Saat ini peristiwa bencana beberapa kali dihubungkan dengan azab atau pembinasaan. Padahal jika ditelisik lebih lanjut, terdapat setidaknya tiga jenis bencana dalam Al-Qur’an.

Berikut 3 Jenis Bencana dalam Al-Qur’an

  1. Bala’ (Ujian)

Bala’ merupakan suatu ujian yang dapat mengangkat derajat seseorang bila ia mampu melewatinya dengan baik, seperti kesadaran, keikhlasan, serta tawakal kepada Allah. Selain itu, bala juga dapat mempertebal keimanan dan ketaatan seorang hamba, bahkan dapat menjadi perantara dihapusnya dosa.

Pernyataan ini dikonfirmasi oleh Ikrimah dalam Tafsir Al-Qurthubi (W. 671 H),

وَقَالَ عِكْرِمَةُ: مَا مِنْ نَكْبَةٍ أَصَابَتْ عَبْدًا فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا بِذَنْبٍ لَمْ يَكُنْ اللَّهُ لِيَغْفِرَهُ لَهُ إِلَّا بِهَا أَوْ لِيَنَالَ دَرَجَةً لَمْ يَكُنْ يُوصِلُهُ إِلَيْهَا إِلَّا بِهَا

“Ikrimah berkata: Tak ada satu malapetaka atau lebih yang menimpa seorang hamba kecuali untuk mengampuni dosa yang telah dilakukan, dimana Allah tak mengampuninya kecuali dengan malapetaka tersebut. Atau untuk mencapai derajat yang tak mungkin diperolehnya melainkan dengannya.” [Syamsuddin Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an (Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah), vol. 16, h. 31]

  1. ‘Iqab (Hukuman)

Iqab ialah hukuman yang diberikan Allah kepada hambanya akibat melampaui batas dalam melanggar aturan Tuhan. Hal ini seperti tindakan manusia dalam meng-eksploitasi alam secara berlebihan. Seperti tindakan illegal loging (penebangan liar), dan membuang sampah sembarangan yang dapat merusak dan mengganggu ekosistem alam. Akibatnya terjadi peristiwa longsor ataupun banjir akibat ulah manusia yang menyalahi sunatullah dalam pemanfaatan sumber daya.

  1. Azab (Pembinasaan atau Siksaan)

Azab atau pembinasaan terjadi pada umat terdahulu yang menolak ajakan para Nabi untuk mengesakan Allah Swt. tatkala para Nabi itu sibuk menyerukan keimanan, kaum tersebut justru malah asyik tenggelam dalam kekufuran. Akibatnya, sebagai bentuk respon ketidakpatuhan mereka Allah mengirimkan azab agar membinasakan kaum tersebut.

Imam Fakhruddin Ar-Razi (W. 606 H) dalam tafsir-nya mengungkapkan,

وَأَمَّا الْقَائِلُونَ بِأَنَّ هَذِهِ الْمَصَائِبَ قَدْ تَكُونُ أَجْزِيَةً عَلَى الذُّنُوبِ الْمُتَقَدِّمَةِ، فَقَدْ تَمَسَّكُوْا أَيْضًا بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يُصِيبُ ابْنُ آدَمَ خَدْشُ عُودٍ وَلَا غَيْرُهُ إِلَّا بِذَنْبٍ أَوْ لَفْظٍ»

“Adapun pendapat yang menyatakan bahwa musibah terkadang merupakan balasan atas dosa di masa lampau juga berdasarkan hadis Nabi Saw. beliau bersabda: Seorang manusia tidak terkena goresan kayu dan yang lainnya kecuali akibat dosa atau perkataan” [Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib (Beirut: Dar Ihya Turats Arabi), vol. 27, h. 600)

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky menyebut bahwa umat terdahulu memang mendapatkan musibah dan wabah sebagai azab. Namun bagi umat Nabi Muhammad, musibah dan wabah adalah rahmat dan ujian, agar umat Nabi Muhammad semakin meningkat ketakwaannya. Itulah keutamaan menjadi umat Nabi Muhammad.

Bahkan, al-Razi mengutip surat al-Nahl ayat 61, jika semua orang yang melakukan salah atau maksiat mendapat azab, maka tidak akan ada lagi manusia di bumi ini.

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ

Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan.

Menurut al-Razi, yang dimaksud dengan waktu yang ditentukan adalah hari pembalasan kelak. 

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita hendaknya tidak gegabah serta merta menyangkutpautkan peristiwa bencana dengan azab. Karena, bisa jadi musibah tersebut merupakan bala’ (cobaan) yang bertujuan untuk menguji keimanan seseorang, sehingga sikap kita ketika diuji ialah harus bersabar dan ikhlas.

Selanjutnya, sikap muslim tatkala menyaksikan musibah yang menimpa ialah selalu mengedepankan prinsip husnudzon (berprasangka baik) dan tidak diperkenankan mengklaim bahwa mereka yang terdampak bencana ialah orang-orang yang celaka serta dimurkai oleh Allah SWT. Seorang muslim harus meyakini bahwa tidak ada musibah yang menimpa hamba-Nya kecuali terdapat nilai kebaikan dan kemaslahatan di dalamnya. (AN)

Wallahu ‘Alam Bisshawab.