Di antara kita umat Muslim masih ada saja yang menyepelekan mewabahnya Covid-19. Bahkan beberapa tokoh agama dari umat Islam menakut-nakuti umat mengenai vaksin. “Awas, jangan vaksin nanti ada microchiptnya. Awas jangan vaksin, nanti malah sakit, bisa meninggal.” Itulah beberapa ceramah yang pernah saya dengar dan berita yang saya baca.

Kita ini sedang dilanda musibah covid-19, kita harus saling bahu membahu untuk menghadapi musibah ini. Agar permasalahan marilah kita tidak bertambah runyam, marilah kita serahkan segala masalah Covid-19 ini pada dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Mereka ini adalah orang yang kompeten dalam masalah ini. Jangan sampai kita percayakan masalah kesehatan pada Ustadz yang memang tidak mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan.

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, idza wusidal amru ila ghoiri ahlihi fantazhiris sa’ah ‘jika sebuah permasalahan dipercayakan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kiamat datang (HR. Bukhari).

Dari hadis ini kita dapat belajar bahwa tanya dan percayakanlah sebuah permasalahan pada ahlinya. Mengenai kesehatan, kita percayakan masalah ini pada dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Gini ya, hati-hati dan menjaga diri agar tidak terpapar virus itu juga bagian dari syariat Islam yang tinggi kok. Kita menjaga jiwa kita dan orang lain agar tidak terpapar. Ini malah sesuai tujuan inti syariat Islam atau Maqashid Syariah, yaitu menjaga jiwa.

“Jangan takut sama virus, takut sama Allah.” Ungkapan ini seharusnya tidak keluar dari orang yang memahami sejarah Islam masa silam.

Sahabat Nabi yang keimanannya tidak diragukan lagi saja pernah ada yang wafat sebab terkena wabah, apalagi kita yang imannya masih Senin-Kemis. Imam Al-Baladzuri dalam Futuh al-Buldan, menyebutkan nama-nama sahabat yang wafat saat terjadi wabah Amwas. Muadz bin Jabal, Abu Ubaidah, Al Fadhal bin Abbas.

Jadi kita gak boleh merasa imannya paling kuat, terus akan selamat dari virus corona. Tetap ikhtiar memakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Kalau sudah menjalani prosedur ini, banyakin baca shalawat dan berdoa. Tapi juga, kita gak perlu khawatir berlebihan. Itulah tawakal.

Dalam sebuah riwayat Shahih Muslim, Nabi Muhammad pernah mencontohkan para sahabatnya untuk menjaga jarak dari orang yang terkena penyakit menular. Waktu itu ada Bani Tsaqif yang ingin datang bersumpah setia pada Nabi. Di antara mereka ada yang sedang berpenyakit lepra.

Sebagai langkah antisipatif, Nabi pun menunda rangkaian acara sumpah setia itu sebagai bentuk ikhtiar agar tak tertular orang yang berpenyakit menular. Menguatkan kisah ini, ada juga sabda Nabi, “Menghindarlah dari orang berpenyakit lepra seperti engkau lari dari kejaran singa (HR: Bukhari).”

Sekalipun pasti ada oknum yang memperkaya diri sendiri selama musibah pandemi corona ini berlangsung, tapi yakinlah tidak sedikit juga para tenaga medis yang berjuang demi keselamatan nyawa banyak orang. Bahkan dari mereka pun beberapa sudah berguguran.

Oleh karena itu, marilah kita bahu-membahu saling menguatkan dalam menghadapi musibah yang belum berakhir hingga sekarang ini.

Sekali lagi, percayakan masalah covid ini pada ahli medis, bukan para Ustadz atau tokoh yg menakut-nakuti bahwa vaksin ada microchipnya.

Saya sendiri sudah divaksin Sinovac di Balai Kota DKI Jakarta pada awal Juli ini. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesehatan pada saya hingga sekarang ini.

Jadi vaksin ini juga bentuk ikhtiar kita. Selebihnya kita taati prokes, banyak mendekatkan diri pada Allah, jangan jumawa walaupun sudah divaksin, dan yang terpenting kita juga jangan panik menghadapi Covid-19.

Jika gampang panik, sebaiknya kita kurangi membaca berita-berita negatif yang dapat memengaruhi mental kita.