Sekelompok Artis Hijrah di Indonesia pada masa kampanye Pemilu 2019 memanas mulai menunjukan referensi politik mereka secara terang-terangan dengan pose simbolik mendukung salah satu calon presiden (Tribunnews, 27/1/2019; Detik.com, 13/4/2019). Dukungan politik tersebut sebagian besar merupakan ekspresi kesalehan daripada pilihan rasional dalam kontestasi politik. Ekspresi kesalehan ini dalam proses demokrasi dikenal sebagai politik identitas dengan maksud agar mendukung kebenaran religius (Gutmann, 2009:154-162). Salah satu identitas yang dimaksud adalah kecenderungan para artis hijrah tersebut untuk menunjukan kesalehan melalui budaya konsumsi dan identitas politik.

Ariel Heryanto menyebutnya sebagai tahap ketiga ‘Islamisasi’ yang meliputi budaya konsumsi, gaya hidup, identitas politik, budaya pop, multimedia dan postmodernisme (Jawa Pos, 16/4/1996). Menurutnya, popularitas film Catatan si Boy hingga film ayat-ayat Cinta merupakan budaya konsumsi fase ketiga Islamisasi. Yakni bagaimana ‘Islam’ dipandang sebagai ‘marketplace’ transaksi budaya dan komoditas konsumsi itu sendiri.

Tidak semua perubahan para publik figur yang memakai atribut identitas ‘Islam’ sekedar permintaan pasar. Sebagaimana pengakuan para artis tersebut, tindakan mereka adalah upaya kembali kepada agama ‘Islam sesungguhnya’. Bahwa kemudian selama itu cara hidup mereka begitu salah sehingga jalan yang mereka pilih sekarang (setelah hijrah) adalah jalan yang benar. Sangat wajar bila kemudian ditemukan seorang artis (Irwansyah) menolak beberapa adegan yang tidak ‘Islami’ dan tidak ingin menerima peran yang melanggar ‘Syariat Islam’ (liputan6.com, 20/5/2019).

Perkataan ‘Syariat Islam’ juga menghadirkan perselisihan pandangan di antara sesama muslim. Pada titik paling ekstrim, seorang artis Hijrah (Tengku Wisnu) pernah menyebut salah satu tradisi Islam di Indonesia yang sudah lumrah seperti tahlilan sebagai sesuatu yang dilarang Islam dalam acara Transtv Beriman (2/9/2015).

Perubahan identitas para artis yang bisa dikenali ciri-cirinya untuk menunjukan bahwa ‘dirinya’ kini lebih dekat dengan nilai-nilai agama (Islam) belakangan disebut fenomena artis hijrah. Bukan kebetulan disaat yang sama para artis tersebut mulai merambah pasar ‘Islam’ seperti menjual produk peralatan ibadah dan atribut lainnya yang menonjolkan identitas keislaman seorang Individu.

Penelitian awal yang dilakukan Muhamad Ibtissam Han tentang kelompok Hijrah (Pemuda Hijrah dan Pemuda Hidayah) memberikan pemahaman relasional kelompok Hijrah antara gerakan Islamis dan subkultur anak muda (Han, 2018). Kemudian penelitian dengan subjek yang sama (Pemuda Hijrah) menunjukan motif internal personal hijrah (Yusria, 2018). Namun kedua penelitian tersebut tidak memberikan gambaran utuh tentang jaringan sosial artis hijrah dan hubungannya dengan beberapa agenda politik Islam.

Kemudian sebagai gambaran lebih luas, Noorhaidi Hasan (2016) memberikan landasan bagaimana kemunculan kelas menengah di kota menengah telah melakukan komodifikasi agama (Klinken & Berenschot, 2016: 230-6). Hal ini (komodifikasi) diperkuat dengan penelitian Afina Amna dengan menunjukan relasi bisnis para artis Hijrah (Amna, 2019). Selain komodifikasi, Fajriani & Sugandi menyebut bahwa prilaku Artis hijrah sebagai hijrah Islami Millennials. Namun penelitian ini memiliki bias moral dengan menyebut bahwa individu-individu hijrah menuju kehidupan yang lebih baik (Fajriani & Sugandi, 2019:87).

