Manusia tempatnya salah dan lupa, di saat yang sama, manusia juga tempatnya benar dan berkembang jika mau belajar dari kesalahan dan berefleksi dari pengalaman.

Jikalau introspeksi diri alias muhasabah diumpamakan bercermin, sepertinya kurang lebih ada 3 tipe cermin.

1. Tipe cermin bening. Dapat merefleksikan bayangan dengan baik dan sempurna karena cerminnya rajin di elap seumpama orang yang rajin introspeksi diri alias muhasabah, rajin dielap berarti setiap ada debu sedikit alias melakukan kesalahan dia melakukan perbaikan, tobat kepada Allah, minta maaf sama orang yang bersangkutan dan rajin mengevaluasi dan mengembangkan diri. Karena cerminnya jernih diapun jadi bisa berfikir jernih untuk mengambil keputusan, sekaligus bisa berfikir kritis dan melihat gambaran besar suatu masalah. Karena cerminnya jernih, orang ini bisa mengenali segera kesalahan yang ia perbuat dan segera memperbaikinya.

2. Tipe cermin berembun, kalau dipakai bercermin buram dan tidak jelas. Tipe orang ini tidak merasa ada yang salah sama dirinya dan malas “ngelap” padahal “embun” mudah sekali dielap kalau mau. Dia berfikiran sempit dan mudah dihasut orang karena berkaca pada diri sendiripun tidak bisa, jadi tidak punya pendirian deh.

Kemampuan untuk membedakan benar dan salah pun menjadi kabur, tidak bisa membedakan dakwah dan ghibah, tidak pula bisa membedakan antara menasihati dan menghina.

3. Tipe cermin yang sudah banyak noda hitam dan retak. Ini sudah lumayan parah karena benar-benar tidak rajin berkaca dan merawat “cerminnya”, cerminnya menjadi bernoda nyaris permanen.

Ketika enggan memperbaiki diri, merasa tidak perlu mengevaluasi diri meskipun sudah banyak melakukan kejahatan dan kerusakan. Merasa paling benar, tidak bisa merasa empati dan melihat dari perspektif orang lain. Bahkan dia bisa saja merasa seperti berbuat baik padahal berbuat jahat.

Contoh mudah misalnya teroris yang merasa bangga dan senang membunuh orang yang padahal jelas batilnya, tapi masalahnya dia sudah tidak bisa ngaca, kacanya sudah hitam. Dia pun kesulitan melihat suatu perkara dengan jelas karena cerminnya retak, dia butuh perspektif orang lain untuk bisa melihat kesalahannya. Akan dibutuhkan bantuan tenaga dan perhatian akan regulasi dan edukasi publik mengenai hal seperti ini.

Karena yang membuat kita tumbuh menjadi lebih baik, bukanlah semata karena kita banyak belajar dan banyak pengalaman, tapi dari bagaimana kita mampu merefleksikan apa yang kita alami dan pelajari untuk mengevaluasi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here