Malam itu Kiai Edi AH Iyubenu terlihat sedang sibuk dengan laptopnya. Pokoknya, tampak khusyu sekali. Saya kebetulan sedang duduk di sebelahnya.

Saya taksir, blio sedang dalam keadaan menjaga wudhu. Buktinya adalah ketika ada salah satu santriwati mau bersalaman, Kiai Edi mencukupkan dengan salam bil qulub, sambil berujar “ngapunten ya, saya masih ada wudhu.”

Saya penasaran, apa gerangan yang sedang beliau garap?

Rupanya, Kiai Edi sedang menganggit kata-kata untuk sebuah buku berjudul Muhammadku Sayangku (jilid) 3. Buku yang ditulis-selesaikan dalam tempo kurang lebih lima hari itu memotret wisdom-wisdom dan ibroh-ibroh Kanjeng Nabi.

Ya, ini adalah tahun ketiga bagi Kiai Edi mencurahkan pendar-pendar kasmarannya kepada Sang Nurun fauqa Nurin, Muhammad SAW. Dua (jilid) buku sebelumnya telah dikhatamkan pada dua kali bulan Maulid (Rabi’ul Awwal) sekiranya dua tahun lalu.

Membersamai Kiai Edi sepanjang (kurang lebih) dua kali 60 menit, rasanya tidak pernah sia-sia. Ada banyak hal yang bisa kita gali dan pelajari. Salah satunya adalah tentang ejawantah dari konsep wasathiyah atau moderasi beragama dalam Islam.

Bagi Kiai Edi, wasathiyah adalah keseimbangan hidup, jalan hidup, dalam pelbagai aspeknya. Ilustrasi adalah begini:

“Untuk bisa bersedekah, Anda mesti mengeluarkan uang. Boleh jadi, sikap ini adalah pemborosan. Itu satu ujung. Tapi jika Anda menyangkal total ‘pemborosan’ sedekah ini, maka hasilnya Anda akan jatuh pada kekikiran. Ini ujung lainnya. Sedekah lalu mengantarai keduanya dalam proporsi yang seimbang: unsur keborosan untuk mengatasi kekikiran dan unsur kekikiran diatasi oleh keborosan. Titik moderat antara kedua ujungnya inilah yang disebut sedekah,” terang Kiai Edi, mengadaptasi tamsil dari Prof. Quraish Shihab.

Yang menarik adalah itu semua ternyata bukan sekadar gubahan kata-kata atau untaian retorika. Prinsip moderasi beragama ini tinubuh dalam setiap derap langkah dan pantulan sikap Kiai Edi.

Ada satu cerita unik. Satu waktu, terdapat seseorang, sebut saja Konco, mengalami tragedi. Laptopnya kejatuhan buah kelapa dari pohonnya. Ya, benar-benar dari pohon kelapa yang kebetulan mengalami tumbuh-kembang di sebidang tanah yang kini menjadi kafe milik Kiai Edi.

FYI, ada sedikitnya 8 kafe milik blio yang tersebar di Yogyakarta. 6 kafe bernama Basabasi, 2 sisanya bernama Mainmain dan Lehaleha. Di sini tidak perlu dijelaskan lokasi persisnya lah ya. Kamu bisa ketik sendiri di Gmaps dengan kata kunci “Kafe Basabasi”, atau “Kafe Mainmain”, atau “Kafe Lehaleha” .

Nah, si Konco itu sedang ngopi di salah satu cabang Kafe Basabasi, bilangan Tamantirto Bantul. Tapi, ngopi dalam tradisi masyarakat kiwari itu bukan literally minum kopi saja. Seringkali, “ngopi” hanyalah sebuah kedok untuk aktivitas lain yang sifatnya produktif dan terkadang sebatas leisure.

Ilustrasi: Kafe Basabasi Tamantirto

Apesly, pohon kelapa tempat Konco berteduh tidak kuasa menolak gaya gravitasi bumi. Maka, gugurlah sebiji buah kelapa utuh itu ke bawah, menyetubuhi alat produksi milik Konco. Remuk.

“Untung yang kejatuhan itu cuma laptopnya, bukan orangnya,” kelakar Kiai Edi sejurus setelah mendengar kabar yang masyaAllah tersebut.

Merasa turut bertanggungjawab, blio lalu mengadakan pertemuan dengan Konco. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bahwa Kiai Edi akan membantu beaya pembelian laptop baru, kendati tidak seutuhnya. Dan, inilah menariknya.

Melihat pundi-pundi omset yang dimiliki dan betapa nyah-nyoh-nya Kiai Edi, bukan tidak mungkin jika Konco bakal mendapat ganti rugi secara penuh. Tapi bukan di situ duduk perkaranya. Dengan garansi berupa santunan sewajarnya, marwah dari aspek human error pun tetap terjaga.

“Bahwa secara finansial saya mengalami rugi, itu mungkin iya. Dia beli kopi seharga lima sampai sepuluh ribu kok imbalannya sampai sekian juta. Tapi kan kita tidak bisa memandang realitas sehitam-putih itu. Bagi saya, setiap peristiwa adalah akumulasi dari keseimbangan semesta,” terang Kiai Edi.

“Jadi, prinsipnya adalah antaradhin, saling rela, happy to happy. Saya percaya kalau mestakung (semesta mendukung) itu adalah niscaya. Bahasa islaminya adalah sunnatullah. Artinya, kalau kita memperlakukan orang secara properly maka semesta pun akan auto mengkondisikan semua hal-hal baik kepada kita,” tambahnya.

Selain di kehidupan nyata, Kiai Edi juga masyhur di dunia maya. Hingga tulisan ini dibuat, akun twitter @edi_akhiles telah diikuti sedikitnya 45,1K orang. Jika kamu menyapa lewat media sosial, Kiai Edi tidak akan segan menyapa balik. Apalagi jika disertai teks shalawat Nabi saat hari Jum’at, maka siap-siap saja cuitanmu itu bakal berbalas mention setamsil “segera DM rekening!!”

Tapi jangan keliru dan buru-buru kegirangan. Namanya siap-siap, pasti probabilitasnya tidaklah 100%. Kiai Edi akan tahu mana akun atau nomor rekening yang benar-benar siap mental dalam mendapat transfer cuan cuma-cuma.

Sekali lagi, prinsipnya adalah wasathiyah atau moderasi dalam beragama. Biarpun atas nama sedekah, kalau dilakukan dalam derajat ekstrem, itu namanya bukan lagi sedekah, tetapi pemborosan. Salah-salah, itu bukan lagi karena Gusti Allah, tetapi terjebak oleh nafsu yang rentan sekali menimbulkan fitnah.

Lha gimana, sedekah secara tulus saja masih potensial kena fitnah kok, apalagi kalau sebatas pencitraan. Maka Islam mengajarkan bahwa sedekah itu seyogianya dijalankan dengan seimbang, proporsional. Karenanya sedekah tak bisa distandarisasikan, atau dipakemkan, atau digebyah-uyah nominalnya.

“Boleh jadi seseorang bersedekah 100 juta sebagai titik seimbang antara kekikiran dan keborosan tadi. Pun boleh jadi orang lain bersedekah 50 ribu atau cukup dengan senyuman sebagai titik seimbangnya,” tegas Kiai Edi.

Lebih dari itu, sedekah ternyata menghindarkan orang dari laku serakah. Serakah biasanya take off dari kepalsuan citra (menjadi) kaya dan umumnya bakal bermuara di samudera petaka. Jadi, untuk meminimalisir kenestapaan hidup, sedekah bisa menjadi alternatif logis bagi siapa saja yang ingin kaya hati.

“Sebab hakikat kekayaan bukanlah soal limpahan saldo, meski besaran isi rekening pun tak bisa dinafikan,” kata Kiai Edi.

Blio lalu memberi ilustrasi yang cukup konkret dari relasi serakah dan (kurang) sedekah.

“Agar hatimu nggak berat untuk ringan tangan, maka anggap saja sebagian profitmu itu laksana tinja. Bau, menyiksa, dan mengundang penyakit. Makanya yang kayak begitu harus dibuang. Semakin banyak dibuang, ya semakin bersih dan lancar ambekan.”

“Ibaratnya, makan terus tanpa beol tentu akan jadi penyakit. Profit oriented tapi menelantarkan orang, karyawan, atau tim, ya kelak akan meradang,” pungkas Kiai Edi.

Yap, sungguh ending yang sangat mengiyubenukan.