Selain ibadah wajib, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah atau amalan sunnah. Ada banyak macam ibadah sunnah yang bisa dikerjakan, baik dalam bentuk shalat, puasa, umrah, sedekah, dan lain-lain. Di antara ibadah sunnah yang diwasiatkan Rasulullah adalah sebagaimana terdapat dalam hadis ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ ؛ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Artinya:

“Dari Abu Hurairah (w. 57 H) radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi wasiat kepadaku agar aku berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mendirikan shalat duha dua raka’at dan salat witir sebelum aku tidur.’” (HR: Bukhari)

Setidaknya ada tiga amalan yang sangat penting dan mendapat perhatian lebih dari Rasulullah SAW, yaitu puasa tiga hari di setiap bulan, shalat dhuha dan shalat witir. Rinciannya sebagai berikut:

Puasa Tiga Hari di Setiap Bulan

Biasanya, puasa ini lebih dikenal dengan puasa ayyamul bidh, puasa di hari-hari putih. Namun, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan tiga hari yang dimaksud dalam hadis ini. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852) menjelaskan ada 10 perbedaan pendapat ulama terkait hal ini. Namun yang paling masyhur mengatakan 3 hari yang dimaksud di hadis ini adalah mulai tanggal 13, 14 dan 15. Karena pada malam hari di tanggal ini terlihat putih (terang), karena disinari bulan purnama. Sehingga hari-hari ini dinamakan hari bidh (putih).

Shalat Dhuha

Sebagaimana kita maklumi, salat duha merupakan amal ibadah yang memiliki hukum mustahab (dianjurkan) untuk dilaksanakan. Dalam hadis ini disebutkan dua rakaat. Hal ini menjadi dalil bagi kalangan ahli fiqih bahwa rakaat shalat dHuha minimal dua rakaat.

Shalat witir

Di antara ibadah yang sangat dianjurkan oleh Nabi SAW adalah shalat witir. Dalam hadis ini disebutkan bahwa salah satu yang diwasiatkan Nabi SAW kepada Abu Hurairah adalah shalat witir sebelum tidur. Berkaitan hal ini, ulama fiqih merumuskan bahwa ini berlaku bagi orang yang tidak yakin bangun untuk salat tahajud. Maka mereka dianjurkan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur. Namun bagi mereka yang yakin bisa bangun untuk shalat tahajud, maka diperbolehkan untuk mengakhirkan salat witirnya, yaitu setelah menunaikan tahajud.

[One Day One Hadis program dari Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah yang didirikan Almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA. Pesantren Darus-Sunnah saat ini dalam tahap pengembangan dan pembangunan, bagi yang mau berdonasi silahkan klik link ini]