Belakangan saya mengalami pergeseran sudut pandang dalam melihat tradisi keagamaan di desa. Sebelumnya, sebagai anak muda yang sedang menggebu (sekarang juga tetap sih, hehe), saya merasa tidak butuh-butuh amat untuk mendengarkan pengajian di kampung. Buat apa? Toh, di saya sudah pernah di pesantren, hobi membaca buku, dan berdiskusi di kampus.

Tentu saja, pikir saya saat itu, semua wejangan atau tausiyah di kampung itu tidak lebih dari yang saya dapatkan di pesantren maupun kampus. Dengan sedikit kepongahan, seolah saya ingin mengatakan: saya adalah anak muda tercerahkan! Pikiran saya telah tersinari ilmu pengetahuan modern dari kemajuan peradaban Barat dan penafsiran progresif-kontekstual dari para cendekiawan Muslim!

Konsekuensi tidak disengaja dari cara pandang seperti itu di antaranya adalah: ukuran kemajuan tidak lain dilihat dan diukur dengan apa yang disebut sebagai modern, progresif, dan kontekstual itu. Ibaratnya, saya seperti seorang utusan pemerintah atau sebuah lembaga yang ingin melakukan perubahan di desa dengan ukuran-ukuran yang dibuat oleh lembaga tersebut. Seperti orang kota yang melihat desa sebagai simbol keunikan, keterbelakangan, dan kejumudan dengan menjadikan kehidupan kota sebagai alat ukurnya.

Tahlilan, nyadran, halal bi halal, dan pengajian akbar, misalnya, tidak lain adalah tradisi keagamaan yang diwariskan saja. Tidak lebih dari itu.

Konsekuensi tidak sengaja lainnya yaitu bahwa cara pandang seperti itu bukannya membuat saya semakin termotivasi (halah) untuk turut melestarikannya, melainkan malah membuat saya menjadi seperti alien di desa.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan kemarin ibu jatuh sakit. Sesampai di rumah saat mudik lebaran, saya mengambil alih beberapa aktivitas harian beliau utamanya mencuci piring dan memasak air.  Pada sore dan malam hari saya mendapati beberapa teman ibu berjamaah di masjid mampir ke rumah untuk menjenguknya.

“Lha yo sudah beberapa hari kok tidak kelihatan wong biasanya duduknya di sampingku,” ucap salah satu tamu. Ada juga yang datang lalu memijitinya.

Ada ikatan emosional yang kuat di antara mereka. Sebuah keakraban yang menyenangkan. Selain dipertemukan melalui salat berjamaah di masjid, mereka juga disatukan melalui kegiatan rutin seperti pengajian Jumat sore untuk para jamaah tarekat yang sebagian besar adalah orang tua dan lansia di desa.

Bukankah keakraban semacam itu semakin memperkuat daya tahan tubuh ibu yang sedang sakit? Merasa ada yang memperhatikan, menyayangi, yang semua itu menjadi energi positif untuk kembali segar bugar. Usai Subuh pada hari pertama idul fitri, kondisi ibu membaik dan bersama anak-anaknya berziarah ke makam di belakang desa.

Dalam sebuah penelitian yang telah berlangsung selama 75 tahun dari Universitas Harvard , dikatakan bahwa hidup yang sehat, bahagia, dan berusia panjang ditentukan oleh kualitas hubungan. Keterhubungan dengan pasangan, keluarga, dan masyarakat berkaitan erat dengan tingkat kebahagiaan dan kesehatan. Sebaliknya, kesepian (loneliness) mengantarkan orang menjadi kurang bahagia, kesehatan dan fungsi otak menurun, dan berusia lebih singkat. Hati-hati ya dengan hubungan yang toxic, hihi

Nah, di sinilah AHA moment itu!  tradisi keagamaan di kampung seperti Tahlilan, nyadran, pengajian dan lainnya sungguh-sungguh adalah sebuah kearifan lokal. Sebuah kompromi terbaik dari para aktor intelektual dan pembaharu pada masa lalu, yakni para ulama, dalam menyebarkan Islam sekaligus kemaslahatan bagi masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal, dengan begitu, adalah pengetahuan terbaik yang tidak bisa untuk dianggap lebih rendah dari ilmu pengetahuan moden maupun tafsir keagamaan dari gerakan pembaharuan Islam pada era modern.

Pengetahuan, ide tentang kemajuan, dan gagasan kemodernan yang berada dalam isi kepala saya, tidak bisa dijadikan sebagai parameter, sebagai ukuran untuk menilai tradisi, kebiasaan, budaya, yang hidup dalam masyarakat. Di mana pun tradisi itu berada. Tradisi-budaya itu adalah pengetahuan terbaik yang harus diapresiasi dan dipelajari seraya menempatkan diri sebagai murid yang ingin tahu, bukan sebagai guru apalagi hakim yang menilai!

Saya tidak hendak mengatakan bahwa ilmu pengetahuan atau wacana modernisasi paham keagamaan itu salah. Ini tidak terkait salah maupun benar! Itu hanya seperti ukuran baju saja kok. Bukankah kita tidak bisa untuk menjadikan satu ukuran dan corak baju untuk semua orang? Wong sini nyaman dan fit pakai baju yang ini kok, mosok harus pakai baju lain yang bikin dada terasa sesak?

AHA moment berikutnya: ketemuan Yuk! Bukankah hanya manusia makhluk Tuhan di muka bumi ini yang dikaruniai kemampuan untuk saling terhubung, bekerja sama, dan membentuk budaya untuk mempertahankan hidupnya? Untuk merasa aman dan terhindar dari bahaya yang mengancam dari dalam dirinya: kesepian!