Bagaimana, kok bisa ada Muslim yang ateis dan Mukmin yang Tidak Muslim? Ini adalah Penafsiran atas Ayat Alladzina Amanu Wa’amilus Shalihat oleh Said Nursi. 

Hampir setiap muslim, khususnya muslim tradisional yang hidup di perkampungan sedari kecil setidaknya pernah mendengar atau menghafal hadist yang diriwayatkan oleh Muslim ini: Ma Huwa al-Iman, Ma Huwa al-Islam wa Ma Huwa al-Ihsan?

Digambarkan oleh Sayidina Umar, bahwa ketika ia dan para sahabat sedang duduk santai dengan Nabi, mak bedunduk datang seorang laki-laki dengan penampilan yang serba putih bersih dan berambut hitam. Lelaki ini kemudian duduk dihadapan Nabi seraya bertanya perihal tiga hal di atas.

Ketika di-interview oleh lelaki itu, Nabi dengan penuh keyakinan menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dijawab Nabi, yakni perihal pertanyaan “Kapan datangnya kiamat?”. Beliau lebih memilih mengembalikan pertanyaan ini kepada si penanya. Kata Nabi, Mal Mas’ul ‘Anha bi a’lama min as-Sail (Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya). Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai ciri-ciri kiamat. Untuk yang terakhir ini Nabi bisa menjawabnya.

Singkatnya, setelah interview selesai, Umar—yang tentunya bertanya-tanya perihal siapa lelaki tadi—diberitahu Nabi bahwa yang baru meng-interview beliau adalah malaikat Jibril yang sedang menyerupai manusia untuk mengajari perihal agama. Sontak Umar dan para sahabat pun kaget mendengar penjelasan Nabi. Dan itulah percakapan singkat yang menjadi dasar umat Islam dalam beragama selama hampir 15 abad hingga saat ini. Yakni rukun atau kewajiban dalam ber-islam, ber-iman dan ber-ihsan.

baca juga: Mengenal Said Nursi, Ulama dari Turki

Saya tidak akan merinci pengertian ketiganya, karena husnudzon saya para pembaca islami.co sudah mengetahuinya. Yang ingin saya bahas adalah perihal persoalan yang bisa jadi muncul di tengah umat Islam perihal bagaimana cara mereka mempraktekkan kedua hal yang pertama diatas, yakni berislam dan beriman, lebih-lebih ber-ihsan.

Persoalan yang muncul adalah “Apakah seorang yang berislam (baca: muslim) sudah barang tentu beriman?” Atau dengan pertanyaan sebaliknya, “Apakah seseorang yang beriman (baca: mukmin) sudah tentu berislam?” jawabannya, belum. Apakah saya sok tahu? mari kita lihat diri kita dan lingkungan di sekitar kita.

Untuk mengurai persoalan yang cukup mendasar di atas, saya menggunakan salah satu pandangan dari tokoh modern asal Turki yang bernama Said Nursi, khususnya melalui karya tafsirnya Risalah Nur. Tokoh ini menarik tidak saja karena ia berulang kali keluar masuk bui saat menulis tafsirnya, akan tetapi, ia memiliki perhatian yang sangat besar dalam memperkuat keimanan masyarakat muslim Turki saat itu yang sedang “diserang” ideologi sekuler, paham materialisme dan positivisme. Maka, tidak sedikit masyarakatnya yang jatuh pada lubang ateisme.

Nursi melihat bahwa Islam adalah sebuah komitmen, sementara iman adalah ketundukan. Dengan kata lain, Islam adalah sikap loyal, pasrah, dan taat pada kebenaran. Sedangkan iman adalah sikap menerima dan mengakui kebenaran.

Nursi bercerita bahwa dulu ia melihat sebagian orang ateis memperlihatkan loyalitas yang sangat kuat terhadap hukum-hukum Al-Qur’an. Dalam arti, di satu sisi orang ateis bisa disebut muslim melalui komitmennya terhadap kebenaran. Ia menyebut orang ini sebagai “muslim tanpa agama”. Namun, di sisi lain, ia juga melihat bahwa banyak orang beriman yang tidak memperlihatkan loyalitas terhadap hukum-hukum Al-Qur’an serta tidak memiliki komitmen terhadapnya. Nursi menamai orang ini sebagai orang mukmin, tapi bukan muslim. “Kok tambah muter2 kang?”

Jadi gini, mudahnya, orang dianggap mukmin karena mengaku percaya kepada Allah, rasul, kitab-kitabnya, dst. ternyata dalam kehidupannya tidak mampu menjalankan ajaran Islam dengan baik. Contoh, bermuamalah dengan baik, jujur, adil, dll. Sedangkan orang yang mengaku ateis—dalam penglihatan Nursi saat itu—ternyata bisa melakukan hal-hal di atas.

Pertanyaan lebih jauh kemudian muncul, “Lalu, apakah iman tanpa Islam ataupun Islam tanpa iman bisa menjadi sebab keselamatan di akhirat kelak?” Nursi menjawab, keduanya tidak bisa menjadi penyebab keselamatan. Di sini lah penafsiran ayat “Amanu Wa ‘amilu as-Salihat” dijelaskan oleh Nursi. Baginya, baik amanu maupun ‘amilus shalihat (ber-Islam) harus saling terkait, tidak boleh dipisahkan.

Bila dipikir-pikir, memang banyak di antara muslim sekarang, apalagi di Era Tiktok, yang mengaku berislam (bersyahadat, shalat, zakat, dst) akan tetapi hatinya tidak sampai (wushul) kepada Allah. Atau bahasa mudahnya, semuanya itu tidak dipersembahkan kepada-Nya, akan tetapi dipersembahkan bagi manusia, kekuasaan bahkan kepopuleran semata. Karena hatinya tidak wushul kepada Allah (ibadah dzohiriyah saja), maka tidak heran bila banyak praktek korupsi, pembunuhan, ketidakadilan, dll.

Di sisi lain, banyak pula yang mengaku beriman (mengakui Allah Tuhannya, Nabi Muhammad utusan terakhir, dst.) akan tetapi shalat saja tidak pernah, apalagi puasa, apalagi zakat, apalagi dan seterusnya. Jangan protes ketika kemudian muncul istilah “Islam KTP”. Entah siapa yang mempopulerkannya, tetapi memang benar adanya.

Karena itulah, kembali pada hasil interview antara Nabi dan Malaikat Jibril di atas, ada satu lagi dasar yang perlu diperhatikan umat Islam, yakni ihsan. Ihsan ini menjadikan ibadah maupun tingkah laku seseorang menjadi Indah. Benar-benar Indah. Ia memaksa dirinya untuk meyadari bahwa seolah-olah ia sedang bermuwajjahah dan berkomunikasi dengan Tuhan. Bila ia tidak mampu, cukuplah ia meyakini bahwa semua yang dilakukan adalah karena Allah (karena merasa dilihat oleh-Nya).

Merujuk pada penjelasan Nursi di atas, mau menjadi muslim yang “ateis” atau mukmin yang tidak muslim? Semua berada di tangan kita. Apakah kita jadinya jadi muslim yang ‘ateis’ atau ya memang kita jadi muslim yang ‘tidak muslim’

Kita diberi kebebasan oleh Allah karena kita manusia. Bila berhasil (mengalahkan ujian dunia), kita pantas menyandang label lebih mulia dari Malaikat. Bila gagal, kita bisa jadi sekutu syetan atau bahkan lebih hina darinya (Na’udzubillah).

Allahu A’lam.