Selalu ada penjelasan panjang dari sebuah peristiwa sejarah.  Sebuah peristiwa sejarah berisi berbagai percikan-percikan kejadian kecil dengan berbagai latar dan tokoh-tokohnya yang kompleks hingga kemudian membentuk sebuah rangkaian cerita yang utuh.

Namun, selalu saja ada orang yang ingin memahami sejarah dengan seringkas-ringkasnya. Ia ingin melihat sejarah sebagai satu cerita yang hitam dan putih. Berbagai detail-detail kecil dan kompleksitas peristiwa dibuang dan yang dipungut adalah sepotong cerita saja yang sesuai dengan preferensi ideologinya.

Barangkali, Novel Bamukmin beserta gerombolannya adalah orang-orang yang mewakili sosok di atas. Mereka ingin memahami sejarah sebagai sebuah cerita yang ringkas dan hitam-putih. Seperti statemennya beberapa waktu yang lalu yang mengatakan bahwa Tan Malaka tak layak masuk buku sejarah karena diduga seorang komunis.

Novel Bamukmin seolah menjadi polisi sejarah sebagaimana yang pernah dilakukan rezim Orde Baru yang melakukan peminggiran sosok-sosok penting dalam sejarah Indonesia. Komunisme dibersihkan dari panggung sejarah Indonesia dengan memberikan cerita-cerita yang menakutkan tentangnya. Padahal, suka dan tidak suka, fakta sejarahnya mengatakan bahwa komunisme adalah bagian penting perjuangan anti penjajahan bersama golongan-golongan lain.

Kompleksitas itu juga ada pada sosok Datuk Ibrahim Tan Malaka. Ia adalah seorang komunis, namun ia juga sempat dibenci oleh tokoh-tokoh komunis lainnya. Ia tak jarang berbeda pandangan dengan para kawan komunisnya terhadap sebuah rencana perjuangan. Perselisihan pertama itu terjadi ketika Tan Malaka tak setuju dengan revolusi yang dilakukan PKI pada tahun 1926-1927.

Benar saja, setelah upaya revolusi itu. PKI dibubarkan oleh pemerintah negeri jajahan Hindia Belanda. Peristiwa itu menjadi momentum pemerintah jajahan untuk menghabisi komunisme karena gerah dengan berbagai pemogokannya dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu kemudian para pemimpinnya dibuang dan diasingkan di daerah pedalaman Indonesia.

Kembali ke soal Tan Malaka. Ia pada mulanya sekolah di pendidikan guru di Bukit Tinggi. Karena ia pintar, gurunya merekomendasikan ia untuk lanjut sekolah di Belanda. Nah, pada masa pendidikannya di Belanda inilah, sebagaimana teman-teman pelajar Indonesia di sana lainnya, ia terlibat dalam pergerakan anti penjajahan di sana.

Ketika di Belanda juga, Datuk Tan Malaka bertemu dengan Marxisme sebagai senjata analisis sosial yang ampuh untuk membedah secara kritis penjajahan yang dilakukan Belanda di Indonesia. Pada masa itu, belajar Marxisme bukanlah sesuatu yang asing dan aneh. Bung Hatta dan Sjahrir yang sama-sama kuliah di Belanda juga membaca ide-ide Marxisme. Meskipun dua pahwalan itu hanya mengimani sebagian kecil dari ide tersebut. Hal ini tak jadi soal, setiap orang punya pilihannya masing-masing.

Setelah Tan Malaka kembali dari Belanda, ia kemudian terlibat berbagai gerakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia di bawah pimpinan Semaun. Pada kisaran tahun 1920-an itulah, PKI atau Serikat Islam Merah, menjadi organisasi politik yang secara terbuka melawan penjajahan dengan melakukan berbagai pemogokan di pelabuhan, kereta api dan berbagai wahana industri dan transportasi Hindia Belanda. Kisah-kisah perlawanan itu bisa dibaca di bukunya Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Jawa 1912-1926.

Kisah harmonis Tan Malaka dengan para polit biro PKI itu goyah ketika Tan Malaka tidak setuju dengan rencana Revolusi 1926-1927 terhadap negara kolonial Hindia Belanda. Pada kisaran itu pula Tan Malaka juga diasingkan ke luar negeri. Di bukunya Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka menceritakan berbagai perjalanan pengasingannya mulai dari Singapura, Filipina, hingga Kanton (Tiongkok).

Dari tanah pengasingannya di luar negeri itu, Datuk Tan Malaka masih terus memikirkan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di Tiongkok, ia sempat bertemu dengan bapak nasionalis dan pejuang kemerdekaan Tiongkok, yakni Dr. Sun Yat Sen. Tan Malaka sangat simpatik dengan sosok penting Tiongkok itu.

Ketika berada di pengasingan di luar negeri juga, Tan Malaka menulis buku Naar de Republik (Menuju Republik Indonesia). Buku itu adalah buku pertama yang membahas nama Republik untuk Indonesia. Melalui buku inilah kita bisa memahami betapa kompleksnya sosok Tan Malaka. Mau dibilang komunis ia juga seorang komunis, mau dibilang pejuang kemerdekaan, ia juga adalah pejuang kemerdekaan.

Kompleksitas sosok legendaris dalam sejarah itulah yang sering tak bisa dipahami oleh sebagian orang seperti Novel Bamukmin itu. Berbicara masalah perjuangan Islam, Tan Malaka juga pernah membela Islam dengan mengusulkan dalam Majelis Komunisme Internasional (Komintern) di Soviet kepada Lenin untuk merangkul Pan Islamisme menjadi bagian dari perjuangan gerakan komunis Internasional.

Cerita sejarah ini sangat kompleks bukan? Dari sini, Bapak Novel Bamukmin dan gerombolan PA 212 paham tidak?