Rais Amm terpilih Muktamar 34 di Lampung, K.H Miftakhul Akhyar mengajak bangsa Indonesia, khususnya warga NU untuk tidak menjadi kelompok yang latah dan tidak memiliki pendirian.

Dalam sambutannya tersebut, pengganti K.H Ma’ruf Amin dalam masa khidmah yang lalu ini mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi, riwayat Hudzaifah al-Yamani, Rasulullah SAW bersabda:

لا تكونوا إمعة تقولون إن أحسن الناس أحسنا وإن ظلموا ظلمنا ولكن وطنوا أنفسكم إن أحسن الناس أن تحسنوا وإن أساءوا فلا تظلموا

“Jangan jadi orang yang ikut-ikutan. Yaitu, mereka yang berkata, ‘Jika orang-orang berbuat baik, maka kami ikut berbuat baik kepada mereka, jika mereka dhalim, maka kami juga akan mendzalimi mereka’. Tetapi, jadilah diri kalian orang-orang yang berbuat baik jika manusia lain berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk, maka jangan berbuat dzalim.”

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud disebut bahwa hadis tersebut sahih.

Menurut Kiai Miftah, kata “imma’ah” dalam hadis tersebut adalah sebuah tarkib majzi (susunan dua kata dalam bahasa Arab yang digabung menjadi satu), berasal dari kata “in” dan “ma’ah”, yang arti perkatanya: “kalau bersamanya”. Maksudnya, menurut Kiai Miftah, Imma’ah adalah ikut-ikutan, latah, setiap ada orang melakukan sesuatu, asal diikuti, tidak memiliki pendirian.

Menurut Kiai Miftah, sudah saatnya bangsa Indonesia percaya diri dan memiliki pendirian yang kuat, bukan hanya ikut-ikutan, apalagi dalam mewujudkan cita-cita perdamaian Bangsa dan dunia. (AN)