Sebagaimana nikah dini (nikah anak), secara pribadi saya kurang sependapat dengan praktik nikah dini, nikah siri dan poligami. Meskipun pada faktanya praktik-praktik ini sudah umum terjadi, di Desa maupun kota. Lalu kenapa nikah dini, nikah siri dan poligami sebaiknya dihindari?

Lebih lanjut akan saya bahas, berikut dengan bagaimana strateginya agar dakwah menghindari nikah dini, nikah siri dan poligami ini justru yang diilhami oleh umat. Sebab sering kali, sebuah ajakan, acara atau program, termasuk kursus atau pelatihan melumpuhkan hati istri agar mau dipoligami, itu sebetulnya yang menarik adalah strategi marketing dan kemasannya. Ini yang banyak luput dari kita semua.

Dalam ilmu marketing, produk apapun yang dipasarkan dengan ciamik, ia akan laris diburu pembeli. Ini saya dapatkan dari hasil belajar kepada para ahli marketing, salah satunya Dewa Eka Prayoga. Selain marketing, ada juga ilmu public speaking, saya belajar misalnya dari Merry Riana. Termasuk andil dari marketing dan public speaking dengan pendekatan digital.

Oleh karena itu, kalau dakwah atau kampanye menghindari nikah dini, nikah siri dan poligami tidak diimbangi dengan ilmu marketing dan publik speaking yang baik, yang ada hasilnya tidak akan berarti. Paling-paling nanti ujungnya minta bantuan Pemerintah untuk mengeluarkan peraturan pelarangan dengan hukum pidana bagi orang yang melakukan nikah dini, nikah siri dan poligami.

Jadi persoalannya bukan sekadar nikah dini, nikah siri dan poligami. Praktik-praktik menikah tersebut bisa marak dan laris di pasaran bukan tanpa riset. Ini soal kompetisi dakwah di tengah kosongnya dakwah Islam yang selama ini dianggap moderat. Sehingga wajah Islam dewasa ini akan lebih beragam.

Dan ajaibnya, arus Islam yang dekat dengan komunitas hijrah, yang selama ini dianggap konservatif, yang justru banyak digandrungi umat. Karena setiap program dakwah dikemas sedemikian ciamik dan mengesankan. Bahkan menimbulkan efek ketagihan, lagi dan lagi.

Maka dari itu kalau dakwah menghindari nikah dini, nikah siri dan poligami mau “menang.” Caranya bukan dengan membalas dengan nyinyiran dan kebencian. Kita harus berdakwah komprehensif dan kreatif. Bahwa apapun motif nikah dini, nikah siri dan poligami, perempuan harus terus mendapatkan edukasi. Karena perempuan adalah kunci dari tiga persoalan ini.

Perempuan harus mandiri secara intelektual, emosional, finansial dan spiritual. Selain tentu kita juga terus mengedukasi para laki-laki agar punya persepektif kesalingan, perspektif ramah terhadap perempuan. Dakwah menghindari nikah dini, nikah siri, dan poligami harus diperkuat dengan pendampingan wirausaha bagi perempuan, pemberian beasiswa pendidikan untuk perempuan, akses layanan kesehatan untuk perempuan, dst.

 

Wallaahu a’lam