Menimbang grafik kasus Covid-19 yang tak urung melandai, Pemerintah akhirnya menetapkan kembali kebijakan pembatasan sosial yang dikenal sebagai PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) mulai hari ini, 11-25 Januari 2021. Ini berlaku bagi wilayah Jawa-Bali.

Menurut Menko Perekonomian sekaligus Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto, kebijakan ini bukan merupakan pelarangan kegiatan masyarakat. Adapun dasar hukumnya adalah Instruksi Menteri Nomor 1 Tahun 2021 oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kepada seluruh kepala daerah di Jawa dan Bali.

Seperti diketahui, PPKM memuat enam poin mulai dari perkantoran dengan menerapkan kerja dari rumah (WFH) sebesar 75 persen, sekolah daring, pembatasan tempat ibadah hingga 50 persen, hingga penghentian sementara kegiatan sosial tertentu. Ringkasnya, PPKM bisa juga diesbut sebagai sebuah skema yang tak jauh berbeda dengan PSBB.

Meski begitu, sebagai warga negara yang baik, kita memang selayaknya bekerja bersama-sama dalam rangka mengentaskan pandemi Covid-19. Untuk saat ini, sikap saling menyalahkan memang tak akan mengubah keadaan.

Lebih dari itu, jika kamu adalah umat Muslim, perhatikan hadis Nabi Muhammad berikut ini yang menekankan bagaimana kita semestinya bersikap di tengah pandemi Covid-19.

#1 Ibadah Di Rumah Saja

عَن ابن عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَاَ أنه أذن بِالصلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذات برد وريح، ثم قال: ألا صلوا في الرحال. ثم قال:ِ إن رسول اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسلم كَانَ يَأمُرُ الْمؤذن إذَا كَانَت لَيْلَةٌ ذَات بَرْدٍ وَمَطَرٍ، يَقُوْل: ألا صلوافِي الرحال

Artinya:

Di suatu malam yang dingin dan berangin, Ibn Umar radhiyallahu anhuma mengumandangkan adzan. Sejurus kemudian, dia mengatakan: sembahyanglah di rumah! Lalu, Ibn Umar melanjutkan bahwa sewaktu hujan datang, Rasulullah SAW dulu terbiasa meminta muadzin agar mengumandangkan: sembahyanglah di rumah saja! (HR. Bukhari: 666)

Seperti diketahui, salah satu isu paling krusial yang muncul dari krisis Covid-19 adalah pembatasan kegiatan peribadatan yang berpusat di masjid. Betapa tidak, keterikatan yang dimiliki umat Muslim terhadap masjid ini memang sangat dalam. Lebih dari itu, ibadah Haji dan Umrah pun sempat dibatasi bahkan nyaris ditiadakan.

Meski begitu, dengan menyadari bahwa situasi kali ini memang sedang tidak biasa-biasa saja, maka umat Muslim mestilah memahami bahwa ibadah tidak melulu dilakukan secara komunal. Lewat hadis di atas, kita jadi tahu bahwa bilamana terdapat situasi khusus, berarti perlakuan khusus pun menjadi niscaya. Demikian halnya dengan ibadah di rumah saja.

#2 Mencuci Tangan

عن أبي هريرة رضي اللهُ عنه أن الّنبي صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسلم قال: إذا استي قظ أحد كم من نومه فلا يغمس يده في اْلإناء حتى يغسلها ثلاثا، فإنه لا يدري أين باتت يده

Artinya:  

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: Siapapun terbangun dari tidur, dia seharusnya tidak mencelupkan tangannya ke air wudhu sebelum mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu ke mana tangannya mungkin pergi. (HR. Muslim: 278)

Sebelum lebih jauh membahasnya, mari kita pahami fakta berikut. Pertama, jumlah teks dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah terbatas. Kedua, potensi kasus baru sangatlah terbuka lebar, mengingat dinamika zaman yang terus berkembang.

Nah, untuk alasan itulah kemudian muncul alternatif bernama qiyas, atau analogi. Qiyas pada dasarnya melibatkan proses mengidentifikasi ʿillah (atau rasio yang diatur oleh ahli hukum) di mana titik hukum dalam teks otoritatif itu berputar dan kemudian memperluas hukum di luar batas-batas teks, sejauh rasio tersebut dapat membentang. Haha, pusing kan?

Baik, mudahnya begini. Hadis yang sedang kita bahas kali ini menyajikan contoh yang sangat tepat. Ya, ia seolah hendak menyatakan bahwa “kamu tidak tahu di mana tanganmu berada”. Untuk itulah kita disarankan agar cuci tangan selepas bangun tidur.

Artinya, ada peluang, betapapun kecilnya, bahwa saat tidur, tangan kita bersentuhan dengan apapun yang tidak kita kehendaki. Nah, sekarang pertimbangkan bagaimana alasan yang sama ini muncul dalam konteks pandemi Covid-19 di mana kita diminta untuk sering mencuci tangan. Atau ringkasnya begini:

Kita tidak tahu secara pasti bilamana terdapat makhluk renik atau elemen apapun itu yang berpeluang jadi penyebab kerusakan di tangan kita. Oleh karena itu, untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan bahaya yang mungkin timbul akibat tidak mencuci tangan, maka yuk cuci tangan!

