Salah satu nikmat terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kemerdekaan. Selayaknya sebuah nikmat, kita perlu mensyukurinya. Berikut ini khutbah Jumat tentang mensyukuri nikmat kemerdekaan.

Naskah Khutbah Jumat Pertama: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَيَّدَ حَبِيْبَهُ المُصْطَفَى كَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَأَنْزَلَ عَلَيْنَا الْقُرآنَ كَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا، فَمَنِ اقْتَدَى بِهِمَا عَاشَ فِي ضَوْءِ النَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا، وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْهُمَا تَخْبِطُ فِي ظُلْمَةِ الَّليْلِ إِذَا يَغْشَاهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله خلق النَفْس فسَوَّاهَا، فأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا، قد أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وقد خَابَ مَن دَسَّاهَا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَخْبَرَهُ رَبُّهُ أّنَّهُ أَهْلَكَ ثَمُوْدًا بِطَغْوَاهَا، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعالى لَا يَخَافُ عُقْبَاهَا، صَلَّى الله وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ مِنْ أُمَّتِهِ أُوْلَاهَا وَأُخْرَاهَا. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاس إتَّقُوا اللهَ جَلَّ وَعَلَى. وَقَالَ اللهُ تَعاَلى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا. وَاسْمَعُوا نِدَاءَ رَبِّكُمْ لَكُمْ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Maasyiral Muslimin Hafidzakumullah

Sudah berjuta-juta nyawa, logistik, pikiran dan pemikiran yang dipertaruhkan anak-anak bangsa ini dalam usahanya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kemerdekaan yang telah resmi diproklamasikan pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945 adalah anugerah besar yang telah Allah berikan. Anugerah ini bukan berarti mengabaikan usaha-usaha yang telah dilakukan, namun, bagian dari usaha para pejuang bangsa yang tidak kenal lelah dan putus asa.

Ini adalah janji Allah “barang siapa yang berbuat baik sebiji zarah maka dia akan melihat balasannya, barang siapa yang berbuat keburukan sebiji zarah maka dia akan melihat balasannya” (al-Zalzalah [90]: 7-8).

Maasyiral Muslimin Hafidzakumullah

Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Musa lebih banyak menceritakan perlawanannya dengan pemimpin negara yang diktator, dia lah Fir’aun. Penindasan demi penindasan, pembunuhan, pelecehan terhadap perempuan Bani Israil adalah bagian dari derita yang harus ditanggung di bawah kepemimpinan raja yang dzalim, bahkan memiliki ambisi untuk menjadi Tuhan. (Ibnu Katsir: 1997, vol. 4, 479)

Menurut al-Farra’, salah satu mufassir kenamaan, Fir’aun dan pengikutnya memang banyak menyiksa masyarakat Bani Israil dengan beragam bentuk penyiksaan. Semua penyiksaan tersebut tidak akan dihentikan kecuali menyembelih mereka. Bahkan menurut Imam al-Baghawi, Tadzbih (penyembelihan) dalam Q.S Ibrahim: 6 bukanlah berarti penyembelihan secara hakiki, melainkan gambaran derita Bani Israil atas siksaan-siksaan Fir’aun kepada mereka. Allah menyebutkan siksaan-siksaan yang diderita Bani Israil dalam QS. Ibrahim [14]: 6.

وَإِذ قَالَ مُوسَى لِقَومِهِ اذكُرُوا نِعمَةَ اللهِ عَلَيكُم إِذ أَنجَاكُم مِن الِ فِرعَونَ يَسُومُونَكُم سُوءَ العَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبنَاءَكُم وَ يَستَحيُونَ نِسَاءَكُم وَفِي ذَلِكُم بَلاَ ءٌ مِن رَبِّكُم عَظِيمٌ

“Ketika Musa berkata kepada kaumnya: “ingatlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian, yaitu, ketika Allah menyelamatkan kalian dari tentara Fir’aun yang menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih dan menyembelih anak-anak kalian dan mempermalukan istri-istri kalian. Hal tersebut adalah bala’ yang besar dari Tuhan kalian”.

