Beda pendapat itu biasa. Sekalipun dalam masalah agama. Karena dalam Islam sendiri, seperti jamak diketahui, ada ragam pendapat. Seluruh orang sepakat shalat itu wajib misalnya, tapi bagaimana cara pelaksanaannya, masing-masing ulama bisa beda-beda. Kode etik dalam Islam, selama masih dalam koridor furu’iyyah dan khilafiyyah, tak boleh saling menyalahkan, sebab masing-masing pendapat memiliki argumentasi.

Dari dulu perbedaan pendapat ini sudah ada dan banyak. Bagi pengkaji Islam ini bukan barang baru lagi. Ada banyak literatur yang menjelaskan ini dan menunjukkan fakta perbedaan ulama. Masalahnya sekarang, sebagian orang, kaget dengan adanya perbedaan itu. Mereka menolak perbedaan dan menganggap apa yang dipahaminya saja yang benar. Pendapat orang lain ditolak dan disalahkan. Mereka tidak mentolerir perbedaan pendapat. Bahkan, menurut mereka, Islam itu sempit, semakin sempit semakin benar. Padahal Islam itu sangat luas dan memudahkan.

Terkadang kita juga geram dengan kelompok yang suka menyalahkan ini. Ingin sesekali mengajak mereka berdiskusi tentang persoalan agama. Tapi masalahnya sebagian mereka menutup diri untuk terbuka dengan kelompok lain.

Ketika ditanya dalam pengajian Shihab & Shihab, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa memahami Islam secara sempit itu boleh-boleh saja selama pemahamannya benar. “Memahami Islam secara sempit kalau pemahamannya benar kita toleransi,” Tegas penulis Tafsir al-Misbah tersebut. Ada baiknya kelompok yang memahami Islam secara sempit ini diajak berdiskusi untuk mencari kebenaran. Tapi masalahnya, kata Prof. Quraish Shihab, orang yang ekstrim itu tidak mau diskusi. Mereka hanya mau kita didengar, tapi tidak mau mendengar.

“Biasanya orang yang ekstrim itu tidak mau diskusi. Dia hanya mau kita dengar, dia ngak mau dengar kita. Mari kita berdiskusi,” Tutur Prof. Quraish Shihab.

Karakter ini tentu berbeda dengan orang yang menganut paham Islam moderat atau wasathiyyah. Mereka sangat toleran dan terbuka dengan ragam pendapat. Mereka sangat senang diajak diskusi untuk sama-sama mencari kebenaran. Sementara orang yang tidak menganut paham toleransi, menurut Prof. Quraish Shihab, tidak akan mengubah pendapatnya. Suka atau tidak suka. Bahkan, mereka mempermasalahkan orang yang sebetulnya ada jalan untuk membenarkannya.

Mereka mengatakan ajaran Islam ini sudah baku. Rinciannya tidak perlu diubah-ubah. Apa yang diamalkan Nabi dan sahabat tinggal diikuti. Kalau ada yang berbeda dengan itu selalu dianggap salah. Memang kita harus merujuk Nabi dan sahabat, tapi jangan lupa bahwa Rasulullah juga mengizinkan umatnya untuk berijtihad dan menafsirkan agama agar sesuai dengan kehidupan manusia.

Berdiskusi adalah salah satu cara untuk mengenalkan Islam kepada khalayak luas, khususnya bagi orang yang memahami Islam secara sempit. Tapi Prof. Quraish Shihab mengingatkan, “Jangan berdiskusi dengan seseorang yang anda dapat kalahkah argumentasinya, tetapi anda tidak dapat mengalahkan kepala batunya.” Mengapa demikian? Kalau dipaksakan diskusi dengan mereka nanti malah berujung pada pertengkaran dan pertikaian.

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI