Adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah sesama muslim. Adapun bentuk penghormatan itu berupa shalat jenazah. Hukum shalat jenazah dalam syariat Islam adalah fardhu kifayah. Kalau sudah dilakukan oleh sebagian orang, kewajiban yang lain menjadi gugur. Tapi kalau tidak ada satupun yang melakukan, semuanya berdosa. Ini berkaitan dengan hak yang musti dipenuhi jika seorang muslim meninggal dunia.

Lalu bagaimana kalau jenazahnya ada di wilayah lain? Atau, bagaimana dengan situasi di tengah pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan setiap Muslim untuk melakukan takziyah, alias melayat secara langsung?

Ulama Madzhab Syafi’i mengatakan: melaksanakan shalat dari jarak jauh adalah boleh hukumnya. Ini dinamakan shalat ghaib. Dasarnya adalah hadis riwayat al-Bukhari yang menjelaskan Nabi Muhammad pernah melakukan shalat ghaib untuk raja Najasyi yang waktu itu meninggal di Ethiopia.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : نَعَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ النَّجَاشِيَّ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَفُّوا خَلْفَه فَكَبَّرَ أَرْبَعً

Nabi memberitakan kepada para sahabatnya tentang kematian an-najasyi, kemudia beliau maju (unutk mengimami), maka kami membuat shaf di belakang beliau, dan beliau bertakbir empat kali” (HR. Bukhari)

Tata cara pelaksanaan shalat ghaib hampir sama dengan shalat jenazah pada umumnya, yaitu: empat kali takbir dan jangan lupa berniat. Rincian pelaksanaannya sebagai berikut:

BACAAN NIAT SHALAT GHAIB

Berikut niat shalat ghaib untuk jenazah yang diketahui identitasnya.

Jika jenazahnya laki-laki:

أُصَلِّى عَلَى اْلمَيِّتِ اْلغَائبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ (إِمَامًا / مَأْمُوْمًا) لِلّهِ تَعَالى

Usholli alalmayyiti (tati-perempuan) alghooibi arba’a takbiroti fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala

Aku niat sholat atas mayit (….) empat kali takbir fardu kifayah karena Allah Ta’ala

Jika jenazahnya perempuan:

أُصَلِّى عَلَى اْلمَيِّتَةِ اْلغَائبِة أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ (إِمَامًا / مَأْمُوْمًا) لِلّهِ تَعَالى

Usholli alalmayyitati alghooibati arba’a takbiroti fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala

Aku niat sholat atas mayit (….) empat kali takbir fardu kifayah karena Allah Ta’ala

Niat shalat ghaib untuk jenazah yang tidak diketahui identitasnya

أُصَلِّى عَلَى  مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ اْلإِمَامِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ اْلكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالى

Usholli ala man sholla alaihi  arba’a takbiroti fardhol kifayati (makmuman) lillahi ta’ala

Aku sholat ghaib atas mayyit yang dishalati imam empat kali takbir fardu kifayah makmum karena Allah Ta’ala

Dalam niat shalat ghaib disebut fardhu kifayah karena hukum dari shalat ghaib disamakan dengan shalat jenazah yang hukumnya juga fardhu kifayah.

EMPAT KALI TAKBIR:

Takbir pertama membaca surat al-Fatihah

بسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ  لله ِ  رَبِّ   الْعَالَمِيْنَ  الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم ملِكِ يَوْمِ الدِّ يـْنِ  ايـَّاكَ نـَعْبُدُ وَايـَّاكَ نـَسْتَعِيْنُ    اِهْدِنـَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ الَّذيـْنَ اَنـــْعَمْتَ عَلَيْهِمْ  غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالّــِـيْنَ

Takbir kedua membaca shalawat

Membaca bacaan shalawat ketika sedang tahiyat. Yaitu membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW seperti dibawah ini.

اللّـٰهُمَّ صَلَّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala aali sayyidina Muhammad, kamaa shallaita ala Sayyidina Ibrahim wa ala aali Sayyidina Ibrahim, wa baarik ala Sayyidina Muhammad wa ala aali Sayyidina Muhammad, kamaa baarakta ala Sayyidina Ibrahim wa ala aali Sayyidina Ibrahim, fil ‘aalamiina innaka hamidum majid

Takbir ketiga membaca doa

Membacakan doa untuk si Jenazah, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW pada hadis berikut:

اللّـٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ باالْمَاءٍ وَالثَّلْجِ والْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَاراً خَيْراً مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجاً خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ اْلجَنَّة وَأَعِدْهُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَعَذَابِ الناَّرِ

Allahummaghfir lahu, war hamhu, wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzuulahu, wa wasi’ mad khalahu, waghsilhu bil maa’i watsalji wal baradi, wa naqihi minal khathaa ya, kamaa yunaqaa ats-tsaubu al-abyadhu minad danatsi, wa abdilhu daa ran khairan min daa rihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhu al-jannata wa a’idhu min ‘adzabil qabri wa ‘adzabin naar

Artinya:

Ya Allah, ampunilah dia (mayat), berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia, luaskanlah kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau mebersihkan baju putih dari kotoran. Berilah dia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, istri yang lebih baik dari istrinya (atau suaminya) dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka.

Takbir keempat  membaca do’a

اللّـٰهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ  وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِااْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاَّ لِّـلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُفٌ الرَّحِيْمٌ

Allahumma laa tahrimnaa ajrahu, walaa taftinna ba’dahu, waghfir lanaa wa lahu, wa li ikhwanina alladzina sabaquuna bil iimaan walaa taj’al fii quluubina ghillalli ladziina aamanuu rabbana innaka ra uufurahiim

Artinya:

Ya Allah janganlah kami tidak Engkau beri pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, dan berilah ampunan kepada kami dan kepadanya.

Kemudian Salam

Setelah shalat ghaib selesai dilaksanakan kemudian membaca bersama-sama surat al-Fatihah, kemudian imam membaca do’a shalat ghaib seperti berikut ini :

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammad. allahumma bihaqqil faatihati i’tiq riqabanaa wariqaaba haadzal mayyiti (kalau perempuan haadzihil mayyitati) minan naari. allahumma anzilirrahmata wal maghfirata alaa haadzal mayyiti (kalau perempuan haadzihil mayyitati) waj’al qabrahu (ha) raudlatan minal jannati walaa taj’alhu (ha) hufratan minan niraani, washallallaahu alaa khairi khalqihi sayyidana muhammadin wa alaa allihi washahbihii ajma’iin, wal hamdu lillahirabbil aalamiin.

Artinya:

Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al Fatihah, bebaskanlah dosa kami dosa mayit ini dari siksaan api neraka.
Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampun kepada mayit ini. Dan jadikanlah kuburnya taman yang nyaman dari surga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhluk-Nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.