Film Sisterlillah mencoba mengulik pertayaan bagi umat Islam di Indonesia tentang bagaimana sih sosok ideal muslimah beserta jawaban-jawaban dan stereotype. 

Bagaimana sosok perempuan ideal dalam Islam? Pertanyaan yang masih diajukan hingga sekarang. Pastinya, jawaban yang kita jumpai sangatlah beragam, mulai dari bersumber kitab suci hingga hal-hal yang bertalian dengan adat dan tradisi masyarakat setempat.

Pertanyaan di atas juga dijadikan narasi utama dalam sebuah film berjudul “Sisterlillah: Cita, Cinta, Muslimah”. Kita telah ketahui bersama sejak film “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”, imaji Muslimah ideal mulai menjadi arus utama dalam beberapa film Islami.

Akan tetapi, imaji tentang perempuan muslim ideal yang dihadirkan lewat beberapa film Islami tidaklah seragam dalam berbagai variabelnya sendiri. Hal ini disebabkan imaji Muslimah ideal tidak lagi baku atau sesederhana apa yang telah lazim dipahami di masyarakat.

Jika dua atau tiga dekade lalu, sehelai kain persegi panjang bernama kerudung sudah dianggap bagian dari keislaman. Maka, di masa sekarang narasi perempuan dan aktivitas keislamannya telah banyak berubah. Hal yang sama juga terjadi di dunia perfilman Indonesia. Seorang perempuan harus dipasangi dengan berbagai atribut untuk ditandai sebagai Muslimah yang taat.

Film sebagai media yang banyak dipilih berbagai kalangan untuk menyelipkan pesan secara massif di masyarakat. Sebagai bagian dari budaya populer, film memang memiliki keunggulan tersendiri dalam proses propaganda, yakni penonton secara tidak sadar bahwa apa yang ditontonnya telah memasuki nalar alam bawah sadarnya.

Untuk itu, jika kita menelisik lebih dalam film “Sisterlillah: Cita, Cinta, Muslimah”, maka kita akan memahami bahwa berbagai narasi selain agama turut berkelindan dengan narasi moral agama yang dikoar-koarkan dalam film. Aneka narasi tersebut turut ditanamkan bersamaan dan seringkali terabaikan karena tidak disampaikan secara literal dalam film.

***

Film berdurasi 90 menit tersebut berkisah tentang seorang perempuan bernama “Mala” dengan empat orang sahabatnya, yakni Rara, Siska, Dina dan Mina. Mereka berjumpa di sekolah asrama setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas. Sekolah tersebut bernama Sekolah Tinggi Muslimah, semacam kampus berasrama yang menyediakan pendidikan khusus untuk perempuan.

Walau tidak dijelaskan atau digambarkan secara gamblang bagaimana kampus tersebut, namun manajemen kampus sangat konsen pada penataan moral seorang muslimah. Aturan ketat dibuat dalam kampus untuk membuat (baca: membatasi) gerak-gerik perempuan, terutama mereka yang memiliki kekasih atau pacar.

Kondisi tersebut menambah kegalauan Mala yang sebelumnya sudah sangat mengkhawatirkan lingkungan kampus. Dia takut lingkungan yang tidak “Asyik” bagi anak muda seperti dirinya, namun dengan terpaksa dia pun tetap mengikuti saran keluarganya. Terlebih, Mala memiliki seorang kekasih bernama Dewa. Dan pacaran adalah pelanggaran paling berat dalam kampus tersebut.

Kegalauan dan kegelisahan Mala tersebut mendapatkan jalan keluar yang ditawarkan oleh para sahabat tersebut, terutama Rara. Rara bersama teman lainnya mengusulkan kepada Mala untuk memutuskan kekasihnya tersebut untuk kebaikannya sendiri. Dia pun menuruti  memutuskan hubungan pacarannya dengan Dewa.

Dia mulai masuk dalam lingkungan yang diperkenalkan oleh Rara dan kawan-kawan, yakni Singlelillah. Diksi tersebut diperkenalkan Kang Abay, penulis dan motivator, untuk menggantikan istilah jomlo yang telah lebih dahulu populer di kalangan anak muda.

Ketika ditanya Rara tentang kapan rencana menikah, Mala menjawab dengan tidak tahu. “Ya sudah, lebih baik jadi Singlelillah dulu aja” begitu tawaran Rara kepada Mala. Dalam status tidak terkait dalam sebuah hubungan, mereka dapat mempersiapkan diri untuk

Mereka pun sepakat untuk membuat sebuah kelompok yang mereka beri nama “Sisterlillah”. Kelompok yang awalnya hanya teman satu kamar di asrama Sekolah Tinggi Muslimah yang berubah menjadi persahabatan hingga mereka membina rumah tangga.

Baca juga: Kriteria Pasangan ideal menurut Islam

Dalam film sisterlillah ini juga digambarkan sosok perempuan yang cerdas dan aktif, Rara didapuk menjadi pimpinan tidak resmi dalam kelompok. Kelima perempuan tersebut kemudian ikut berbagai lomba dan mengaktualisasi diri mereka dengan berbagai kemampuan mereka, seperti menulis, olahraga, ceramah, debat ilmiah, berwiraswasta dan lain-lain.

Sebagian besar dari kelima perempuan tersebut dicitrakan sebagai orang yang berasal dari kelompok kelas menengah, ditandai dari model pakaian, aktivitas bersosialisasi, kegiatan harian dan lain-lain. Oleh sebab itu, perbincangan mereka berlima pun sangat dekat dengan kultur dan gaya hidup kelompok kelas menengah tersebut.

Tidak berbeda jauh dengan film Islami lainnya, kehadiran sosok laki-laki yang sempurna tetap dihadirkan. Sosok seorang ustaz bernama Hasyim yang digambarkan laki-laki keren, modis, memiliki pengetahuan agama yang luas dan aktuil, dan disukai banyak perempuan. Selain itu, konsep sosok muslimah yang ideal didedahkan dengan gamblang dan tersirat sekaligus.

Ya, film Sisterlillah yang diolah oleh Teladan Cinema dan Cinemora Pictures ini memiliki pesan yang cukup sederhana sekaligus tegas, yakni idealisasi pergaulan dan aktualisasi kehidupan seorang perempuan muslimah. Dalam narasi inilah, film berdurasi 90 menit tersebut berulang kali memberikan kode tentang tempat belajar yang dikelola oleh Kang Abay, yang diberinama sama dengan judul film.

***

Sekarang, produksi sebuah film Islami yang menghadirkan narasi terkait moralitas sudah bukan barang yang garib. Bahkan, kanal Youtube sudah dibanjiri film-film indie yang bernarasi Islam. Anak-anak muda yang dikenal sangat tech-savvy sangat akrab dengan berbagai gawai memproduksi berbagai konten digital, terutama visual seperti film dan video pendek.

Film berdurasi 90 menit lebih ini sebenarnya adalah sebuah film pendek serial berjumlah enam episode. Menariknya, film ini cukup banyak mendapatkan jumlah viewers yang besar, yakni sekitar hampir 500 ribu (sebagai catatan: angka tersebut mereka peroleh hanya dalam beberapa bulan saja). Jelas, bukan angka yang bisa dibilang sedikit untuk ukuran film indie.

Popularitas gambar bergerak di masyarakat Indonesia semakin naik dengan bantuan gawai yang makin canggih dan mudah digunakan. Ariel Heryanto menyebut popularitas film di Indonesia terkait dengan lingkungan sosial yang sangat berkiblat dengan komunikasi lisan. Hal ini yang dijadikan Ariel berasumsi orang Indonesia lebih peka dengan pesona gambar bergerak dan menjadi lebih tanggap pada kamera video ketimbang mesin pengolah kata.

Dalam perbincangan tentang hubungan antara film, Islam dan perempuan, maka narasi muslimah ideal yang dihadirkan dalam film Sisterlillah sangatlah bias kelas. Selain yang sudah saya ungkap di atas, berupa model pakaian, rumah hingga aktivitas keseharian. Narasi yang dihadirkan juga turut bias kelas, terutama kelas menengah.

Dalam film digambarka seorang muslimah yang ideal adalah perempuan beragama Islam yang bebas beraktivitas sekaligus mempromosikan nikmatnya menjadi konsumen pasif terhadap barang-barang mewah dan gaya hidup tertentu. Muslimah ideal dalam film ini tetap menghadirkan laki-laki sebagai poros keluarga, dan wanita mengabdi padanya, karena sudah menjadi kodratnya. Namun, di saat yang bersamaan mereka tetap menginginkan kemerdekaan ekonomi dan kesetaraan gender.

Penggambaran muslimah yang dihadirkan oleh kelompok penganjur narasi Hijrah tidak melulu dengan relasi yang timpang. Mereka sekarang lebih banyak bicara perempuan yang memuliakan etika bekerja keras kapitalistik, sikap rajin dan kegigihan, termasuk perempuan yang tak jengah dengan barang-barang branded.

Film diproduseri oleh Adhitya Bayu ini juga menggambarkan betapa cairnya dinamika konsep muslimah ideal di kalangan Islamis, termasuk Kang Abay. Jika sebelumnya sosok Anna Althafunnisa dipuja-puja dan diduplikasi, dari perilaku hingga gaya berpakaian, sekarang seorang muslimah ideal dapat hadir lewat sosok Mala yang lugu dan masih rendah penguasaan agama, namun mau belajar.

Perubahan model muslimah ideal sepertinya masih terus bergerak menyesuaikan perubahan zaman. Hal ini disebabkan narasi keislaman di kalangan Islamis terus berkelindan dengan berbagai budaya pop, yang menuntut mereka terus bernegosiasi, bertarung dan berkompromi dengan nilai-nilai yang selama ini mereka tolak, seperti liberalisme, kesetaraan gender, dan kapitalisme

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here