Bagaimana hubungan Nabi SAW dan para penyair? Pertanyaan ini mungkin perlu kita ulas. Mengingat selama ini oleh beberapa orang, Islam dianggap anti kesenian dan musik.

Puisi dan Masyarakat Arab Jahiliah Kala Itu

Jauh sebelum Islam datang, puisi merupakan hal yang tidak terpisahkan dari masyarakat Arab Jahiliah, seperti kita dan media sosial hari ini: nyaris menyatu. Puisi bukan barang baru bagi mereka, puisi telah mengakar dan mendarahdaging dalam tradisi masyarakat Arab kala itu. Hari-hari mereka diisi dengan puisi-puisi yang dilantunkan dan dinyanyikan dalam berbagai kondisi dan keadaan dengan bahagia, sukacita, sekaligus penuh ironi.

Puisi memiliki peran besar untuk mencatat maupun merawat ingatan masyarakatnya secara kolektif. Sebab puisi, menurut Arieh Loya dalam “Poetry as a Social Document” yang diterbitkan International Journal of Middle East Study (1975), adalah satu-satunya monumen penanda kehidupan sosial dan kultural bangsa Arab. Lebih dari sekadar ekspresi artistik individual, puisi adalah cara mereka untuk menjelaskan diri mereka secara kolektif. Tidak hanya itu saja, puisi menjadi ajang bagi mereka untuk meraih eksistensi dan popularitas. Puisi-puisi terbaik akan diperlombakan di pasar-pasar, disalin dengan tinta emas, dan dipajang di dinding ka’bah. Hal ini terus berlanjut sampai datangnya ajaran Islam.

Nabi Mengapresiasi para Penyair dan Puisi-Puisinya

Lalu, bagaimana kedudukan puisi dalam Islam? Bagaimana pula cara Nabi Saw menanggapi puisi yang marak pada masa itu? Aha, kita bisa mulai mencari jawaban dari dua pertanyaan ini. Saya akan coba menyajikan beberapa hadis sahih, yang menujukkan Nabi Saw mengapresiasi kerja para penyair terhadap puisi-puisi gubahan mereka. Bahkan, tidak hanya itu saja, dalam beberapa kesempatan Nabi Saw pun turut memberikan komentarnya.

Pertama, Ada sebuah hadis yang penting untuk kita simak dan telaah. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Jami’ as-Sahih (Dar Ihya al-Turath, 1402 H, Jilid: 4, Nomor Hadis: 1767). Sebuah pengalaman menarik yang diceritakan oleh Amru bin al-Sharid dari Ayahnya, al-Sharid: Suatu ketika aku membonceng Nabi Saw dalam sebuah perjalanan. Di tengah perjalanan tersebut, mendadak saja Beliau bertanya:

“Apakah kamu hafal beberapa bait puisi karya Umayyah bin Abi al-Shalt?”

Aku menjawab, “Ya, Aku menghafalnya.”

“Lantunkanlah!” Nabi Saw memintaku melantunkannya.

Aku pun melantunkan satu bait dari puisi Umayyah bin Abi al-Shalt. Manakala selesai kubacakan satu bait, Nabi Saw meminta kembali: “Lanjutkan!” Aku pun melantunkan satu bait lagi. Ketika selesai kubacakan untuknya satu bait, Nabi Saw menimpali dengan permintaan yang sama: “Lanjutkan!” hingga aku purna melantunkan 100 bait puisi.

Betapa Nabi Saw menikmati puisi-puisi sarat makna dari seorang penyair, Umayyah bin Abi al-Shalt, untuk mengiringi perjalanannya. Imam an-Nawawi memberikan uraian dalam Syarh Shahih Muslim lin Nawawi, yang penting untuk kita cermati, puisi Umayyah berisikan pesan-pesan ketauhidan dan gambaran tentang hari kiamat. Hadis ini menjadi landasan mengenai kebolehan dalam membaca puisi selama tidak mengandung kekejian, tentu sekaligus pembolehan untuk mendengarkannya. Sedangkan hal yang harus dijauhi adalah bertindak berlebihan, bahkan sampai mengabaikan syariat agama Islam.

Kedua, Nabi pernah memuji serta mengapresiasi secara terang-terangan puisi salah seorang sahabat, Lubaid bin Rabiah. Hadis ini dapat kita telusuri dari riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya Jami’ as-Sahih, Nabi Saw bersabda:

“Kalimat paling benar yang diucapkan oleh seorang penyair adalah kalimat Lubaid: “Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah baṭil (rusak dan binasa)” Penggalan puisi ini berisikan pesan yang mendalam mengenai ketauhidan Allah Swt. Nabi menjadikan puisi Lubaid bin Rabiah sebagai media untuk memberikan nasihat serta penghayatan terhadap nilai-nilai luhur Islam, terutama ketauhidan Allah Swt.

