Nama saya adalah Yoshinobu Miyake, seorang pendeta Shinto dari Osaka, Jepang.

Shinto merupakan agama asli Jepang. Shinto memiliki keterkaitan erat dengan sistem nilai tradisional Jepang, dengan pandangan dunia, dan perilaku sebagian besar orang Jepang.

Sebagian orang mungkin menyebut Shinto sebagai “agama alam” karena terkait erat dengan penghormatan kepada setiap aspek alam lingkungan kita. Mereka yang telah mengunjungi Jepang akan mengetahui bahwa budaya kita sangat menekankan pada penghormatan dan pelestarian lingkungan dan menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan hidup seperti yang dapat dilihat di lebih dari 100.000 kuil Shinto dan 80.000 kuil Buddha yang tersebar di seluruh kepulauan Jepang.

Secara pribadi, saya adalah keturunan dari garis panjang pendeta Shinto dari generasi ke generasi. Kakek saya, almarhum Most Rev. Toshio Miyake, adalah perintis dialog antar-agama yang ia prakarsai selama Perang Dunia II.

Pada tahun 1970, ia mendirikan organisasi “Religions for Peace”. Saya yakin dia akan senang jika dia menyaksikan inisiatif global yang kami luncurkan hari ini di bawah naungan Nahdlatul Ulama, Pemerintah Indonesia, dan Liga Muslim Dunia.

Seperempat dari seluruh umat manusia adalah Muslim. Dari semua negara mayoritas Muslim di dunia, Indonesia adalah yang terbesar. Saya memiliki harapan yang tinggi untuk kepemimpinan Indonesia di dunia Muslim.

Di Indonesia, meskipun kebanyakan warganya adalah umat Muslim, mereka tidak berusaha untuk memaksakan kebenaran Islam. Sebaliknya, Indonesia toleran terhadap agama Hindu, Buddha, dan agama lokal— seperti yang dapat dilihat di sini di Bali—dan memberikan contoh kasus bagi masyarakat dunia abad ke-21.

Saya mengetahui hal ini dari pengalaman pribadi saya. Saya bersahabat dengan mantan ketua Nahdlatul Ulama, dan mendiang presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid, yang merupakan contoh hidup dari kedalaman dan kearifan Islam Indonesia yang luar biasa.

Selama beberapa tahun, saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KTT Pemimpin Agama G8. Oleh karena itu, saya telah berpikir panjang dan keras tentang tantangan yang dihadapi umat manusia, dan peran organisasi seperti G20, yang mewakili 60% dari populasi dunia dan 90% dari PDB dunia.

Namun, hingga saat ini, badan antar-pemerintah seperti G20 terbukti tidak mampu mencegah krisis ekonomi dan menyelesaikan konflik mendalam antara Timur dan Barat —dan antara Utara dan Selatan, yaitu antara negara berkembang dan negara maju— yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Maka dari itu sekaranglah saatnya bagi para pemimpin agama dunia untuk melangkah maju, mengatasi masalah ini, dan menyelesaikan konflik ini.

Terima kasih. Shukran, Thank you.

 

*Artikel ini merupakan versi terjemah dari pidato Yoshinobu Miyake ketika menjadi Keynote Speaker di Plenarry Session Forum R20 di Nusa Dua, Bali (2-3 November 2022)