakin dingin. Saya seruput kopi, mulut saya sedikit belepotan, saya mencari-cari tisu, ternyata tidak ada. Ternyata yang tersedia di kafe ini adalah serbet dan saputangan.

Terkesan dengan nuansa kafe, saya berkeliling sambil mengambil beberapa potret foto. Ada taman kecil yang dinamakan “Junk Garden” – berarti, “taman sampah”. Sebagaimana taman-taman yang sudah ada, banyak beragam tumbuhan hias dan kaktus di situ, dalam pot-pot barang bekas. Bahkan ada tumbuhan yang tumbuh di dalam pot dari sepatu. Pengunjung sering mengambil foto dengan latar belakang taman ini. Selain Junk Garden, ada juga spot foto dengan radio dan televisi bekas yang dipadukan dengan rerimbunan tanaman. Tepat di samping kafe, ada kebun bunga. Salah satu bunga yang sedang bermekaran adalah bunga krisan.

Di depan meja kasir, beberapa orang tampak menanti bungkusan untuk dibawa pulang. Bungkusan yang digunakan adalah bungkus dari anyaman bambu, bukan plastik atau styrofoam. Ingin sebenarnya bercakap sekadarnya menggali info dari karyawan, tapi kian sore di sini tambah ramai, dan kelihatannya mereka justru kian sibuk.

Saya membuang sampah yang saya bawa di tempat sampah yang tongnya sudah dipilah: organik, plastik, dan kertas. Di salah satu postingan instagramnya, mereka menjelaskan di antara sampah ini akan dibawa ke Bank Sampah Elha Kota Batu. Mereka juga mendapat barang-barang bekas yang digunakan di sini di antaranya dari bank sampah tersebut.

Sampah-sampah dipilah berdasarkan jenisnya lalu diantar ke bang sampah. (Doc. Iqbal Syauqi)

Tidak lupa menjalankan protokol kesehatan keluar dari kafe, saya mencuci tangan. Saya terkejut ternyata saya cuci tangan di atas TV bekas yang sudah dipermak seperti wastafel, dan sekali lagi, tidak ada tisunya, yang ada malah serbet. Hujan mulai reda, tarkhim magrib mulai mendayu-dayu dari masjid sekitar. Usai sudah aktivitas saya menikmati hujan, kopi dan senja di Retrorika Cafe.

Sampah memang konsekuensi dari produksi. Tapi mungkin kafe-kafe seperti dengan gagasan Retrorika Cafe ini, sepertinya menarik untuk diduplikasi dalam masalah pendaur ulang bahan pakai, dan mungkin juga, adalah langkah kecil “menyelamatkan bumi”. Saya ingin lain waktu lagi berkunjung ke Retrorika, dan sebagai rekomendasi, kafe ini sepertinya bisa menjadi jujugan Anda jika berkunjung ke Kota Batu. Menikmati sejuknya Batu, sembari mencoba menggali inspirasi merawat lingkungan. (AN)

 

*) Artikel ini adalah hasil kerjasama islami.co dengan Greenpeace dan Ummah for Earth