Mengapa kebanyakan orang Indonesia merasa biasa saja pada fenomena keminggris, tapi malah ngegas begitu ketemu dengan fenomena ngarab? Ngomong “Akhi-Ukhti” dikirah hijrah, ngomong “Yes, which is” kok biasa aja.

Mengapa saat ada orang bicara Arab sedikit-sedikit, seperti sering manggil ana-antum/akhi-ukhti, orang-orang kemudian banyak yang menganggapnya sebagai Kadrun, sok Arab, sok islami, sementara kalau ada orang yang keminggris dianggap biasa saja?

Tentang bahasa, orang-orang Indonesia ini sebenarnya tidak sensitif. Spirit nasionalisme yang dibangun di Indonesia tidak atas dasar bahasa, walaupun dalam sejarah nasional kita dikenang peristiwa Sumpah Pemuda yang menyebut tiga hal dasar nasionalisme kita, yaitu bahasa, tanah air, dan bangsa. Mengapa?

Mari simak ulasan Benedict Anderson soal ini. Indonesianis kawakan ini secara cerdik mengulas politik bahasa yang dilakukan oleh penjajah Indonesia. Menurutnya, Indonesia itu dalam waktu lama tidak lah dijajah oleh Belanda, melainkan oleh VOC, perusahaan multinasional pertama di dunia. Karena dijajah oleh perusahaan, maka tak seperti Malaysia atau India yang dijajah oleh Kerajaan Inggris, penjajahan di Indonesia tak mengemban misi kebudayaan, melainkan lebih banyak mengemban misi dagang (untung-rugi).

Berpijak pada prinsip dagang, maka VOC pun berupaya menekan sekecil mungkin biaya produksi agar bisa dapat meraup banyak untung. Sebagai salah satu cara untuk menekan biaya bisnisnya, VOC yang pegawai-pegawainya tidak hanya berasal dari Belanda itu kemudian memilih untuk mewajibkan pegawai-pegawainya untuk berbahasa melayu, bahasa yang sudah popular di Indonesia sejak lama. Ini dilakukan karena lebih murah daripada menyuruh pegawai-pegawainya untuk belajar bahasa Belanda.

Pendek kata, bangsa Indonesia itu tidak terjajah secara bahasa oleh VOC. Penjajah tidak pernah memaksa orang Indonesia memakai bahasa Belanda. Tidak ayal, untuk urusan bahasa, orang Indonesia pada akhirnya tidak terlalu sensitif. Nasionalisme bahasa itu tidak menubuh dalam jiwa bangsa Indonesia.

Tapi, kok di sumpah pemuda disebutkan tentang bahasa juga? Ya, memang dalam sumpah pemuda ada penyebutan istilah satu bahasa, bahasa Indonesia. Tapi, itu tidak terlalu berpengaruh besar pada fondasi nasionalisme kita, karena fakta sejarah memang menujukkan bahwa bahasa Indonesia itu tidak pernah dijajah Belanda. Sebelum sumpah pemuda pun bahasa Indonesia (waktu itu bernama bahasa Melayu) memang sudah menjadi bahasa pengantar di Indonesia.

Sampai di sini mestinya dapat dimafhumi mengapa fenomena keminggris itu tidak membuat orang-orang Indonesia yang lain jadi baperan. Latar belakang kealpaan fondasi nasionalisme bahasa ini, mestinya juga bisa mengantar orang-orang Indonesia untuk juga tidak baper melihat fenomena ngarab, karena secara kasat mata keduanya sama-sama merupakan fenomena bahasa.

Tapi ternyata realitas berbicara beda. Ini berarti, fenomena ngarab, berbicara campur-campur dengan bahasa Arab, itu tidaklah semata dibaca sebagai fenomena bahasa oleh kebanyakan orang Indonesia, melainkan juga dibaca sebagai fenomena ideologi. Sebagai fenomena bahasa, sebenarnya peng-Arab-an itu sudah terjadi sejak lama di bumi Nusantara ini.

Bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia, menurut Syed Muhammad Nauquib al-Attas, itu baru menjadi bahasa yang canggih setelah persentuhannya dengan bahasa Arab. Sebelum melakukan pengadopsian besar-besaran terhadap bahasa Arab, bahasa Melayu itu tidak mampu untuk mebicarakan konsep-konsep filsafat atau keilmuan. Karena bahasa Melayu tak seperti bahasa Jawa yang sudah dapat banyak pengaruh dari bahasa Hindu-Budha.

Bahasa Melayu baru menjadi canggih setelah diperkaya para ulama-ulama Islam Nusantara, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Abdul Ro’uf Singkel, dkk. Ulama-ulama Nusantara itu secara aktif memasukkan konsep-konsep ajaran Islam terhadap bahasa Melayu, sehingga bahasa Melayu pun menjadi bahasa yang sanggup menjangkau problem-problem filsafat dan keilmuan pada saat itu. Itu artinya, orang-orang Indonesia sudah sejak lama tidak mempermasalahkan merasuknya bahasa Arab dalam bahasa Indonesia.

Lantas, kenapa saat ini banyak orang Indonesia kemudian sering mencap kadal gurun (Kadrun) pada orang-orang yang ngarab, atau orang yang kesehariannya manggil akhi-ukhti? Orang-orang Indonesia saat ini amat senisitif terhadap fenomena ngarab, lantaran orang-orang yang biasa ngarab itu kebanyakan mengemban misi nasionalisme Arab Saudi. Sejak tahun 1970-an, Arab Saudi mendapatkan berkah dari kilang-kilang minyaknya. Negeri ini menganut aliran Wahabi, aliran berkedok Islam salaf tapi menyimpan semangat nasionalisme Arab Saudi.

Aliran Wahabi ini termasuk aliran minoritas dalam Islam, cuma ada Saudi saja waktu itu. Karena negara ini memegang kunci atas dua kota suci Islam, maka ketika mereka menjadi negara kaya gegara minyak, supaya tidak lucu—dua kota suci Islam kok alirannya beda dengan aliran-aliran yang dianut oleh mayoritas penduduk Islam dunia—mereka pun berupaya untuk mentransnasionalkan aliran Wahabi beserta nasionalisme Arab-nya.

Proyek transnasionalisasi itu pada gilirannya sampai juga ke Indonesia pada tahun 1980-an. Proses masuknya dengan mendirikan lembaga kursus bahasa Arab, namanya LIPIA. Lewat lembaga inilah Saudi mencetak kader-kader barunya di Indonesia dan secara kebetulan, kebiasaan kader-kader mereka itu sering ngarab sepotong-sepotong kalau berbicara, seperti manggil ana-antum, akhi-ukhti, dll. Mungkin karena titik tekan belajar bahasa Arab lembaga ini adalah bahasa Arab obrolan bukan bahasa Aarab tulisan atau kitab kuning seperti pesantren.

Melihat hal itu, maka wajar kiranya kalau tak sedikit orang Indonesia kemudian sedikit sensitif dengan orang-orang yang ngarab. Sensitivitas itu bukan karena problem kebahasaannya atau karena benci pada bahasa Arab (bahasa al-Quran), melainkan karena problem nasionalisme Arab yang kerap terselip dalam benak orang-orang ngarab yang mulai marak sejak tahun 1980-an. (AN)

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here