Pernikahan Pangeran Sedo Laut dan Sayyidah Waliyah Zainab berlangsung ketika Kanjeng Sunan Giri dan Kanjeng Sunan Sendang telah wafat. Giri Kedaton, saat itu, berada di bawah pimpinan Sunan Prapen. Dalam rangka mengukuhkan agama Allah di sekitar wilayah pemerintah Giri, maka Sunan Prapen mengutus saudara tirinya, Pangeran Sedo Laut beserta istrinya (Sayyidah Waliyah Zainab) ke pulau Bawean. Pangeran Sedo Laut diutus sebagai penguasa Bawean untuk meneguhkan pemerintahan Islam di sana di bawah pimpinan Pemerintah Islam Giri Kedaton yang berpusat di Demak. 

Mereka menuju Bawean yang terletak di Laut Jawa dengan radius kira-kira 80 mil sebelah Utara Surabaya Jawa Timur. Saat itu, mereka diperkirakan masih dalam suasana pengantin baru, yaitu pada tahun pertama pernikahan mereka antara 1595-1600 M. 

Sebelum misi dakwah Pangeran Sedo Laut dan Sayyidah Waliyah Zainab terwujud di pulau Bawean, mereka dipisahkan oleh tragedi (kecelakaan) di laut yang menimpa sang suami beserta rombongan dalam perjalanan Giri-Bawean.

Nama Sedo Laut adalah julukan yang disandangkan kepadanya lantaran tragedi itu, yang kurang lebih mengisyaratkan makna: Dia yang diutus sebagai penguasa pulau Bawean untuk mengakkan Pemerintah Islam di pulau Bawean disambut dengan “tragedi” yang menewaskan (sedo) sang Pangeran Giri itu di tengah samudera (laut).

Sebelumnya, keberangkatan mereka ke Bawean adalah bersama rombongan yang terdiri dari sanak kerabat Sendang dan Giri. hanya saja semuanya tewas di tengah laut, kecuali Waliyah Zainab. 

Alhasil, Waliyah Zainab menuju Bawean seorang diri dengan menaiki mancung (kelopak bunga kelapa) dan berlabuh di pelabuhan administratif syahbandar Komalasa Bawean. Menaiki mancung (Kelopak bunga kelapa) adalah bentuk sebuah keajaiban (karamah) beliau sampai di pulau Bawean dengan selamat.

Dapat di bayangkan, beliau adalah seorang wanita yang baru saja merasakan suasana indahnya pernikahan, kemudian bersama suami tercinta menuju Bawean untuk mengemban misi dakwah, dan secara tiba-tiba ditinggal sendirian di tengah perjalanan sebelum sampai tujuan. Bukan perkara mudah bagi seorang wanita yang mampu bertahan dalam situasi dan kondisi seperti ini.

***

Sesampainya Sayyidah Waliyah Zainab di pelabuhan bawean yang terletak di Komalasa, beliau lalu berada di bawah pengawasan Syahbandar Komalasa. Perlu diketahui bahwa Syahbandar merupakan gelar kedudukan terhormat, dimana segala urusan menyangkut transportasi dan transmigrasi berada di bawah pengawasannya.

Lantas, setelah mengetahui bahwa wanita yang sekarang ada di bawah pengawasannya itu adalah seorang bangsawan yang terhomat, Syahbandar Komalasa memberanikan diri untuk menyampaikan bahwa dia ingin menikahi Sayyidah Waliyah Zainab, walaupun saat itu warga setempat belum mengenal siapa Waliyah Zainab sebenarnya. Yang mereka tahu adalah seorang wanita yang terdampar seorang diri tanpa membawa bekal materi sepersen pun. 

Di luar dugaan, Sayyidah Waliyah Zainab menolak dengan tegas lamaran Syahbandar. Penolakan itu ternyata menyinggung dan memukul kehormatan Syahbandar. Bagi pendudukan Komalasa, ditolaknya lamaran Syahabandar oleh Sayyidah Waliyah Zainab dinilai sebagai sesuatu yang mengherankan. 