#3 Membatasi Kontak Fisik & Jaga Jarak

عَن الَشرِيْدِ بن السويد رضي اللهُ عَنْهُ قَاَل: كان فِي وفد ثقيف رجل مجذوم، فأرسل إلَيْهِ النبي صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسلمَ: إنا قد بايعناك، فار جع

 

Artinya:

Sharid ibn Suwayd meriwayatkan bahwa terdapat seorang penderita kusta di antara utusan dari Tsaqif. Rasulullah kemudian mengirim pesan kepadanya dan mengatakan: “kembalilah; kami telah menerima janji setia Anda. (HR. Muslim: 2231)

Sebetulnya, Hadis ini menceritakan tentang situasi yang umumnya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sehubungan dengan janji setia. Jadi, Beliau SAW dulu terbiasa menjabat tangan siapapun yang menyatakan baiat.

Hanya saja, seperti disinggung dalam hadis di atas, telah terjadi situasi yang tidak biasa sehingga membuat Rasulullah menerapkan protokol kesehatan tertentu, yaitu dengan meminta utusan yang bersangkutan segera kembali ke daerah asalnya tanpa terlebih dahulu bikin kontak fisik.

Jika kita kontekstualisasikan dengan situasi kekinian dan ke-di-sini-an, maka itu bisa dimengerti sebagai membatasi jabat-tangan dengan orang lain d/a tidak terlibat dalam kerumunan, karena yang demikian itu secara benderang tidak diteladankan Nabi Muhammad dalam kasus di atas.

Lagi pula, terdapat Hadis lain yang menegaskan bahwa menjaga jarak itu termasuk bagian dari tindakan preventif jika kita menjumpai situasi gawat darurat seperti hari-hari belakangan ini.

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن النبي صلى اللهُ عليه وسلم قَال: لا تديموا النظر الى المجذ ومين، واذا كلمتمهم فليكن بينكم وبينهم قيد رمح

Artinya:

ʿAli ibn Abi Thalib meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Jangan menatap penderita kusta terus menerus. Saat Anda berbicara dengan mereka, biarkan ada jarak sekiranya sepanjang tombak antara kamu dan mereka. ” (Abdullah Ibn Ahmad, Zawa’id al-Musnad 581)

Ya, kendati Hadis di atas termasuk bagian dari kategori “yang lemah” jika ditinjau secara ketat dari ulum al-Hadis, tetapi bukan berarti ia gugur begitu saja. Dengan kata lain, status lemah pada hadis tersebut adalah berada pada level yang masih memungkinkan untuk digunakan, meski dengan parameter yang lebih terbatas. Ini seperti dikatakan oleh Imam Nawawi dalam pengantar buku al-Adhkar, kira-kira begini:

“…orang-orang terpelajar dari kalangan pakar hadis dan fikih mengatakan bahwa dalam urusan kebaikan (fadhail) dan motivasi, kita dibolehkan untuk mengacu pada hadis yang lemah, sejauh ia bukan termasuk dalam golongan palsu atau mengada-ada. Sebaliknya, dalam hal pengambilan hukum, kita hanya diperbolehkan merujuk pada Hadis yang sahih dan (paling mentok) adalah yang berderajat hasan…

# 4 Memakai Masker

عن أبي هريرة رضي اللهُ عنه أن النبي صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسلم كَان إذَاعطس غطى وجهه بيده أو بثوبِهِ، وغض بها صوته

Artinya:

 Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW bersin, maka beliau akan menutupi wajahnya dengan tangan atau pakaiannya, dan dia akan menekan suaranya. [Tirmidzi: 2745]

Memang, secara redaksional Hadis di atas tidak mengandung seruan memakai masker. Sebaliknya, Hadis tersebut menunjukkan betapa kebiasaan dan tata krama Rasūlullāh ternyata penuh dengan kebijaksanaan dan manfaat.

Perhatikan bagaimana reflek Nabi saat bersin? Ya, Beliau SAW akan menutupi wajahnya. Ini secara jelas menampakkan bahwa Nabi tidak membiarkan apa pun yang keluar dari hidung atau mulut mengenai orang-orang yang ada di dekatnya atau di sekitarnya. Ini dimungkinkan karena apapun yang keluar dari mulut atau hidung saat bersin, bisa jadi mengandung kuman.

Artinya, di luar aras kesopanan dan perilaku yang santun, muncul juga aspek mencegah orang lain dari bahaya. Dengan menutupi wajahnya saat bersin, Nabi Muhammad mempraktikkan apa yang Beliau sabdakan:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

jangan menciderai dirimu dan orang lain

Untuk itu, mengenakan masker di tengah situasi pandemi Covid-19 bisa diselaraskan dengan alasan yang sama seperti saat Rasulullah menutupi wajahnya ketika bersin. Argumennya, yang jadi soal di sini bukanlah pada lamanya sebuah masalah, tetapi pada tujuan di balik tindakan tersebut.

Artinya, yang jadi pertimbangan adalah virus corona ini seringkali dibawa oleh mereka yang sama sekali tidak menunjukkan gejala, dan karenanya tampak sehat. Lagian, mengenakan masker di depan umum telah banyak disarankan sebagai metode efektif untuk mengekang penyebaran virus corona. Jadi, apa susahnya?