Dalam dunia pendidikan, pemuda adalah salah satu pemeran utama untuk bisa membuat dunia pendidikan Indonesia lebih terasa progresif dan berwarna. Karena, dalam membangun mutu atau kualitas pendidikan itu, kita membutuhkan banyaknya fresh spirits yang hanya dimiliki oleh para pemuda. Bukan hanya fresh spirits yang kita butuhkan, kita pun butuh gagasan-gagasan kreatif-inovatif yang diracik sendiri oleh tangan-tangan para pemuda. Tanpa adanya campur tangan para pemuda, pendidikan Indonesia akan terasa jemu dan semu. Padahal, pendidikan harus dikemas dan disajikan dalam bentuk yang menarik dan asyik.

Sejak merebaknya virus Covid-19, dunia pendidikan harus menghentikan proses pembelajaran tatap muka dengan terpaksa. Dengan adanya permasalahan tersebut, pemerintah khususnya Kemendikbud memutar-balik otak untuk bisa menemukan solusi yang bisa diterapkan dengan efektif. Pada akhirnya, Kemendikbud menerapkan kebijakaan Pembelajaran Jarak Jauh atau biasa disingkat dengan “PJJ”. Dengan diterapkannya PJJ ini, semua pihak mau tidak mau harus bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang ada, baik itu para pengajar ataupun para pembelajar. Akhirnya, kita harus bisa menguasai dan paham tentang adanya digitalisasi pendidikan yang sudah diterapkan.

Setelah kita melakukan PJJ, ternyata masih banyak sub-sistem yang harus segera diperbaiki dari PJJ itu sendiri. Baik itu tingkat efektivitas proses pembelajaran, sarana-prasarana yang tak dimiliki oleh semua orang dan peran orang tua dalam melakukan proses pendidikan di rumahnya masing-masing. Semua permasalahan itu, haruslah menjadi perhatian kita bersama dalam meningkatkan efektivitas PJJ. Kita, sebagai pemuda tak boleh menyikapi semua permasalahan yang ada dengan apatis-destruktif. Tetapi, kita harus senantiasa bisa terus menyikapi semua permasalahan dengan kritis-transformatif. Karena, semua permasalahan hadir bukan untuk menambah beban yang diemban. Tetapi, permasalahan hadir untuk bisa kita kalahkan dan melaju cepat meraih indahnya kemenangan.

Dalam PJJ, ada beberapa permasalahan besar yang harus segera diselesaikan. Semua permasalahan bisa cepat terselesaikan, jika semua pihak saling bekerja sama dan terus saling bergandeng tangan dalam meraih kemenagan. Setidaknya, ada empat permasalahan yang harus cepat diselesaikan.

Guru yang Gaptek

Permasalahan pertama ini, menjadi suatu permasalahan yang akan berakibat fatal jika terus didiamkan. Karena, semua proses pembelajaran tergantung pada kualitas para pengajar dengan metode yang diberikan. Dalam menjalankan PJJ dengan efektif, para pengajar pun harus bisa menguasai dan paham akan digitalisasi pendidikan itu sendiri. Tanpa ada pemahaman dan penguasaan yang mumpuni, proses transfer ilmu pun tak akan pernah bisa tersampaikan dengan baik. Sekarang, kita berada di hybrid era yang terus memacu diri kita untuk senantiasa hidup berdampingan dengan teknologi, termasuk dalam menjalankan roda pendidikan Indonesia.

Kenyataannya, masih banyak guru yang gaptek dalam menjalani PJJ. Padahal, PJJ itu dijalankan dengan basis digital, yang jelas-jelas harus bisa dikuasai oleh para pengajar. Semua materi pembelajaran mau tak mau harus bisa dikembangkan lewat platform-platform media yang banyak digunakan oleh para pembelajar.  Tak bisa para pengajar memaksakan diri untuk kembali menerapkan metode yang terkesan sangat kolot bagi kacamata para pembelajar. Semua metode yang kolot harus bisa bertransformasi menjadi metode yang kontemporer, sesuai dengan thinking platform para pembelajar itu sendiri.

Dengan adanya permasalah tersebut, menjadi PR besar bagi pemerintah agar bisa memberikan edukasi digital yang diberikan kepada seluruh pengajar yang ada di penjuru nusantara. Dan edukasi tersebut, jangan hanya berhenti pada satu waktu, tetapi berikanlah edukasi digital dengan intens kepada para pengajar. Bentuknya, tak mesti melulu seminar, tetapi bisa dalam bentuk mentoring eksklusif dari para ahli yang ada disetiap daerahnya.

