Sore itu, saya terlibat dalam percakapan dengan Kepala Pondok Pesantren Bumi Cendekia (BC) Yogyakarta, Muhammat Sabar Prihatin. Sekolah Bumi Cendekia adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mengintegrasikan pendidikan formal tingkat menengah dengan pendidikan keagamaan pesantren. Sekolah ini didirikan oleh Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta pada tahun 2018.

Kami berbincang mengenai kurikulum dan pendidikan pondoknya yang ramah dengan perkembangan zaman dalam hal bahasa misalnya, santri Pesantren Bumi Cendekia dididik untuk menguasai dua bahasa asing sekaligus, Arab dan Inggris.

“Bumi Cendekia tu sering ngundang bule-bule, untuk menjadi pembicara di pondok. Biar santri-santri situ terbiasa dengerin bahasa Inggris,” ujarnya.

Ia menyebut sekaligus bercerita tentang salah satu dari sembilan nilai pondok yang sekaligus menjadi karakter santri Pesantren Bumi Cendekia: Global Citizen.

Global citizens maksudnya menjadi santri yang mendunia, terbuka dan peduli pada isu-isu global, enggak diam di tempat gitu,” dia menambahkan.

Melihat representasi Islam hari ini, umat Muslim seolah terlihat kepayahan dalam bersaing dengan perkembangan zaman. Fundamentalisme masih menjadi corak dominan dalam tradisi Islam bahkan di zaman modern. Biasanya, yang dibenturkan adalah gagasan modernitas dengan tradisi-tradisi Islam klasik yang tekstual.

Lalu, bagaimana kita mustinya bersikap?

“Menjadi moderat. Bersikap tengah-tengah. Bisa juga moderat itu kita artikean sebagai titik seimbang. Prinpisnya, muslim yang moderat adalah dia yang menampilkan sikap keagamaan-Islam-yang wasatiyah, tengah”, gak kaku, gak liberal, tapi juga ndak ekstrim-berlebihan. Menjadi muslim yang ramah, menghargai kemajemukan, kebudaayan/kearifan lokal, dan inklusif terhadap perbedaan,” tutur Sabar sambil menghela nafas.

Ia melanjutkan, “kita terbuka dengan orang-orang asing, bahkan mengundangnya untuk berbagi pengalaman dan mengajari bahasa asing, tanpa memandang agamanya, media sosial Bumi Cendekia pun kerap memberikan ucapan atas perayaan agama lain, kami  pondok full musik, santri boleh bawa perangkat elektronik, meski konsumsinya tetap kita batasi. HP dan laptop juga, kami turut peduli dengan isu global warming. Makanya kami ada program pengelolaan sampah internal, dan lain sebagainya.”

Sabar menjelaskan dengan antusias sembari memperlihatkan kepada saya postingan “Selamat Hari Raya Nyepi dan Imlek” di akun Instagram Bumi Cendekia.

Terpisah, salah satu ketua pengurus Yayasan Bumi Aswaja, Muhammad Iqbal Ahnaf menyebut jika dirinya menjadi pihak yang bertanggungjawab terkait interaksi para santri dengan tamu internasional. Iqbal Ahnaf adalah dosen yang berkonsentrasi pada “Agama, Kekerasan, dan Bina Damai”. Dia juga menjadi tenaga pengajar di Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

“Penting sekali menampilkan praktik keragaman agama dan budaya di Indonesia. Kebiasaan berinteraksi dengan keragaman itu dapat memunculkan sikap empati dan respect terhadap orang yang berbeda dengan diri kita, baik secara agama atau budaya,” terang Ahnaf.

Sebagai contoh, Bumi Cendekia pernah melibatkan Jin Fujimoto dari Jepang dan Harriet Crisp dari Inggris sebagai tamu untuk berbicara mengenai kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup. Terutama lingkungan, Sabar bahkan menyebutkan bahwa  itu termasuk salah satu karakter yang diunggulkan di Bumi Cendekia, manusia yang mempunyai hubungan baik dengan alam dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

“Seterbukaan Pesantren terhadap dunia luar membuktikan bahwa kita berusaha untuk berpikiran terbuka. Kita mengundang orang tanpa memandang dia beragama apa, atau dia dari suku mana. Kita mengundang siapapun yang memang kompeten dan kredibel dalam bidangnya.” Sabar kembali berseloroh.

“Kami juga pernah mengadakan festival musik daerah virtual bertajuk “Musical Distancing” live streaming via Facebook,” lanjutnya.

“Untuk apa acara itu diadakan? Kan masih pandemi?” tanya saya penasaran.

“Kami bermaksud agar anak-anak di sini aware dengan tradisi dan budaya lokal. Sekalipun pandemi, tetap kita adakan, toh tetap saja bisa berjalan meskipun virtual,” tukasnya.

Sering kali, faktor paling menentukan atas kemunduran Islam adalah gagalnya sebagian umat Muslim dalam menegosiasikan Islam dengan tradisi-tradisi lokal. Mereka kerap kali menolak untuk berdiskusi terkait isu-isu global terhadap pihak di luar Islam.

Realitas tersebut diamini oleh Iqbal Ahnaf. Karenanya, ia menegaskan bahwa Bumi Cendekia hadir sebagai embrio Islam progresif yang open-minded dan tidak eksklusif.

Tak lama berselang, Sabar membuka smartphone-nya, membuka aplikasi Instagram dan menunjukkan sesuatu kepada saya.

“Ini adalah unggahan Instagram BC tentang “Selamat Hari Jumat Agung” bagi umat Kristen dan “Selamat Hari Toleransi Internasional”.

Ia menunjukkan bagaimana Islam toleran dididik sejak anak-anak. Murid-murid SMP Bumi Cendekia memang tidak bisa dibilang dalam usia dini. Namun, Sabar menegaskan bahwa pemahaman terhadap toleransi beragama seyogianya diajarkan dalam setiap fase usia.

“Kalau dibilang BC mendidik toleransi murid sejak usia dini ya enggak, kita membiasakan hal itu pas mereka sudah beranjak remaja, toh apa salahnya?” tegasnya.

Dalam hal ini, cara pandang dan praktik keberagamaan yang moderat dan toleran menjadi penting untuk diimplementasikan bagi anak muda Indonesia. Urgensi  ini didasari oleh sedikitnya tiga alasan.

Pertama; secara jumlah mereka sangat dominan, 53% penduduk Indonesia adalah Gen Z dan Milenial. Kedua; konsumsi internet sangat tinggi, lebih dari 80% anak muda Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Ketiga; Anak muda paling rawan terpapar paham radikal, survei BNPT 2020 mengkonfirmasi temuan tersebut.

Yang menarik adalah bagaimana segala koneksi dan agenda internasional tersebut tidak serta merta menjauhkan santri-santri Bumi Cendekia dari kajian turots dan kitab-kitab dalam tradisi Islam. Dan, di sinilah kemudian moderasi beragama di wilayah produksi pengetahuan itu terdeteksi.

Lalu gimana dengan pendidikan Islam sebagai basis kelimuwan utama di Pesantren?

“Santri-santri di BC tetap melakukan kegiatan mengaji, baik kitab maupun al-Qur’an, setiap hari. Kegiatan-kegiatan sehari-hari seperti ngaji, sekolah, kegiatan seni memang campur antara putra dan putri. Begitu juga kegiatan hadrah’an dijadikan satu dalam satu komplek,” pungkasnya.

 

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama islami.coSuara Muhammadiyah, dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI.