Dalam kajian Islam ada yang disebut dengan Maqashidul Syariah (tujuan syariat). Ada banyak literatur karya ulama klasik dan kontemporer yang mendiskusikan dan menjelaskan ini. Seluruh literatur itu ingin menunjukkan syariat memiliki tujuan. Tujuan syariat tidak hanya melulu untuk akhirat, tetapi juga untuk urusan dunia dan kemanusiaan.

Di antara tujuan syariat adalah menjaga agama (hifdzul din), nyawa (hifdzul nafs), harta (hifdzul mal), keturunan (hifdzul nasb), dan akal sehat (hifdzul ‘aqal). Hampir seluruh ibadah yang kita lakukan tidak terlepas dari lima prinsip dasar ini.

Sebab itu, Prof. Quraish Shihab mengatakan, “Keberagamaan itu di bawah kemanusiaan, kemanusiaan mendahului keberagamaan”. Pernyataan ini dilontarkan sebagai kritikan terhadap orang yang mempersulit sesuatu yang luas dalam agama. Akhirnya agama terasa berat dan sulit bagi sebagian orang. Padahal Islam itu mudah. Bahkan, Habib Ali al-Jufri menengaskan, agama tidak mungkin membunuh kemanusiaan kita. Karenanya, agama menyediakan saluran legal untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan manusia.

Bahkan, dalam beberapa kasus, agama cenderung mengalah demi kemanusiaan.  Hal ini bukan berati agama tidak penting atau mendahulukan hawa nafsu dibanding agama. Bukan seperti maksudnya. Kemanusiaan bagian dari ajaran agama, sehingga memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan termasuk ibadah.

Prof. Quraish Shihab mencontohkan, “Ada anjing kehausan, anda mau shalat hanya tersedia air untuk wudhu’, anda beri anjing atau wudhu’? Kemanusiaan itu hanya tidak tertuju pada manusia. Kemanusiaan menuntut anda untuk memberi dia minum. Karena kemanusiaan mendahului keberagamaan.”

“Mau haji, uangnya untuk haji cukup, tapi ada keluarga ada yang terlantar, mau haji atau bantu keluarga? Kemanusiaan mendahului keberagamaan. Terlalu banyak contoh-contoh. Kita selalu mengedepankan ini agama, ini wajib, dan ini sebagainya. Sehingga kita melupakan prinsip dan kemudahan dalam beragama,” Tegas Prof. Quraish Shihab.

Apa yang dikatakan Prof. Quraish ini sejalan dengan pandangan ulama terdahulu yang menegaskan af’al muta’addi adhal minal qashir (ibadah sosial lebih baik dari ibadah individual). Ibadah yang membantu orang lain, itu lebih baik didahulukan dibanding ibadah yang hanya untuk diri kita sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here