Dakwah berati ajakan. Ajakan ada dua bentuk: ajakan kebaikan dan ajakan keburukan. Ajakan yang diajarkan dalam Islam adalah ajakan untuk kebaikan dan jalan Allah. Berdasarkan pengertian ini, dakwah tidak hanya tugas para ulama ataupun ustadz. Siapa saja punya kewajiban untuk mengajak pada kebaikan, paling tidak dimulai dari keluarga terdekat. Tapi perlu diingat, dalam dakwah harus ada ilmu dan strateginya. Kalau tidak ada ilmu dan strategi, objek dakwah bisa menjauh dan tidak tertarik dengan pesan yang disampaikan.

Dalam Islam, dakwah tidak mesti di masjid. Dakwah bisa di mana saja. Metodenya pun sangat beragam. Tidak mesti formal seperti pengajian pada umumnya. Dakwah juga tidak melulu dengan cara ceramah. Dakwah juga bisa melalui perbuatan. Bahkan dakwah dengan perbuatan bisa jadi lebih efektif ketimbang ceramah. Media dakwah pun sangat fleksibel. Dakwah bisa melalui film, musik, lukisan, gambar, dan lain-lain.

Prof. Quraish Shihab mengatakan, “Jangan pernah beranggapan bahwa berdakwah itu harus pakai al-Qur’an dan hadis. Itu Sayyid Quthub menulis begitu, bukan saya punya pendapat. Berdakwah bisa dengan musik, berdakwah bisa dengan menggambar, bisa dengan melukis. Alangkah banyaknya gambar dan lukisan yang mengunggah hati kita. Alangkah banyaknya nyanyian yang kita dengar mempengaruhi kita”.

Apa yang disampaikan Prof. Quraish shihab ini menunjukkan keluwesan dakwah Islam. Rasulullah sendiri tidak menggunakan satu metode dakwah. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub mencatat ada sekitar sembilan metode yang digunakan Rasulullah. Di antaranya ada metode surat-menyurat, diskusi, mengutus utusan, mengajar di masjid, dan lain-lain. Pada masa sekarang, dengan perkembangan media semakin pesat, metode dakwah pun semakin beragam. Dakwah bisa melalui radio, televisi, dan media sosial.

Dakwah pada masa sekarang tidak harus dengan menjadi seorang Ustadz. Dakwah bisa dengan cara apa saja tanpa harus mengubah profesi kita. Seorang musisi bisa dakwah melalui musik yang baik, pelukis bisa dakwah dengan membuat lukisan dan gambar yang menyentuh orang untuk melakukan kebaikan, dan influencer media sosial juga bisa dakwah dengan menyuguhkan konten berkualitas dan tidak melanggar norma agama dan sosial.

Tapi perlu digarisbawahi, kalau dakwah dalam arti mengajar dan mengisi pengajian, tentu harus dibarengi dengan ilmu. Pendakwah mesti menguasai ilmu keislaman dasar supaya tidak meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Apalagi kalau ingin menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan hukum, kuasai dulu ilmu fikih, ushul fikih, ilmu tafsir, hadis, dan lain-lain. Kalau tidak mampu menguasai itu, bertanyalah kepada orang yang lebih alim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here