Bisri Efendy, budayawan dan peneliti LIPI wafat kemarin malam (18/20). Ia merupakan sosok yang mendidik banyak intelektual muda dan salah seorang ideolog yang turut melawan orde baru, khususnya terkait kebudayaan. Ia juga merupakan salah satu sahabat dekat Gus Dur. 

Bisri Effendy. Nama itu samar-samar terlintas di kepala saya saat seorang panitia menjelaskan nama pengisi acara Kelas Pemikiran Gus Dur sesi Gus Dur dan Kebudayaan. Saat itu saya berperan sebagai fasilitator sehingga perlu tahu nama-nama pengisi acara.

Di mana saya pernah mendengar nama itu? Beberapa saat kemudian, saya baru menyadari bahwa si empunya nama merupakan penulis pengantar salah satu buku kumpulan tulisan Gus Dur yang fenomenal: Tuhan Tidak Perlu Dibela. Oh, ini tho orangnya? Batin saya. Setelah acara selesai, saya pun langsung meminta foto bersama.

Di kelas yang dibawa olehnya, suasana cair-cair tegang. Itu tak lepas dari mendalamnya materi diimbangi dengan kisah-kisah yang mengandung humor. Pembawaannya memang tidak se-ndagel sahabat Gus Dur lainnya seperti Kang Sobary. Namun bagi saya apa yang disampaikan oleh Mas Bisri sangat menarik.

Sejak saat itu, saya baru tahu bahwa Mas Bisri adalah pendiri Yayasan Desantara dan pernah menjadi peneliti di LIPI. Wah, ternyata pergaulan saya sangat cekak sekali sampai orang sehebat Mas Bisri saya telat mengenalnya. Meski telat, saya merasa bersyukur pada akhirnya berkesempatan untuk berkenalan dan berbincang-bincang dengannya.

Saya pernah bersilaturrahmi di kediamannya yang tak jauh dari kampus Universitas Indonesia, Depok. Setelah mengikuti rangkaian acara Akademi Kepemimpinan Gus Dur di Depok, saya bersama Abi S. Nugroho Lakpesdam PBNU bertamu ke rumahnya. Di sana sudah ada beberapa orang yang juga satu forum dengan saya sebelumnya. Mereka adalah aktivis dari Kalimantan dan Sulawesi.

Saya yang baru datang hanya menyimak begitu saja alur pembicaraan mereka yang sesekali serius, sesekali dipenuhi gelak tawa. Ia beberapa kali mempersilakan kami untuk menyantap martabak dan menyeduh kopi. Dari pembicaraan itulah saya menyadari bahwa Mas Bisri memiliki koneksi yang begitu luas. Ia yang dikenal sebagai peneliti agama dan kebudayaan nyatanya nyambung dengan banyak tokoh di Kalimantan dan Sulawesi.

Mas Bisri ini sangat ngenomi sekali. Ia yang sudah sangat sepuh terbiasa menerima tamu hingga larut. Bisa diajak ngobrol tentang apa saja. Termasuk pada malam awal Desember 2019 yang lalu. Saya sendiri sudah ‘nyerah’ karena mengantuk luar biasa, lalu memilih pamit. Sementara teman-teman yang lain bertahan hingga subuh karena ada salah satu di antaranya yang harus ke bandara di pagi buta.

Di rumahnya yang sederhana, terdapat banyak sekali buku. Ia mempersilakan kepada tamu-tamunya untuk membaca, bahkan membagikannya. Ia juga mempersilakan tamunya untuk menginap. Saya sendiri ditawari untuk menginap saat itu. Namun saya memilih kembali ke penginapan sembari meminta kesediaan apabila sewaktu-waktu ke Jakarta, saya boleh mampir dan menginap.

Tentu saja Mas Bisri menyetujuinya. Karena memang ia sangat terbuka pada siapa saja. Bahkan ia menjadikan rumahnya sebagai basecamp bagi penulis muda santri. Mas Bisri dan para penulis santri ini mendirikan sebuah media bernama duniasantri.co. Di situ saya mengenal beberapa teman yang turut mengelola media tersebut.

Sayang sekali saya belum berkesempatan untuk bersilaturrahmi dan ngobrol semalam suntuk di rumahnya lagi. Padahal ada banyak hal yang ingin saya dengarkan dari kisah perjalanan hidupnya

Selamat jalan, Mas Bisri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here