Orang Tua: Jadi Guru Dadakan

Selain permasalahan guru yang gaptek, peran orang tua sebagai pengganti guru di rumah pun jadi permasalahan. Pasalnya, semenjak PJJ berlangsung, para orang tua mendadak menjadi guru yang kebingungan membantu anak-anaknya dalam melakukan proses pembelajaran. Hal ini, akan menjadi bencana besar jika tidak ada inisisasi yang dilakukan oleh para orang tua, karena belum semua anak bisa belajar dengan mandiri pasti ada aja anak yang harus memang dibimbing secara intens dalam proses pembelajaran. Tetapi, disinilah tantangannya bagi para orang tua, bagaimana mereka bisa memposisikan diri untuk membantu anak-anaknya paham akan materi-materi pelajaran yang diajarkan.

Para orang tua seharusnya bisa multi-tasking mengerjakan pekerjaan domestik dan kantor sekaligus mengontrol anak-anaknya dalam mengikuti proses PJJ itu sendiri. Harus ada manajemen waktu yang baik bagi para orang tua dan harus  memberikan waktu khusus untuk bisa mengontrol anak-anaknya. Dan disini, pihak sekolah pun harus bisa saling berkolaborasi dengan para orang tua di rumah, bagaimana caranya antara pengajar dan orang tua bisa saling bersinergi dalam menyukseskan proses PJJ.

Fasilitas yang Kurang Memadai

Permasalahan ini, tak kalah fatal dengan permasalahan sebelumnya, semenjak PJJ diberlakukan ternyata tak semua daerah bisa mengikutinya dengan baik. Terkhusus, bagi teman-teman kita yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Banyak dari kalangan menengah-kebawah yang tak mampu untuk membeli paket internet, bahkan ada yang tak memiliki device untuk mengikuti PJJ, karena daerah 3T ini adalah daerah yang notabenenya memang jarang diperhatikan dan jauh dari pantauan pemerintah itu sendiri.

Tetapi, sebenarnya pemerintah pusat bisa memberdayakan semua kepala daerah untuk bisa memfasilitasi warga yang kurang mampu untuk memiliki fasilitasnya sendiri. Misalnya, membuat balai atau saung khusus bagi para pelajar yang kurang mampu dengan disediakan juga sebuah proyektor sekaligus layarnya untuk bisa menampilkan materi pelajaran yang akan diajarkan. Hal itu akan lebih relate dibanding pemerintah membelikan fasilitas kepada masing-masing pelajar yang kurang mampu.

Tugas yang Tak Kunjung Membuat Cerdas

Dengan diberlakukannya PJJ, banyak dari oknum guru yang malah memberikan bermilyaran tugas yang keluar dari layar gadget dan yang terparah para oknum guru tidak memberikan materi pelajarannya. Hal ini, menjadi sebuah permasalahan yang dapat mengganggu kondisi psikis para pelajar. Dengan banyaknya tugas yang diberikan, para pelajar akan merasa sangat terbebani, karena ketika hidup di rumah bukan hanya tugas sekolah saja yang harus dikerjakan, tetapi ada jugatanggung jawab tugas domestik rumahan yang harus dipenuhi.

Bahkan, beredar berita-berita yang menceritakan tentang seorang pelajar yang bunuh diri akibat stress terus diberikan tugas yang menumpuk. Hal ini, menjadi sebuah indikasi bahwa tugas bukanlah satu-satunya solusi untuk bisa menguji pemahaman atas pelajaran yang telah diajarkan. Karena, kapasitas otak seorang pelajar pun terbatas! Toh, sekirannya tugas hanya bisa membuat banyak murid cemas, mengapa tidak diganti dengan solusi lain yang lebih berbekas?

Pada akhirnya, kita sebagai pemuda, generasi penerus bangsa haruslah  melek terhadap permasalahan-permasalahan yang telah, sedang atau akan terjadi. Karena, masa depan bangsa tergantung pada kondisi mentalitas dan kapabilitas para pemudanya! Tak bisa kita bersikap egois, terus mengedepankan sisi idealis, tetapi kita lupa untuk memperbaiki sisi realitas.

Pendidikan Indonesia tak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan jika para pemuda masih terus bermalas-malasan. Para pemuda haruslah menebarkan benih-benih spirit perjuangan. Sekarang, waktunya bagi para pemuda berani untuk unjuk gigi dengan tampil beda, agar kita semua dapat dikenang dan menjadi sejarah yang melegenda!

 

Tulisan ini adalah hasil karya dari peserta penerima beasiswa mentoring pada program Peaceful Digital Storytelling, pelatihan kampanye cerita baik dan positif bagi siswa SMA yang didukung oleh US Embassy dan Wahid Foundation.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here