Bagi yang pernah menonton ratusan episode serial anime Naruto, pasti akan sangat paham bahwa salah satu inti cerita dari anime ini adalah tentang pemberantasan organisasi teroris kecil bernama Akatsuki yang berisi kumpulan buronan dari berbagai negara.

Tujuan terselubung Akatsuki adalah menciptakan “kedamaian” di bumi, dengan cara-cara yang ekstrem dan radikal. Dunia damai yang mereka impikan itu adalah dengan membuat umat manusia hidup dalam mimpi indahnya, yang disebut Mugen Tsukuyomi.

Akatsuki menginginkan “kedamaian” di bumi dengan alasan membebaskan manusia dari jahatnya dunia dan kejamnya hukum alam, yaitu bahwa suatu dendam pasti akan melahirkan dendam baru, dendam itu akan melahirkan dendam yang sama pada generasi selanjutnya, begitu seterusnya hingga tak berkesudahan.

Menariknya, cerita Akatsuki ini mirip dengan organisasi teroris pada masa modern. Para teroris (yang menggunakan dalih agama Islam) pasti melakukan cara-cara ekstrem demi mencapai tujuan “suci”-nya, dengan mengebom tempat ibadah misalnya, atau bom bunuh diri di tempat wisata atau hotel yang dituduh sebagai tempat maksiat. Semua ini mereka lakukan demi “kedamaian” di bumi, sama seperti misi Akatsuki.

Sebagai contoh, Obito, sebagai ketua Akatsuki, mirip sekali dengan Osama bin Laden sebagai ketua al-Qaeda. Mereka mendoktrin anggotanya bahwa menegakkan dunia damai di bumi adalah kewajiban. Sebagaimana pemahaman organisasi teroris al-Qaeda: bahwa menegakkan negara Islam dan menghapus kekafiran dari bumi adalah kewajiban.

Telah diperbincangkan di kalangan Islam (sebagai yang paling banyak dituduh sebagai sumber terorisme, apalagi setelah insiden 11 September) maupun di luar Islam, bahwa terorisme merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang melenyapkan salah satu hak natural (natural rights) manusia yakni hak hidup.

Anehnya, kejahatan luar biasa ini adalah hasil dari ketidakpahaman mereka (para teroris itu) terhadap agama mereka sendiri. Para ulama sudah sejak lama mengutuk perbuatan kekerasan seperti terorisme, dan telah diadakan ribuan seminar tentang deradikalisasi baik oleh tokoh-tokoh agama maupun lembaga negara.

Kesimpulan para pengkaji, khususnya tokoh-tokoh Muslim, adalah bahwa para teroris dalam belajar dan memahami agama (yang merupakan legitimasi mereka itu) tidaklah mendalam. Hal ini disebabkan cara pemahaman mereka yang sangat tekstualis dan tanpa analisis terhadap ayat al-Quran atau hadis. Boleh dibilang bahwa pemahaman mereka tentang agama lebih didorong oleh hawa nafsu mereka sendiri.

Organisasi Akatsuki juga kurang lebih seperti itu dalam memahami kehidupan dengan hukum alamnya. Mereka melihat adanya perang di bumi akibat dendam yang terus-menerus, lalu mereka (dengan tergesa-gesa) menyimpulkan bahwa hidup ini tidak baik, jadi mimpi indah adalah lebih baik daripada hidup di alam kenyataan tapi penuh dendam. Dan siapa yang berani menghalangi tujuan ini harus dibunuh.

Ironis bukan, mereka menginginkan tatanan kedamaian tapi dengan cara pertumpahan darah.

Akatsuki maupun organisasi teroris atas nama agama sama-sama menginginkan tatanan kehidupan yang mutlak, dan inilah tepatnya kesalahpahaman mereka. Dunia dengan hukum alamnya ini tidak mungkin hitam putih; selalu baik dan penuh kedamaian, atau selalu buruk dan penuh kejahatan. Tuhan menciptakan keduanya (baik dan buruk) “agar Kami menguji kalian siapakah dari kalian yang akan berbuat baik.”

Kalau Tuhan tidak menciptakan keburukan, tidak akan ada ujian di dunia ini, atau tidak akan ada orang yang membutuhkan petunjuk. Sedangkan al-Quran dan para utusan Tuhan dikirim untuk umat manusia adalah untuk membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju jalan yang benar. Artinya ada prasyarat kegelapan dan kesesatan, yang tidak bisa dibantah keberadaannya. Baru kemudian manusia bisa dibimbing.

Para teroris tidak menyadari ini. Mereka meyakini adanya petunjuk al-Quran, tapi mereka tidak merenungi konsekuensi keyakinannya itu lebih jauh. Mereka tidak bisa menerima kekafiran dan perbuatan dosa sama sekali, seakan-akan merekalah utusan-utusan Tuhan yang punya kehendak untuk menentukan tatanan dunia, dan siapa yang tidak menyetujui mereka maka halal darahnya dan sah diambil hartanya.

Dalam al-Quran banyak sekali ayat yang menegaskan bahwa bertindak teror dan radikal semacam itu tidak boleh. Seakan-akan ayat-ayat tersebut tertuju pada para teroris. Satu ayat yang paling penting dikutip di sini adalah surat Yunus: 99 yang berbunyi:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

“Kalau Tuhanmu menghendaki, maka akan berimanlah semua yang ada di bumi. Maka apakah kamu akan memaksa agar mereka semua beriman?”

Di samping itu, para teroris juga tidak memahami bahwa nilai Islam yang merupakan dasar dari segala ajarannya adalah kasih sayang (Arab: al-rahmah), baik dengan sesama Muslim maupun yang non-Muslim. Hal ini tercermin pada kehidupan Nabi Muhammad yang dulu di kota Madinah hidup damai bersama beragam suku dan agama, dengan kesepakatan Piagam Madinah.

Akatsuki, pada akhir episode, menyadari kesalahannya. Obito, sang pimpinan kepompok, tobat dari kejahilannya dulu dan menyesali semua yang telah ia perbuat. Ia menyadari bahwa secara objektif dunia tidak melulu tentang dendam dan perang. Kalau memang ada beberapa kasus dendam turunan seperti keturunan ninja pada zamannya, kenapa kita tidak memutus saja dendam itu, sehingga kita bisa hidup damai tanpa harus memaksakan tatanan baru?

Walaupun kisah Akatsuki tersebut hanyalah skenario anime buatan Masashi Kishimoto, tapi patut dijadikan pelajaran oleh semua kalangan, terlebih bagi para teroris agama yang bermisi sama dengan Akatsuki. Sepertinya mereka perlu menonton anime Naruto dengan seksama, agar mereka bisa tobat dan insaf seperti Akatsuki, atau setidaknya, agar mereka sadar bahwa hal-hal ekstrem yang mereka lakukan itu menyakitkan dan melanggar hak asasi manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here