Kuceritakan padamu tentang #HeadscarfForHarmony  tentang kerudung, pakaian kehormatan perempuan muslimah itu pernah jadi simbol perdamaian. Pada 15 Maret 2019, Masjid Al Noor, Christcurch, NewZealand, menjadi target penembakan teroris. Sejumlah 50 jemaah salat jumat di Lindwood Islamic centre meninggal, dan puluhan lainnya luka-luka.

Jacinda Ardern, pemimpin New Zealand dipuji oleh dunia karena sikap kepemimpinannya yang mengagumkan. Ketika minoritas jadi korban teror, ia mendatangi keluarga korban mengenakan kerudung hitam, simbol yang menghadirkan perasaan satu identitas.

Pemerintah mengirim broadcast serentak bahwa mereka bersama korban dan akan memastikan keamanan seluruh warga negara, semua identitas.

“Ini teroris. Ini kriminal. Ekstremis tak punya tempat di negara ini. Saya tak akan sudi menyebut nama pelaku sebab itulah yang ia harapkan, menjadi terkenal untuk menebar ketakutan. NZ tak akan memberikan panggung untuknya,” bunyi pesan itu.

Perempuan NZ dengan berbagai latar belakang merespons ketakutan yang dirasakan perempuan muslimah yang tak berani pergi keluar rumah karena penanda identitasnya, yakni kerudung. Muslimah, memang lebih mudah ditandai sebab hal-hal yang melekat di tubuhnya.

Pada beberapa Jumat berikutnya, warga NZ lintas identitas berkumpul di Masjid Al Noor untuk bersolidaritas, dan para perempuannya mengenakan kerudung. Mereka ingin memastikan kelompok Muslim dapat beribadah dengan nyaman tanpa ketakutan.

Mereka tak berfokus untuk menebar ketakutan, melainkan menggunakan pendekatan cinta untuk menebar kedamaian.

Awal November 2020, NZ mengumumkan seragam polisi berkerudung pertamanya. Zeena Ali adalah polisi perempuan yang mengajukan izin memakai kerudung pada 2018 dan akhirnya NZ melegalkan seragam polisi berkerudung. Dan tentu saja #HeadscarfForHarmony jadi alat yang efektif.

Negeri itu  berkomitmen menunjukkan pelayanan negara bersifat inklusif untuk melayani kepentingan masyarakat dari identitas yang beragam.

Sangat mengapresiasi negara dengan semangat keberagaman dan perdamaian. Sekaligus sangat berharap di negeri ini, Indonesia, juga memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang, apapun identitasnya, untuk dapat berekspresi dan beribadah dengan rasa aman dan nyaman tanpa diskriminasi.

Hari ini, 4 orang di Sigi, Sulawesi Selatan menjadi korban serangan teror. Rumah, yang sebetulnya adalah gereja untuk beribadah sebab sulitnya mendirikan gereja, dibakar.

Saya tidak akan mengatakan bahwa teroris tidak punya agama. Saya menerima fakta bahwa teror berbasis agama dan kekerasan berbasis agama itu ada. Darimana akarnya? Dari pemahaman agama yang penuh kekerasan dan patriarkis, pemahaman agama yang penuh nafsu menguasai, penuh nafsu penundukan dan ingin mengalahkan mereka yang lemah dan tak berdaya.

Perasaan merasa berkuasa atas manusia lainnya, ketika terfasilitasi oleh alat untuk melakukan kekerasan, maka jadilah teror. Negara tak boleh membiarkan ketidakadilan ini. Manusia penuh hasrat penguasaan terhadap manusia lainnya, tapi merasa menjadi wakil Tuhan. Padahal Tuhan selalu memberi kehidupan. #PrayForSigi #TidakAtasNamaSaya