Hassan Hanafi dikenal sebagai cendikiawan muslim asal Mesir yang memiliki pengaruh besar dalam wacana keislaman di Indonesia. Pemikirannya yang dikenal progresif mampu membangkitkan gairah kebangkitan Islam dari ketertindasan. Dibangun atas wacana Barat, pemikiran Hassan Hanafi setidaknya telah memberikan warna baru dalam kajian Islam di era modern.

Hari ini beliau telah tiada, namun pemikirannya masih akan tetap dicatat oleh sejarah. Pemikiran keislamannya telah menjadi karya dan akan terus abadi. Pemikir yang lahir pada 13 Februari 1935 ini telah meninggalkan pemikiran progresif yang dituangkan dalam karyanya. Secara umum, orang mengenal Hassan Hanafi merupakan salah satu pemikir yang mengorientasikan pemikirannya pada kebangkitan Islam. Hassan Hanafi hidup di era transisi yang mana antara dunia wacana tradisioanalis dan modernitas saling bertemu.

Untuk menanggapi pertemuan dua tradisi yang berbeda tersebut, Hassan Hanafi mengambil jalan tengah yaitu tidak meninggalkan turats namun juga tidak meninggalkan dunia modern. Bagi Hassan Hanafi kedua hal itu adalah modal untuk kebangkitan umat Islam. Banyak karya dari Hassan Hanafi yang diorientasikan kesana, seperti Min Al-Akidah ila Al-Sawrah: Al-Muqaddimah (Dari Akidah ke Revolusi); Humum AL-Fikr Al-Watan: At-Turats Wa Al-Asr Wa al- Handasah (Oposisi Pasca Tradisi); Dirasat Islamiyah tiga Jilid (Islamologi 1: Dari Teologi Statis Ke Anarkis, Islamologi II: Dari Rasionalisme ke Empirisme, dan Islamologi III: Dari Teosentrisme ke Antroposentrisme); Muqaddimah Fi ‘Ilm-Al-Istigrab (Oksidentalisme: Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama).

Dari karya tersebut hal yang ingin disampaikan oleh Hassan Hanafi adalah, kita sebagai umat Islam, jika ingin bangkit, maka yang perlu dilakukan adalah mengambil tradisi lama yang masih relevan dan mengambil tradisi baru (modernitas) yang diperlukan. Dalam ushul fiqh dikenal dengan kaidah al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah.

Hassan Hanafi menawarkan metode untuk membaca tradisi lama sehingga ia tetap relevan dengan dunai modern. Untuk membaca tradisi lama, menurut Hassan Hanafi, diperlukan metode Barat. Hal ini bertujuan untuk menandingi wacana keislaman yang telah dikaji oleh Barat. Bagi Hassan Hanafi, Barat telah melihat sebelah mata tradisi Arab-Islam sehingga Barat mampu menghegemoni dan menindas rakyat Arab-Islam.

Oleh karenanya, menurut Hassan Hanafi perlu melakukan wacana tandingan bahwa apa yang dibaca oleh Barat tentang dunia Arab-Islam tidak sepenuhnya benar. Maka tak heran jika dengan pemikiran seperti itu Hassan Hanafi digolongkan ke dalam pemikir oksidentalisme (lawan dari orientalisme).

Untuk kepentingan kebangkitan Islam, Hassan Hanafi menawarkan wacana baru yang disebut dengan kiri Islam. Kiri Islam lahir dari berbagai macam faktor di antaranya adalah revolusi Islam di Iran, gerakan-gerakan Islam modern di lingkungan Arab-Islam yang tidak berhasil mengentaskan keterbelakangan dan penindasan.

Apa yang disebut dengan kiri Islam adalah untuk mewujudkan cita-cita yang meliputi revolusi rasional, mewujudkan keadilan sosial dalam umat melalui nash al-Qur’an, membangun masyarakat yang bebas dan demokratis, mengusir kolonialisme, membangun sistem politik nasional yang independen dan memperkuat persahabatan dengan bangsa-bangsa Islam Asia Afria dan dunia ketiga, serta mendukung revolusi kaum tertindas.

Istilah ‘kiri’ digunakan oleh Hassan Hanafi sebagai bentuk reaksioner dari kalangan kanan yang terdiri dari kalangan feodalis dan kapitalis. Menurut Hanafi keberadaan kalangan kapitalis telah menyebabkan rakyat Arab-Islam tertindas, hak-haknya tercerabut, hingga mereka tidak bisa merasakan kehidupan yang damai di negaranya sendiri. Proyek kiri Islam dirasa penting untuk membangkitkan semangat masyarakat Arab-Islam dalam melawan hegemoni Barat, menghindarkan dari jurang ketertindasan dan kemiskinan, hingga dapat terhindar dari konflik saudara.

Jadi istilah kiri yang digunakan oleh Hassan Hanafi bukan mewakili ideologi Marxisme-Komunisme. Namun istilah kiri dipergunakan untuk melawan dominasi kelompok kanan yang mengakibatkan ketertindasan masyarakat Arab-Islam. Buktinya adalah Hassan Hanafi pertama-tama mengembangkan wacana tauhid dari teosentris ke antroposentris, membangun tafsir persepsional dan tafsir tematik sehingga muncul konsep universalisme Islam. Semua ini yang disebut oleh Hassan Hanafi sebagai dari Akidah ke Revolusi.

Ini adalah sedikit pemikiran dari Hassan Hanafi. Tentu saja masih banyak pemikiran Hassan Hanafi yang tersebar dalam karya-karyanya namun tidak cukup diulas hanya dalam satu artikel ini. Namun setidaknya, pemikiran tersebut mengingatkan kembali semangat yang ditinggalkan oleh Hassan Hanafi untuk terus diperjuangkan karena apa yang dicita-citakan oleh Hassan Hanafi belum pernah terwujud.