Dalam suatu perjalanan, Nabi Isa as melewati sebuah desa. Di sana, ia mendengar suara tangisan dan ratapan dari sebuah gunung. Karena penasaran, ia bertanya kepada salah seorang penduduk desa.

“Aku mendengar tangisan dan ratapan dari gunung itu, itu tangisan dan ratapan siapa?” tanya Nabi Isa.

Sayangnya, penduduk desa yang ia tanyai itu tak mengerti. Salah satu dari penduduk des aitu lalu menjawab, “sejak saya tinggal di sini, saya selalu mendengarnya”.

Walhasil, Nabi Isa as meminta pertolongan kepda Allah SWT agar sudi kiranya memberi kemampuan kepada gunung tersebut untuk bisa berbicara. Allah SWT pun mengabulkan permintaan itu.

“Wahai Nabi Isa as, apa yang engkau ingin tanyakan kepadaku?” tanya gunung tersebut kepada Nabi Isa as.

Nabi Isa menjawab, “tolong jelaskan kepadaku, apa maksud tangisan dan ratapanmu itu!”

Gunung tersebut lalu menjelaskan bahwa salah satu bagian (batu) darinya telah diambil oleh sebagian orang dan dijadikan sebagai berhala-berhala yang kemudian disembah untuk menyekutukan Allah SWT.

Yang demikian itu menjadikannya takut, bahwa siapa tau, karena hal itulah, Allah SWT menjadi murka dan memasukkannya ke dalam neraka. Gunung tersebut berkata, “Karena aku telah mendengar firmanNya, “…maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…” (Al-Baqarah/2:24)

Setelah itu, Allah SWT menyuruh Nabi Isa as untuk memberi tahu gunung tersebut bahwa Dia tak akan memasukkannya ke dalam neraka.

Allah SWT juga berfirman, “jika gunung yang keras saja takut kepada Allah, maka bagaimana mungkin manusia yang lemah tidak takut neraka dan tidak berlindung kepada Allah dari siksa api neraka? Wahai manusia, takutlah kamu atas neraka, yakni dengan cara menjauhi perbuatan dosa. Karena, sungguh, dosa akan mendatangkan murka dan siksa Allah dan engkau tak akan kuat menghadapinya.”

Kisah di atas terbentang dalam kitab Tanbih al-Ghafilin karya Abu Laits al-Samarqandi. Lewat kisah di atas kita memahami betapa gunung yang kuat dan kokoh saja takut dengan neraka, maka bagaimana dengan kita? Sudah selayaknya kita juga mesti harus lebih takut.

Takut kepada Allah adalah salah satu yang hal yang harus ada dalam diri seorang muslim. Dengan itu, ia akan selalu mawas diri dan hati-hati terhadap segala hal yang ia kerjakan. Dalam istilah teknis tasawuf, takut dimengerti sebagai Khauf.

Dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyah, Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi berkata, “Khauf (takut) itu kaitannya dengan hal-hal di masa mendatang. Seseorang yang takut datangnya hal yang tidak disenangi atau hilangnya hal yang disukai, misalnya. Ini semua tidak akan pernah bisa terjadi kecuali berkaitan dengan hal-hal di masa mendatang”.

Lebih lanjut, Syaikh al-Qusyairi mengatakan bahwa takut yang dimaksud adalah dalam arti takut jika Allah menyiksanya, baik di dunia atau di akhirat. Memang, sikap takut adalah suatu yang diperintahkan Allah kepada para hambanya. Dia berfirman,

 اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman”. (Ali ‘Imran/3:175).

Walhasil, takut kepada Allah adalah suatu kewajiban yang diperintahkan Allah kepada para hambaNya. Mereka yang benar-benar takut kepada Allah pasti akan tercerminkan/terbuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Sesuai dialog dalam kisah di atas, bukti takut paling nyata adalah dengan meninggalkan perbuatan dosa, karena hal ini akan mendatangkan kemurkaan dan siksaNya. Wallhu a’lam.

 

Sumber:

Abu Laits al-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin (Beirut: Dar al-Fikr, 2012), hal. 290

Abu al-Qasim al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyah (Kairo: Dar al-Sya’b, 1989), hal. 234

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here