“Bagaimana mungkin lamaran seorang Syahbandar yang terhormat dapat ditolak begitu saja oleh wanita asing dan miskin yang selama ini ada di bawah pengawasannya,” gerutu salah satu warga Komalasa. 

Syahbandar Komalasa tidak hanya kecewa, tetapi lebih parah lagi dia merasa diruntuhkan kehormatannya. Maka di titik itulah Syahbandar lalu menyebar opini kepada orang-orang setempat, bahwa kedatangan Sayyidah Waliyah Zainab dianggap sebagai wanita pembawa penyakit dan sial.

Sungguh berat apa yang menimpa Sayyidah Waliyah Zainab ketika dituding sebagai wanita pembawa sial. Atas tudingan Syahbandar kepada Waliyah Zainab, beliau kemudian meninggalkan Komalasa. Beliau terus berjalan menapaki belantara pulau Bawean dan sampai akhirnya sampai di sebuah desa bernama Ponggo.

Seperti halnya kedatangannya di pelabuhan Komalasa seorang diri, di desa Ponggo pun Waliyah Zainab masih dalam keadaan berduka. Tak ada sepersenpun materi yang dibawa dan tak ada tempat tinggal yang dapat disinggahi. 

Lalu, beliau ada di pantai berbatu di desa Ponggo yang sedikit menjorok ke laut. Sayyidah Waliyah Zainab menangis seorang diri sambil melihat hamparan lautan yang menelan kisah-kisah sedih dan abadi di sana. Tak ada seorang pun yang menghampiri, hanya hembusan angin dan hembusan nafasnya yang berat. 

Sebagai penghormatan, sampai sekarang masyarakat di Ponggo menamai pantai berbatu yang menjorok ke laut itu dengan sebutan Tanjung Menangis. Sebuah nama yang mencerminkan keprihatinan masyarakat Ponggo terhadap Sayyidah Waliyah Zainab. Seolah tangis beliau adalah rimbunan pohoh-pohon kelapa dan pantai bebatuan tempat beliau singgah.

Ada beberapa murid-murid Kanjeng Sunan Sendang yang berasal dari Bawean. Itu artinya, di antara murid-murid Kanjeng Sunan Sendang, rata-rata mereka telah mengenal Sayyidah Waliyah Zainab. Mereka berguru di pesantren Sendang saat beliau berusia 10 tahun dan tiba di Bawean saat umur 20 tahun. Setelah mereka mengetahui bahwa Sayyidah waliyah Zainab adalah cucu Sunan Sendang sekaligus mantu Sunan Giri, beliau lalu disambut dengan penuh ta’dzim dan memberi perlindungan serta dukungan penuh dari murid Sunan Sendang dan Giri. 

Tentu saja mereka memberi andil dan peran yang sangat istimewa dalam bentuk moral, sosial dan material. Setelah Sendang dan Giri kedaton mendengar keberadaan Waliyah Zainab di Ponggo yang sudah mapan dengan fasilitas yang diperoleh di sana, beberapa orang kalangan dari keluarga Sendang dan Giri Kedaton menyusul dan menetap bersama beliau.

Keberadaan Sayyidah Waliyah Zainab di Ponggo semakin terkenal dan menjadi tauladan bagi komunitas Islam di sana. Beliau mengajarkan nilai-nilai Islam dan masyhur sebagai figur tauladan dalam mempraktekkan nilai-nilai Islam dalam hidup bermasyarakat, berkeluarga dan bertetangga. 

Seiring keadaan yang terus berkembang, Sayyidah Waliyah Zainab terus memperoleh dukungan, tidak saja dari para murid Sendang dan Giri Kedaton, melainkan juga dari beberapa masyarakat yang bukan warga Ponggo saja. Ya, mereka menaruh kepedulian terhadap misi dan cita-cita suci beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here