Shalat berjamaah sangat dianjurkan dalam Islam. Mayoritas ulama mengatakan hukumnya sunnah muakkad. Tapi sebagian ulama menghukumi wajib, khususnya bagi laki-laki. Dalam shalat jamaah disyaratkan ada imam dan makmum. Yang dianjurkan menjadi imam adalah orang yang bacaan al-Qur’annya benar dan bagus.

Orang yang ditunjuk menjadi imam mesti mengetahui kondisi makmum. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang membaca ayat panjang ketika menjadi imam, sementara di belakangnya ada orang tua yang tidak mampu berdiri lama. Rasulullah mengingatkan agar seorang imam jangan membuat fitnah. Perhatikan kondisi makmum. Kalau ada orang tua, orang yang mau berangkat kerja, dan lain-lain, jangan membaca surat yang terlalu panjang, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan makmum.

Sahabat al-Bara’ pernah berpergian bersama Rasulullah. Ketika shalat Isya’, Rasulullah membaca surat al-Tin.  Al-Bara’ menjelaskan:

خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فصلی بنا العشاء الآخرة فقرأ في إحدى الركعتين بالتين

Artinya:

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah, lalu kami mengerjakan shalat Isya bersama beliau, di salah satu rakaatnya beliau membaca surah al-Tin. (HR: Al-Dailami)

Dari hadis ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa bacaan surat pendek di dalam salat itu dianjurkan di dalam salat berjamaah,  apalagi kalau kita sedang berpergian, atau makmum kita ada yang orang tua, tetapi kalau salat sendirian atau munfaridah, dianjurkan membaca surat-surat panjang.

Hal ini sebagaimana juga dicontohkan Rasulullah SAW.  Ketika berjamaah beliau sangat bijak dan jarang membaca surat panjang. Tapi kalau shalat sendirian, beliau membaca surat panjang. Bahkan ketika Rasulullah shalat sendirian, Aisyah pernah menjelaskan, “Jangan tanyakan berapa lama shalat beliau”.

[One Day One Hadis program dari Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah yang didirikan Almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA. Pesantren Darus-Sunnah saat ini dalam tahap pengembangan dan pembangunan, bagi yang mau berdonasi silahkan klik link ini]