Quraish Shihab menekankan bahwa dalam Islam dianjurkan untuk membatasi pandangan kepada lawan jenis, bukan melarang untuk melihat mereka. Hal ini penting sebagai salah satu prasyarat sebelum melangsungkan jenjang yang lebih tinggi, yaitu pernikahan.

Hal ini karena beberapa orang mengira bahwa melihat lawan jenis adalah maksiat, sehingga ketika ada orang yang akan menikah, mereka tidak diperkenankan untuk bertemu dan bertatap muka.

Menurut Quraish Shihab, cinta itu memang berawal dari pandangan, walaupun tidak mesti itu saja. Ada beberapa faktor lain yang bisa menjadikan sebuah pandangan itu menjadi cinta, atau malah menjadi syahwat. Namun bagi penulis tafsir al-Misbah ini, tetap saja orang yang akan menikah harus melihat pasangannya. Termasuk harus ketemu dan ngobrol berdua, namun tetap harus diawasi dan didampingi.

“Jangan beli kucing dalam karung,” tutur Quraish Shihab dalam salah satu talkshow dengan putrinya, Najwa Shihab.

Hal ini dijelaskan Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Jawabannya Adalah CintaMenurut mantan menteri agama ini, Nabi SAW saja menganjurkan sahabat nabi yang bernama al-Mughirah bin Syu’bah untuk melihat calon pasangannya sebelum menikah, karena itu dapat menyingkirkan suatu penyebab yang dapat membuat gagalnya sebuah hubungan.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dijelaskan,

ذالك فإنه أحرى أن يؤذم بينكما

“Hal itu dapat membantu untuk melanggengkan hubungan kamu berdua.” (H.R at-Tirmidzi)

Namun, lagi-lagi, bagi Quraish Shihab, tetap harus menjalankan tuntunan Islam dalam hal membatasi pandangan. Islam tidak melarang kita untuk memandang lawan jenis, yang dianjurkan adalah membatasi pandangan. Dalam hal ini, Quraish Shihab mengutip Q.S an-Nur: 30-31.

Pandangan yang dibolehkan dalam Islam bukanlah pandangan yang bebas tanpa kendali dan berdua-duaan. Namun demikian, bagi guru besar tafsir ini, tidak harus melihat secara sembunyi-sembunyi dari kejauhan atau hanya melihat dari kejauhan.

Quraish Shihab juga berargumen dari kisah putri Nabi Syuaib yang diminta ayahnya untuk mengundang seorang laki-laki (Nabi Musa) yang telah membantunya untuk menimba air untuk datang ke rumahnya. Hal ini menjadi dalil bahwa seorang perempuan boleh berpandangan dan bercakap-cakap dengan seorang pria, yang tentunya dalam batasan tertentu dan tidak terlalu bebas.  (AN)

 

Penjelasan lebih lengkap terkait hal ini bisa dibaca di buku “Jawabannya Adalah Cinta” karya Quraish Shihab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here