Syekh Sulaiman Arrasuli (1871-1970) termasuk salah satu tokoh penting di Minangkabau. Beliau mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) pada 5 Mei 1930 di Sumatera Barat, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan dakwah. Beliau juga mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Candung, yang sampai sekarang masih eksis dan menjadi salah satu pusat pembelajaran Islam di Sumatera Barat.

Syekh Sulaiman Arrasuli semasa hidupnya tidak hanya fokus mengajar di Madrasah, beliau juga aktif dalam gerakan sosial dan politik untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadilan dan sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Pada tahun 1957, beliau bersama para ulama lainnya, yang tergabung dalam Majelis Syura wal Fatwa Sumatera Tengah, menginisasi Kongres Alim Ulama se Sumatera untuk mendiskusikan problem kebangsaan.

Salah satu masalah yang menjadi perhatian ulama pada waktu itu adalah kemungkaran semakin menjamur di masyarakat dan korupsi menjangkit sebagian pemimpin. Berikut transkip dari pidato pembukaan Syekh Sulaiman Arrasuli dalam Kongres Alim Ulama se-Sumatera yang di adakan di Bukittinggi pada 14-17 Maret 1957. Naskah hasil kongres ini ditemukan dalam koleksi Perpustakaan Universitas Leiden Belanda.

 

Poto sampul naskah Kongres Alim Ulama se-Sumatera
[Poto sampul naskah Kongres Alim Ulama se-Sumatera]

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Guru-guru, Alim Ulama, hadirin dan hadirat yang berhadir dalam resepsi ini.

Lebih dahulu saya meneranhkan, bahwa kemerdekaan yang telah kita terima dalam beberapa tahun yang lalu, ialah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Oleh sebab itu, saudara-saudara sekalian, kita bersyukur sekali lagi kepada Tuhan yang memberikan nikmat itu. Menurut ayat yang saya bacakan tadi:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Kiranya kita pandai mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita, Tuhan akan menambahnya. Dengan arti kita seluruhnya mempergunakan nikmat itu kepada yang diridhainya. Maka di sini, kemerdekaan yang telah kita terima beberapa tahun yang lalu, yaitu kemerdekaan negara Indonesia, hendaklah kita pergunakan nikmat itu kepada yang diridhai-Nya.

Sekarang, sudahkah kita pergunakan nikmat itu menurut yang semestinya atau belum? Dan sudahkah tercapai keridhaan-Nya atau belum? Menurut saya, belum. Sebab belum tampak oleh saja apa keadaan-keadaan yang telah berubah daripada sebelum merdeka. Hanya yang tampak oleh mata saja sekarang, ialah kemungkaran-kemungkaran dan kemaksiatan-kemaksiatan yang banyak. Seperti, bebasnya pergaulan antara laki-laki dan perempuan, pakaian Barat yang menjadi kebiasaan daripada wanita, dan dalam keramaian pasar malam masih dihiasi dengan judi.

Biarpun sudah beberapa kali diberitahukan oleh Djawatan Agama, namun judi berjalan terus.

Selain dari itu, mari kita tinjau pemimpin-pempin yang di pusat. Sudahkah memakai keadilan dalam mempergunakan uang atau belum. Dalam hal ini kita telah sama mengetahui hal yang demikian.

Saya masih ingat ketika Presiden Sukarno datang ke rumah saya di Candung di zaman penjajahan Belanda. Saya bertanya kepada beliau, sebab menurut pandangan saya yang bodoh, semuanya baik, jalan-jalan, bandar-bandar, sawah. Segalanya bersih dan semuanya cukup, negeri aman. Karena itulah yang tampak oleh saya.

Presiden menjawab, “Inyiak tahu, bahwa hasil daerah kita ini 50 % dikirim ke negeri Belanda, sedang yang 50 % lagi digunakan untuk daerah. Adilkah ini namanya? Dan orang-orang kita yang pandai tidak boleh dinaikan pangkatnya sebagaimana pangkat Belanda.”

Sesudah mendengar yang demikian, saya mengucapkan terima kasih, oleh karena bertambah pengetahuan saya. Kemudian saya bernazar dalam hati saya supaya Indonesia dapat merdeka. Alhamdulillah, Tuhan telah menurunkan kemerdekaan itu atas bangsa kita.

Semoga karunia dan nikmat kemerdekaat itu dapat kita pergunakan bersama-sama. Tapi kenyataannya tidak ada perubahan. Sekolah-sekolah banyak yang bocor. Maka saya bertanya dalam hati, kemanakah uang 50 % itu dipergunakan? Barangkali itukah yang dipergunakan oleh pimpinan di pusat untuk pergi pelesir kian kemari?

Oleh sebab itu, kita melihat telah banyak kemungkaran-kemungkaran, rakyat menderita kesukaran, bak pepatah orang minangkabau:

“Nan luruih lah kuruih, nan bungkuak lah gapuak.”

Oleh karena itu, kami anggota Madjlis Syura wal Fatwa menganjurkan untuk mengadakan Kongres Alim Ulama se-Sumatera. Alhamdulillah oleh karena aktifnya panitia dapatlah dilangsungkan Kongres ini dalam masa yang sesingkat-singkatnya.

Kemungkaran-kemungkaran, kehinaan-kehinaan, kemaksiatan-kemaksiatan, telah merajalela. Pemimpin diam saja terhadap keaadan yang demikian. Inilah yang mendorong hati kami menganjurkan supaya Kongres Alim Ulama diadakan.

Beberapa tahun yang lalu, kami diundang oleh Presiden/Kabinet untuk datang ke Cipanas guna menghadiri kongres Alim Ulama. Waktu itu seluruh yang hadir memandang Presiden, kabinet, dan Parlemen sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati. Akan tetapi bak pepatah Minangkabau mengatakan:

“Raja adil raja disambah, raja zalim raja disanggah.”

Saudara-saudara yang terhormat.

Hari ini terserahlah kepada hadirin untuk menghilangkan kemungkaran-kemungkaran yang yerjadi ini. Sebagaimana Nabi telah mengatakan:

من رأى منكم منكرًا فليغيرْه بيدِه فإن لم يستطعْ فبلسانِه . فإن لم يستطعْ فبقلبِه . وذلك أضعفُ الإيمانِ

Artinya:

“Orang yang melihat kemungkaran dan kemaksiatan hendaklah dirobahnya dengan tangannya, jika dia tidak kuasa maka dirobahnya dengan lidahnya, jika dia tidak kuasa, maka dirobahnya dengan hatinya, ketahuilah bahwa yang terakhir ini adalah yang lemah iman.