Penelitian Muhamad Ibtissam Han tentang kelompok hijrah menyebut bahwa aspek yang belum dilakukan oleh penelitiannya yaitu mengenai jaringan politik hijrah dalam wacana Islam transnasional (Han, 2018:119). Motif politik ini dilacak oleh Hei Wai Weng yang memberikan gambaran awal mengenai jaringan politik Islamis dengan melakukan penelitian terhadap Felix Siauw dalam The Art of Dakwah. Penelitian tersebut berhasil menyingkap motif politik Islamis Felix Siauw dalam menormalkan radikalisme agama (Weng, 2018). Penelitian ini menjadi penting bagi penelitian artis hijrah karena Siauw pernah diundang untuk memberikan kajian kepada jaringan pengajian artis hijrah MuSaWaRah. Bukan kebetulan apabila Felix Siauw selalu hadir dalam acara Hijrah Festival yang diinisiasi para artis Hijrah sebagai bintang utama dalam festival tersebut.

Identitas politik yang menguat diantara para artis hijrah sepertinya dipengaruhi oleh sejauh mana hubungan mereka dengan beberapa para ustadz yang menjadi referensi kesalehan. Kuatnya relasi jaringan para Ustadz tersebut dengan beberapa agenda politik kelompok tertentu membuat para artis hijrah membangun sekumpulan jaringan sosial terbatas dan terkadang begitu luas untuk menjadi aktor-aktor ideologis aktor jaringan yang lebih kuat.

Jaringan ini bertali silang dengan komunitas artis Hijrah seperti MuSaWaRah, simpul jaringan Terang Jakarta, Pemuda Hijrah (Shift), Sahabat Hijrah, Teman Hijrah, Yuk ngaji sehingga bertemu pada jaringan yang lebih luas dalam acara Hijrah Festival. Pemetaan melalui kelompok sosial sangat sulit melihat hubungan antara simpul jaringan artis hijrah, komunitas yang menghubungkan mereka, pengaruh para ustadz yang menjadi referensi kesalehannya dan agenda politik identitas yang dibentuk.

Bruno Latour menyebut tidak ada kelompok (sosial), hanya ada formasi kelompok. Ia keberatan dengan kebiasaan ilmuwan sosial menggabungkan individu sebagai kelompok sosial. Menurutnya hubungan antara kelompok sosial adalah proses yang sedang dan terus berlangsung. Proses ini terdiri dari ikatan yang tidak pasti, rapuh, kontroversial dan terus berubah. Latour menawarkan Actor Network Theory (ANT) agar setiap aktor dengan mudah dilacak keberadaannya tanpa batasan-batasan kelompok sosial. ANT mengambil jalan sederhana dengan cara mengikuti aktor sosial itu sendiri sehingga para peneliti dengan mudah melacak jejak aktivitas mereka dalam membentuk dan membongkar kelompok sosial.

ANT mempermudah penjelasan mengapa beberapa artis hijrah terlibat dalam lebih dari satu komunitas dan bagaimana antara simpul jaringan sosial tersebut beberapa aktor jaringan memiliki pengaruh lebih kuat (Aktan) dari lainnya (Latour, 2015: 27-8). Tentu menarik untuk dikaji bagaimana pemicu dan proses, aktor-jaringan yang berperan terhadap hijrahnya para artis tersebut. Sehingga bermuara pada referensi politik mereka yang dengan demikian secara politik-ekonomi memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk wajah Islam di Indonesia.  [bersambung]

Baca:

Peta Aktor & Jaringan Ustadz-Artis Hijrah di Indonesia (Bag-1)

Peta Aktor & Jaringan Ustadz-Artis Hijrah di Indonesia (Bag-2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here