Maasyiral Muslimin Hafidzakumullah

Imam al-Thabari mengatakan bahwa ayat ini menceritakan kisah Nabi Musa AS yang meminta kepada umatnya untuk mengingat nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Sedangkan Nabi Muhammad SAW diperintah Allah untuk mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa tersebut.

Mengingat dapat berarti juga memperingati, karena memperingati adalah mengingat kejadian-kejadian yang lalu. Mengingat yang diperintahkan Nabi Musa as. kepada umatnya adalah bentuk usaha agar kebahagiaan-kebahagiaan yang lalu membangkitkan hati mereka untuk bersyukur dan berdiri di jalan yang diridhoi-Nya.

Al-Tustari (w. 465 H.) dalam tafsirnya “lathaif al-Isyarah” menjelaskan bahwa dengan mengingat nikmat-nikmat yang telah lalu akan melahirkan dan menyegarkan kebahagiaan-kebahagiaan yang telah lewat. Bahkan al-Tustari mengutip salah satu hadis “jullibat al-quluub ‘alaa hubbi man ahsana ilaihaa” (al-Tustari: 2007, vol. 2, 117) (hati seseorang tercipta untuk mencintai orang yang telah berbuat baik kepadanya).

Betapa pentingnya mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, hingga dengan tegas Allah berfirman:

وَإِذ تَأَذَّنَ رَبُّكُم لَئِن شَكَرتُم لَأَ زِيدَنَّكُم وَلَئِن كَفَرتُم إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Ketika Tuhan memberi izin kepada kalian, seandainya kalian bersyukur maka benar-benar akan saya tambahka nikmat kalian dan apabila kalian kufur sesungguhnya siksaku sangatlah pedih” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Maasyiral Muslimin

Ayat ini memiliki hubungan yang sama dengan ayat sebelumnya. Dalam artian, ayat ini juga perintah untuk Nabi Muhammad SAW. dan umat-umatnya tidak lupa untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada hamba-hambanya dengan tak terbatas.

Mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada mahluk-mahluknya adalah keuntungan untuk manusia itu sendiri, karena, Tuhan tidak membutuhkan apa yang kita kerjakan. Hal sebaliknya, mengkufuri nilmat-nikmatnya, juga tidak berpengaruh pada dzat Allah. Allah berfirman:

وَقَالَ مُوسَى إِن تَكفُرُوا أَنتُم وَمَن فِي الاَرضِ جَمِيعًا فَإِنَّ الله لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Musa berkata: apabila kalian dan seluruh mahluk di bumi bertindak kufur, maka sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha kaya (tidak membutuhkan) dan maha dipuji” (QS. Ibrahim [14]: 8).

Maasyiral Muslimin

Dari penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk menjelaskan kepada umatnya tentang kisah Nabi Musa as. yang meminta umatnya untuk mengingat nikmat-nikmat pemberian Allah kepada mereka. Sebelum mendapatkan anugerah-anugerah tersebut, Bani Israil hidup dalam kungkungan, penindasan, tekanan dan penjajahan yang dilakukan oleh Fir’aun.

Dalam konteks ke-Indonesiaan dapat dikatakan, setelah kekejaman penjajah telah terusir secara politik dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa ini, memperingati kemerdekaan adalah bentuk syukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang telah di berikan kepada kita.

Syukur adalah sebuah keharusan, meskipun Allah tidak membutuhkan kata terima kasih dan sejenisnya dari manusia secara khusus maupun semua mahluk secara umum. Bersyukur berarti mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Syukur berarti menjauhi untuk menjajah sesama manusia, bersikap baik kepada sesama, menghormati dan menghargai tetangga, mereka yang berbeda pendapat dan pilihan.

فَستَغْفِرُوا فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرٍيْنَ فَيَا نَجَاتَ التَّائِبِيْنَ

Contoh Teks Khutbah Jumat Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَر، وَأَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَر، وَاَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلإِنْسِ وَالْبَشَرِ.اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَر.أَمَّا بَعْدُ:فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ، وَذَرُو الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَن، وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْــمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِه، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: ((إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ، يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّات،

اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَن، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَر

Baca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini.

Download teks khutbah Jumat yang lain di sini.