Ketiga, Apakah Nabi pernah membaca atau mengutip puisi? Jawaban ini dapat kita temukan dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, kesaksian langsung dari salah seorang istri nabi, sayidah Aisyah, beliau mewartakan:

Seseorang bertanya: “Apakah Nabi Saw pernah membacakan puisi?”

“Nabi Saw pernah membacakan puisi Abdullah bin Rawahah, mengutip satu bagian, “Sungguh telah datang kepadamu suatu berita tanpa tambahan,” jawab sayidah Aisyah.

Nabi Saw mengutip dan membacakan puisi yang berisikan motivasi ini ketika pada masa perang Khandaq dengan tujuan agar para sahabat Nabi Saw lebih bersemangat. Nabi mengutip puisi tersebut tanpa bumbu yang dilebihkan ataupun dikurangi. Bukan berita bohong atau mengada-ngada. Penggalan puisi ini dapat mengunggah kesadaran para sahabat yang menyimak maupun mendengarkannya.

Keempat, lebih menarik lagi, masih berkisah tentang Abdullah bin Rawahah, salah seorang sahabat yang puisinya disadur oleh Nabi Saw. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan Nasa’i, peristiwa ketika Nabi Saw masuk ke kota Makkah pada masa umrah. Abdullah bin Rawahah sedang berjalan di depan beliau sembari membacakan puisinya:

Berikan jalan kepada anak orang-orang kafir / Hari ini kami akan memukul kalian di rumah kalian / Dengan pukulan yang menghilangkan kesedihan dari peraduannya / Dan menjauhkan seorang kekasih dari kekasihnya.

Melihat kejadian tersebut, Umar menegurnya, “Wahai Ibnu Rawahah, di hadapan Nabi Saw dan di dalam Masjid al-Haram kamu berani membacakan puisi?” Belum sempat Ibnu Rawahah menjawab, Nabi Saw lebih dulu menimpali, “Biarkan dia, Umar, sebab hal itu lebih mempercepat dari siraman yang baik.”

Kelima, Nabi pernah menjadikan puisi sebagai sanggahan dan alat perlawanan kepada kaum kafir Quraisy yang menghinakan agama Islam. Dalam sebuah hadis cukup panjang –saya akan coba ringkas saja dalam catatan ini—diriwayatkan Imam Muslim. Suatu hari Nabi Saw pernah mengutus seseorang kepada Abdullah bin Rawahah untuk menyampaikan pesan beliau:

“Cacilah kaum kafir Quraisy dengan puisimu!”

Kemudian Abdullah bin Rawahah melancarkan sanggahan beserta serangan balik kepada mereka dengan puisi-puisinya. Namun, ejekan dan hinaan para kafir Quraisy semakin menjadi-jadi. Tidak cukup sampai di situ, Nabi Saw mengirim seorang utusan kepada dua penyair ulung lainnya, Ka’ab bin Malik dan Hassan bin Tsabit.

Ketika utusan tersebut tiba, Hassan berkata, “Telah tiba saatnya engkau mengutus singa yang mengipas-ngipaskan ekornya, menjulurkan, serta menggerak-gerakkan lidahnya. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya akan menyayat-nyayat hati kaum kafir Quraisy dengan puisi-puisi saya seperti sayatan kulit.”

Para penyair yang senantiasa berada di barisan terdepan untuk membela Islam dan jiwa Nabi Saw, Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Kaab bin Malik. Mereka senantiasa menjadi pelindung Nabi dari olok-olokan kaum kafir Quraisy. Mereka melindungi agama Islam serta jiwa Nabi Saw tidak selalu menggunakan pedang, melainkan puisi.

Keenam, untuk menutup serta menyempurnakan bagian ini, mari kita simak sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitabnya, Sunan Abu Dawud.

Nabi bersabda: “Sesungguhnya terdapat hikmah di antara (bait-bait) puisi”

Hadis yang singkat dan padat. Hadis yang menjadi landasan, bahwa berdakwah maupun menyampaikan pesan kebaikan bisa melalui media puisi. Syaikh Musthafa Dib al Bugha, Ulama masyhur asal Damaskus, memberikan komentar tentang makna “hikmah”. Ia menuturkan bahwa hikmah di sini berarti sebuah ucapan yang berguna untuk mencegah kebodohan. Lanjutnya, hikmah merupakan ucapan yang benar dan selaras dengan kenyataan yang diperbuat. Bahasa puisi yang indah dan memukau dapat menyentuh perasaan yang keras, membangkitkan semangat hidup, serta menjadi jalan kebaikan lainnya.

Hal ini tentu selaras dengan ajaran Islam, di mana jalan berdakwah harus melalui cara yang baik. Tidak kasar, keras, maupun memaksakan kehendak. Puisi menjadi alternatif yang tepat, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para penyair muslim di zaman nabi, untuk menyampaikan kebenaran serta membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat. (AN)